24 Februari 2009

KETIKA SEMUA TAK TERJADI


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh.

Salam budaya salam sastra.

Selamat malam kepada para hadirin yang duduk maupun yang sedang berdiri di hadapan saya. Kepada kawan-kawan yang sudah rela datang di tempat yang gelap ini. Sebelumnya saya mohon maaf jika sambutan dari kawan-kawan panitia terhadap kawan-kawan sekalian kurang begitu menyenangkan. Dari mulai masuk pintu gerbang kawan-kawan sudah dikerjain dahulu untuk menyusuri jalan yang gelap. Lalu ketika hendak masuk ke tempat ini, kawan-kawan cegat untuk mengisi kotak dengan uang kawan-kawan, lalu dicegat lagi untuk mematikan handphone. Yah memang, kawan-kawan panitian pada malam ini memang betul-betul kurang kerjaan, ya mau bagaimana lagi, begitulah kerjanay panitia, merepotkan saja.

Sebenarnya panitia ingin acara pada malam ini berjalan dengan tentram, aman, dan tertib. Tidak seperti pertunjukkan-pertunjukkan teater di tempat lain. Betul kan yang saya katakan? Bagaimana tidak tertib ketika pertunjukkan sedang panas-panasnya tiba-tiba tedengan suara gaduh dan tepuk tangan. Bagaimana tidak tentram, ketika pertunjukkan sedang hot-hotnya tiba-tiba terdengar suara “titit-titit” dari arah penonton, atau bermacam bebunyian yang tidak termasuk dalam konsep sutradara.

Bagaimana tidak aman, ketika pertunjukkan sedang dalam pucak-puncaknya tiba-tiba salah satu penonton ada yang meninggal karena tertusuk benda tajam. Ngeri to?
Ya, mematikan alat komunikasi, tidak menimbulkan suara-suara aneh, tepuk tangan hanya di awal dan di akhir pertunjukkan, tidak boleh mengambil gambar dengan blitz, dan dilarang merokok memang telah menjadi peraturan yang tak tertulis dalam pertunjukkan teater dimanapun juga, siapapun juga dan kapanpun juga. Tapi yang namanya peraturan tetaplah peraturan. Peraturan dibuat berfungsi sebagai untuk dilanggar. Iya to? Lha wong buktinya sudah banyak kok saya tidak mungkin menyebutnya satu persatu siapa saja pelakunya. Toh memang tidak ada sanksinya kan? Paling-paling Cuma dikata-katain yang nylekit dari penonton yang lain. Sing diomong gobloklah, payah lah, ndeso lah dan sebagainya dan sebagainya. Tidak ada sanksi fisik, denda maupun kurungan. Lha wong peraturan yang langsung turun dari tuhan saja sudah banyak dilanggar, apalagi peraturan yang dibuat manusia.

Nah, pada malam hari ini silahkan kawan-kawan melangar peraturan tersebut. Saya tidak melarangnya. Yang mau sms-an atau telpon-telponan silahkan, yang mau ngobrol silahkan, yang mau jeprat-jepret mengabadikan gambar saya monggoh, yang mau ngrokok boleh dengan catatan saya juga mendapat jatah. Atau yang datang cuma hanya ingin nunut pacaran is up to you. Nanti jika dimarahin oleh panitia biar saya yang menanggung semuanya. Setuju?. pokoknya hanya pada pertunjukkan malam ini yang membebaskan dari segala macam peraturan. Jadi gunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya. Janganlah kalian menjadi kaum yang merugi. Jadi silahkan, monggoh, is up to you, please, sak karepmu, sok lah. Saya tidak melarang.

Hal ini perlu saya tegaskan kenapa saya mempersilahkan kawan-kawan untuk melakukan hal itu semua. Sebab….. sebab…. Sebab…. Malam ini……………………..di tempat ini…………… di panggung ini ……………tidak jadi ada pementasan. Ya. Tidak ada pementasan apalagi monolog yang seperti tertera di undangan, pamphlet atau di media massa. Ya. Malam ini, orang yang namanya tertera di undangan, pamphlet dan media massa tidak jadi mengadakan monolog.

Kawan-kawan tahu siapa orang itu? Orang yang telah mengecewakan kawan-kawan? Orang yang sialan itu? Orang yang bajingan itu? Orang yang kurang ajar itu? Orang yang kaya asu itu? Namanya Ryan Rachman. Kalian tahu siapa Ryan Rachman itu. Orang yang biasanya di panggil POLPOT itu? Orang yang sok penyair sok sastrawan, sok teaterawan, kakean omong dan sebagainya-sebagainya. Akan saya beritahu. Orang itu adalah orang yang sekarang sedang berdiri di sini, di hadapan kawan-kawan. Ya, sayalah orang itu.

Ya sayalah orangnya.

Memang, mengadakan pentas monolog adalah impian saya saya sebelum saya meninggalkan kampus ini. Ya paling tidak sekali saja. Sebenarnya saya merasa iri melihat kawan-kawan dari teater lain bermonolog ria. Saya iri. Benar-benar iri. Ketika kawan-kawan yan lain berani pentas di atas panggung sendirian tanpa kawan tanpa siapa, lalu setelah selesai saya biasanya komentar tentang ini itu yang biasanya panjang sekali. Saya berfikir, apakah saya berani tampil di atas panggung sendirian dengan kemampuan yang saya miliki, lalu setelah saya selaesai akan banyak orang yang memberi tepuk tangan bertanya, mengkritik, mencaci, mengatai saya seperti ini itu dan lain-lain dan lain-lain. Apakah saya mampu? Itulah yang menjadi pertanyaan yang selalu datang di otak saya setiap saat

Ya, setelah saya berpikir panjang selama beberapa bulan akhirnya saya menetapkan hati untuk berani pentas monolog, pentas sendirian di atas panggung. Lalu saya bilang kepada kawan-kawan TEKAS dalam sebuah rapat tentang niatan saya itu. Dan kawan-kawan antusias menyambut niatan saya itu. Mereka bersedia membantu apa saja yang saya perlukan. Bahkan sampai hal-hal yang rumit sekalipun. Saya katakan kepada kawan-kawan TEKSAS bahwa saya siap untuk pentas pada akhir bulan Juni tahun ini. Setelah melalui berbagai macam pertimbangan disepakati pada hari ini tanggal 13 malam Jumat.
Saya pun memulai aksi saya. Saya mulai mencari naskah-naskah monolog. Dan setelah mendapatdari berbagai macam tipe dan gaya monolog, akhirnya saya memilih naskah DOR karya Putu Wijaya dengan kawan Braja sebagai sutradara. Saya benar-benar mendalami naskah itu. Kapan naskah itu dibuat, settingnya bagaimana, isu apa yang terjadi pada waktu itu, apa filosofi naskah itu dan sebagainya dan sebagainya. Pokoknya komplit.
Saya latihan setiap hari dengan intens dan sering. Dimana tempat dan dimana waktu, saya latihan. Tidak peduli siang, malam, atau pagi. Di kontrakkan, di kampus, di rumah, di kamar mandi, di bis antar kota antar propinsi, saya tetap latihan. Dari hari ke hari latihan saya mengalami peningkatan yang cukup signifikan, begitulah kata sutradara, saya tidak menyombongkan diri lho, itu kata sutradara. Benar kan mas Braja? Dan tak terasa hari H semakin dekat. Kawan-kawan produksi telah menyiapkan segala sesuatu yang saya perlukan. Dari hal-hal yang sepele hingga hal-hal yang rumit. Mereka bekerjatanpa mengenal lelah. Saya salut dengan mereka. Cara kerja mereka pelu saya acungi jempol. Dari mengurus publikasi, undangan, peminjaman alat, menyiapkan setting yang rumit, lampu yang warna-warni, musik yang ngejelimet, dan lain-lain. Semua nyaris sempurna. Dan saya senang sekali bekerja dengan mereka.
Hari yang ditungu-tunggu sudah di depan mata. Publikasi sudah disebar ke seluruh antero Purwokerto dari tengah kota hingga pelosok desa. Segala persiapan sudah matang. Tetapi perasaan ragu dan takut malah muncul dari dalam diri saya. Apakah saya benar-benar sudah siap untuk berdiri sendiri di atas panggung. Apakah saya sudah siap untuk di kritik sana-sini oleh para penonton. Apakah saya sudah siap dengan itu semua. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul di benak saya setiap saat, apalagi saat saya melihat panggung. Mereka datang tak mengenal waktu, bahkan sampai dalam mimpi mereka datang dengan seenaknya. Seolah-oleh mereka hendak memakanku hidup-hidup.

Untuk sementara saya masih bisa menghadapinya. Memang saya tidak buru-buru mengatakan permasalahan saya kepada sutradara dan kawan-kawan yang lain. Sebab saya tidak ingin membuat mereka bingung. Saya depresi berat waktu itu. Semakin hari semakin tak kuat saya menahannya. Hingga hari yang ditunggu-tunggu telah di hadapan mata. Lusa, setelah latihan, saya mengumpulkan kawan-kawan dan mengatakan masalah saya kepada mereka. Saya meminta saran kepada mereka bagaimana untuk menghadapi masalah saya tersebut. Untungnya saya memiliki kawan-kawan yang peduli. Mereka memberikan banyak sekali saran yang membangun harapan saya. Sesampai di kontrakan saya memikirkan kembali saran-saran tersebut. Saya dihadapkan dua pilihan antara melanjutkan pementasan atau tidak. Saya berpikir dalam-dalam. Bagai buah simalakama. Jika saya tidak pentas maka sia-sia latihan saya selama ini, sia-sia pengorbanan kawan-kawan yang telah membanting tulang demi lancarnya pementasan saya. Tetapi ketakutan-ketakutan itu selalu menyerangku membabi buta dan memaksaku untuk tidak melanjutkan pementasan. Hingga tadi sore saya belum bias memutuskan jalan mana yang akan saya ambil.

Akhirnya tadi malam sebelum latihan saya mengumpulkan kawan-kawan dan membicarakan kembali permasalahan saya. Kawan-kawan masih setia untuk memberi semangat kepada saya. Namun akhirnya saya angkat bicara dan memutuskan untuk memilih jalan yang kedua. Saya tidak jadi pentas. Dan kali ini saya mantap dengan keputusan saya tersebut. Semua terdiam. Tidak ada suara waktu itu. Sunyi. Saya tidak berani memandang wajah kawan-kawan. Saya tidak tahu bagaimana raut ekspresi mereka saat mendengar keputusan saya itu. Setelah beberapa saat, baru saya beranikan untuk memandang mereka. Tampak wajah tak suka dari wajah mereka. Dan akhirnya meraka angkat bicara satu persatu. Ada yang menyesalkan keputusanku tadi, ada yang kecewa, ada yang mencaci-maki. Bahkan kawan satu rumah saya, Braja, sang sutradara marah-marah dengan kata-kata yang menyakitkan hati, tidak hanya itu, dia sudah siap dengan kepalan tangan dan hendak memukul saya.

Memang saya sadari, keputusan itu telah mengecewakan kawan-kawan TEKSAS semua, saya juga menyadari akan mengecewakan kawan-kawan yang hendak menyaksikan saya nantinya. Tidak hanya itu, saya juga telah membuat nama buruk dalam perjalanan sejarah teater TEKSAS yang saya rintis bersama-kawan-kawan dulu hingga sekarang. Teater yang sudah saya lekatkan pada darah dan daging saya. Tapi mau bagaimana lagi? Ketiak saya dihadapkan dengan pilihan yang sulit, saya pun akhirnya harus memilih. Dan pilihan itu pun sudah melalui berbagai macam pertimbangan yang tidak dapat saya sebutkan. Dan saya siap dengan resiko yang akan saya ambil nantinya. Tak apalah ketika kawan-kawan menganggap saya sebagai seorang pengecut, seorang penakut, seorang bajingan, seorang penghianat. Saya sudah siap dengan itu semua. Karena memang itulah saya. Saya seorang penakut, seorang pengecut, seorang bajingan, seorang penghianat. Ya ! saya memang seperti itu. Jika sudah seperti itu kalian mau apa? Mau memukul saya hingga babak belur! Pukullah sesuka kalian. Kalau perlu bunh saja saya.!

Maaf kawan-kawan, saya jadi terbawa emosi. Sekali lagi saya minta maaf. Saya khilaf. Sebenarnya keperluan saya berdiri di sini adalah ingin meminta maaf kepada kawan-kawan yang sudah hadir pada malam ini yang merasa dikecewakan oleh saya. Juga kepada kawan-kawan TEKSAS. Saya minta maaf atas semuanya. Saya harap saya masih diterima di hati kalian. Terimakasih kepada semuanya atas waktunya untuk mendengarkan saya tadi. Jika anda merasa muak kepada saya, silahkan pulang saja dan tak usah memiliki keinginan untuk melihat saya lagi.

Sekali lagi saya minta maaf.

Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Salam budaya salam sastra!

0 komentar:

Posting Komentar