NGAPAK-TAINMENT, WAJAH BARU BAHASA BANYUMASAN



Ada resah dalam diri penulis novel dan budayawan asal Banyumas, Ahmad Tohari. Keresahan yang dialami beberapa tahun belakangan ini saat melihat keluarga muda di Purwokerto, Jawa Tengah, mulai enggan menggunakan dan mengajarkan bahasa Jawa dialek Banyumsan yang ngapak-ngapak.

Keresahan itu memang cukup beralasan mengingat saat ini, penggunaan bahasa Banyumasan kurang menemukan gregetnya. Para keluarga muda lebih senang mengajarkan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa mbadhek kepada anak-anaknya. Sebab, menurut mereka, menggunakan bahasa Banyumasan identik dengan bahasa pelawak atau babu yang terdengar kasar di telinga dan tidak sopan dalam pergaulan.

Ngapak-tainment

Dalam bukunya Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak, Budiono Herusatoto mengatakan bahwa bahasa ngapak adalah istilah bahasa Jawa Banyumasan yang dilangsir oleh para priyayi wetanan yang berbahasa Jawa mbandhek.

Penggunaan bahasa dialek ini meliputi wilayah Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Tegal, Brebes, Pemalang, bagian barat Kebumen, dan bagian timur dan pesisir Cirebon (Indramayu).

Berbeda dengan penggunaan bahasa Banyumas di masyarakat terutama di keluarga-keluarga muda, penggunaan bahasa Banyumas di dunia intertainment akhir-akhir lebih banyak terdengar di telinga kita.
Penggunaan bahasa ngapak telah merambah ke berbagai macam segi industri hiburan yang lebih kreatif seperti musik, siaran radio, teater dan film. Selain itu juga merambah ke dunia fashion dan seluler.

Di industri musik misalnya, muncul nama Sopsan dan Bije Patik sebagai group musik yang mengusung lokalitas bahasa Banyumasan dengan memadukan genre musik yang bermacam seperti melayu, arabian, oriental, latin, dangdut, reggae, hingga rock n roll. Di industri film, bahasa Banyumas tidak dapat dianggap sebelah mata dengan ikut sertanya film dokumenter ”Metu Getih” dalam European Film Festival 2007 dan PPIA Converence: The Voice of the Future Leader Victoria University 2008.

Lalu di dunia teater, sering dipertunjukkannya pementasan teater yang mengangkat warna lokal Banyumasan seperti oleh kelompok teater Teksas, Tubuh, dan Janur. Sedang di munculnya kaos oblong “Bawor” dan “Dablongan” di dunia fashion mengidentikan jati diri Banyumas seperti Yogyakarta dengan Dagadu-nya atau Bali dengan Joger-nya. Di dunia seluler pun bahasa ngapak mulai digunakan dalam pengoperasian handphone seperti ”busek” menggantikan ”delete”.

Dan yang paling fenomenal adalah munculnya acara siara radio bertajuk “Curahan Hati dan Humor” (Curanmor) di sebuah radio swasta di Cilacap. Acara tersebut telah menjadi menu wajib yang harus didengarkan oleh telinga masyarakat Cilacap dan sekitarnya. Bahkan rekaman acara tersebut sudah menjelajah ke berbagai kota hingga luar negeri dengan cara diunduh lewat internet.

Semiotika Perlawanan
Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang bersifat dinamis. Dia tidak statis. Dia selalu berkembang mengikuti keadaan sosial masyarakatnya. Demikian juga halnya dengan bahasa Banyumasan. Dia mengikuti perkembangan penggunanya sesuai dengan kreativitas pengguna tersebut.

Dalam bukunya Teori Semiotika, Umberto Eco menyebutkan bahwa tanda berada diantara beberapa peristiwa, daya cipta sebuah tanda yang dimungkinkan oleh kode-kode menghendaki peristiwa baru tersebut bisa dinamai atau digambarkan. (2009: 237).

Munculnya fenomena ngapak-tainment merupakan sebuah tanda perlawanan dari masyarakat Banyumas terhadap tafsir budaya yang dahulu di bawah keraton yang menjajah bahasa Banyumas sebagai bahasa kelas dua hingga bahasa Banyumas memiliki posisi yang setara dengan bahasa yang diusung keraton. Perlawanan tersebut ditandai dengan munculnya bentuk kreativitas masyarakat Banyumas yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang cablaka dalam wajah dan warna baru.
Selain itu, lahirnya wajah baru bahasa ngapak merupakan bagian dari proses pencarian kembali jati dri masyarakat yang mulai kehilangan identitasny terutama bagi golongan muda.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa lahirnya ngapak-tainment berkaitan erat dengan motif ekonomi. Sebagian besar, bentuk dari kreativitas tersebut merupakan bagian dari strategi dalam memasuki budaya massa. Akan tetapi hal itu tidaklah berarti bahwa budaya Banyumas terancam oleh komersialisasi. Justru strategi yang diterapkan tersebut lebih menguntungkan bagi kelestarian kebudayaan Banyumas itu sendiri. Budaya Banyumas akan lebih mudah diterima oleh masyarakat karena itulah sebenarnya jati diri mereka.

Dengan adanya fenomena seperti ini, budaya Banyumas semakin menemukan eksistensinya sebagai budaya yang adi luhung. Dan keresahan Ahmad Tohari dapat terobati.Klilan

Dimuat di Kompas Jateng, Selasa 8 Desember 2009



MENYOAL (KEMBALI) PENGADILAN PUISI PENYAIR BANYUMAS


Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis dengan judul Nasib Pengadilan Puisi Penyair Banyumas Kini yang dimuat di Kedaulatan Rakyat (25/2 /2007). Dalm tulisan itu, saya bercerita tentang pengadilan puisi yang diadakan oleh Ansor Basuki Balasikh di Cilacap dan Abdul Wachid B.S. di Purwokerto, tepatnya di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Purwokerto. Keduanya kegiatan itu hanya berlangsung dalam hitungan jari saja yang akhirnya hilang tak terjejak. Lalu, tulisan saya tersebut saya akhiri dengan sebuah pertanyaan yang cukup panjang yaitu: Akankah pengadilan puisi penyair Banyumas (PPPB) akan ada lagi dan akan bernasib sama seperti pendahulunya?

Maka dalam kesempatan kali ini, saya akan menjawab pertanyaan yang sempat saya lontarkan di atas.

Setelah PPPB terakhir di kampus STAIN Purwokerto yang bernasib cukup tragis, kurang lebih enam bulan berselang, beberapa kawan-kawan muda yang notabene mahasiswa Jurusan Ilmu Budaya (pada waktu itu masih bernama Program Sarjana Bahasa dan Sastra) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yaitu Braja Eka Bayu Permana, Rahayu Puji Utami, Ryan Rachman, dan Bayu Indra Kusuma membentuk sebuah komunitas di sebuah kontrakan di bilangan Jl. Gunung Slamet Gg. Flamboyan No. 11 Grendeng Purwokerto yang diberi nama Sanggar Sastra Wedang Kendhi (SSWK).

Pada pertama kali pengenalan keberadaannya, SSWK mengadakan acara yang mirip dengan pengadilan puisi. Acara tersebut diberi nama Ngobrol Bareng Sastra atau yang sering disebut Ngobras. Pada awalnya, acara Ngobras tersebut hampir sama dengan pengadilan puisi yang dilakukan oleh Persada Studi Klub (PSK) atau PPPB dahulu. Hanya yang membedakan adalah, dalam acara tersebut, yang diadili, dibahas, dan didiskusikan tidak hanya puisi saja. Akan tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra seperti cerpen, novel, kondisi dan perkembangan sastra di Banyumas pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, serta karya-karya para penulis Banyumas yang muncul di surat kabar.

Pada awalnya memang acara Ngobras hanya dilakukan oleh SSWK, akan tetapi pada perkembangannya, kawan-kawan SSWK mengajak beberapa komunitas sastra yang ada di Purwokerto untuk ikut bergabung dengan acara Ngobras tersebut. Ada dua komunitas yang ikut bergabung yaitu Komunitas Sastra Alam (SALAM) yang dipunggawai oleh Dwiana Jati Setiaji, Bayu Murdiyanto, Agus Salim, dan Tri Januri dan Komunitas Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP) yang digawangi oleh Muhammad Ayatullah, Aliv V Essesi, Agustav Triyono, Yudhistira Jati dan Ari Purnomo. Di luar komunitas itu juga tercatat dari perorangan yang tidak tergabung dalam komunitas yaitu Teguh Sucianto, Isno Wardoyo, Taufani, Lin Mursal, Vandi Romadhon dan Nofiq Amrullah.

Dan dari bergabungnya beberapa komunitas dan orang-orang tersebut di atas, tak pelak acara Nobras menjadi semakin berkembang dengan tema dan bahan perbicangan yang beragama. Selain sastra, mereka juga mendiskusikan berbagai permasalahan budaya terutama yang ada di Banyumas seperti teater, kesenian tradisonal dan sejenisnya.
Kembali ke awal, Ngobras dilakukan seminggu sekali pada malam Kamis dengan tempat berpindah-pindah. Dari markas SSWK, Salam, HTKP, hingga tempat-tempat lain seperti di kompleks stasiun kereta api, kampus, angkringan, hingga tepi jalan dan tepi sungai sambil disambi mancing hingga berlangsung dua tahun lebih.

Karena sebagian besar anggota Ngobras juga berprofesi sebagai pekerja teater, maka dalam perkembangannya, Ngobras berlangsung satu bulan sekali dengan alasan kesibukan masing-masing peserta seperti persiapan pementasan. Berubahnya waktu menghasilkan sebuah konsekuensi dari para anggotanya bahwa Ngobras yang berjalan satu bulan sekali haruslah benar-benar dijadikan sebagai kegiatan yang tidak hanya berguna bagi peserta Ngobras saja, akan tetapi juga berguna bagi khalayak yang notabene bukan anggota Ngobras. Akhirnya Ngobras pun berubah menjadi acara sastra yang bersifat lebih besar.

Beberapa waktu lalu, Ngobras menghadirkan cerpenis Dwicipta untuk berbicara seputar proses kreatif menulis cerpen kepada kawan-kawan anggota Ngobras dan diluar anggota Ngobras. Pada bulan ini, Ngobras mengadakan diskusi sastra dengan tema Sastra Yang Memasyarakat yang menghadirkan pembicara Badrudin Emce, Drs. Heri Pratiknyo MSc dan Taufani yang dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat, dari sastrawan, pekerja teater, seniman, guru, dosen, mahasiswa, hingga tukang becak dan pedagang asongan.
Dan kedepannya, Ngobras diharapkan sebagi salah satu barometer dalam kegiatan bersastra di Banyumas dan dijadikan sebagai tempat untuk berkumpulnya para sastrawan, tidak hanya dari Banyumas saja namun juga dari berbagai kota di luar Banyumas.

Selain SSWK dan bala kurawanya, kegiatan yang serupa dengan pengadilan puisi juga dilakukan oleh beberapa komunitas lain. Komunitas Sastra Bunga Pustaka (Bupus) yang dimotori oleh Restu Kurniawan, Yosi M. Giri, Asrul Tonirio, Yudhiono Aprianto mengadakan acara bedah karya terutama puisi dari setiap anggotanya yang jumlahnya lebih dari tiga puluh orang ini.

Sedangkan komunitas Beranda Peradaban yang digawangi oleh M. Aziz Rayid, Teguh Trianton, Arif Hidayat dan Ibrahim Barsilai Jami ini mengadakan bedah puisi setiap hari Kamis malam di sebuah warung angkringan. Karya-karya yang dibedah dan didiskusikan oleh komunitas ini adalah karya-karya para sastrawan Banyumas yang sudah lama malang melintang di jagad kesusastraan maupun mereka yang baru saja ikut menceburkan diri.

Kembali ke pertanyaan saya di atas, dari beberapa gambaran yang saya uraikan di atas dapat disimpulkan bahwa PPPB sudah hadir kembali dengan berbagai macam pengembangan dan format baru yang lebih menarik dan mengasyikan. Dan saya rasa bahwa kegiatan semacam itu tidak akan berakhir tragis seperti para pendahulunya sebab para pegiat sastra generasi baru di Banyumas sudah merasakan bahwa mereka membutuhkan dan dibutuhkan oleh Banyumas sebagai ujung tombak sastra Banyumas.

Klilan.

Tulisan ini dimuat di Radar Banyumas, Minggu, 12 Juli 2009



TIGA PULUH PLUS SATU SAJAK UNTUK RAHAYU PUJI UTAMI, PEREMPUAN YANG DIMATAKU SANGAT CANTIK SEKALI



I
aku kirim helai-helai degub jantungku lewat gemerisik ilalang bersama sinyal-sinyal rindu biru, peluk jingga, dan kecup ungu ke bilik hatimu sebagai lagu ninabobomu duhai dinda kecilku

II
lalu bayangku kan bawa kau terbang lewati laut salju yang hangat ke ujung malam
dan bila tlah di ujung langit bayangku kan melepasmu dan mambiarkan kau jatuh di kamarku tepat di dekapan hangatku

III
ku ikhlaskan bila nyamuk-nyamuk yang menusukkan ciuman-ciuman maut di tubuhku ini malam adalah kau

IV
bila ilalang berbisik lewat rinai angin tengah malam
kan kutitipkan rembulan dini hari ke ujung-ujung mimpimu malam ini
mataku seperti mata kucing yang lapar akan kisah jinggamu
ini malam langit dipenuhi dengan wajahmu
udara dipenuhi nafasmu yang beraroma rindu
merasuk dalam nadi dan mengendap dalam jiwaku
adalah aku yang selalu lapar dengan cinta dan kasihmu

V
dengan hormat, izinkan ku bertandang ke kotak mimpimu malam ini dan malam-malam berikutnya
atas terbukanya hatimu maka ku haturkan sejuta cinta

VI
aku tak bisa mencuri kata dalam almanak jarum jam yang berdenyut untuk ditukar dengan segenggam rindu yang merona di desah nafasmu yang terus memburu awan tengah malam dalam setiap ruang cintaku

VII
anyelirku
kutunggu wajahmu dalam layar handphoneku
lama kutunggu hinga rembulan mbeku
namun matamu tak kunjung menghampiri
membawa sekuntum pilu dalam kalbu yang biru merindu

VIII
Maka ku ziarahi warnamu yang semerbak mengiris bunga purnama

IX
Kau bercerita tentang laki-laki berkepala kijang yang berlari mengejar anak panah yang lepas dari gendewa Sri Rama
Laki-laki itu selalu datang dalam kepalamu mengutuk pintamu kepada Sri Rama tempo lalu:
Sepatu hak tinggi dari kulit kijang

X
Kau mendongak ke pintu langit
Menatapnya lekat
Matahari rompal separuh!

XI
Kugunting udara menjadi ribuan orakel
Kutempel perca demi perca di atas meja makan malam
Dan pada lembar terakhir menjelma wajahmu
Membayang di dalam semangkok sup yang asapnya mengebul

XII
Seperti ikan
Kau berenang di kolam darahku

XIII
Ting…ting…ting…
Suara gelang tanganmu mengingatkanku pada rumah
Rumah yang menyala
Terbakar asmara
Cinta!

XIV
Aku menelponmu pagi-pagi sekali sayang, tapi tak ada nafasmu merangsek ke telingaku
Hanya tut…tut…tut… di ujung telepon seperti kereta api yang keluar dari mulut anak-anak playgroup di depan kelas
Bernyanyi sambil menggoyang pantat tipisnya

XV
Aku menyukai malam
Karena saat matahari terlelap kau kan datang menjengukku
Membawa secangkir cofeemix hangat dan sayap serangga malam

XVI
Sungguh nikmat
Menikmati kedua bongkah pipimu
Empuk seperti roti yang dijual keliling perumahan setiap pagi menjelang siang

XVII
Aku seekor lintah!
Kusedot dan kusedot cintamu hingga yang paling penghabisan
Lalu kubiarkan kau mati di ujung bibirku

XVIII
Di dalam bokor tubuhku tumbuh anyelir tak terkira wanginya
Setiap pagi kau kan mendapat bunga cinta itu di depan pintu bertuliskan namaku di kelopaknya
Meski tanpa pita di tangkainya

XIX
Tubuhmu hijau menyegarkan
Aku senang sekali bermain sepakbola di atas tubuhmu
Bola yang menyala hijau pula
Tapi anggin bukanlah wasit yang baik
Meniup peluit sesuka hati
Hingga tiupan terakhir berbuah pinalti
Gol !!!
Bola kumasukkan ke dalaman jiwamu

XX
Di pintumu
Kunci rumah kugantungkan
Di jendelamu
Aku bersekutu dengan embun

XXI
Maka biarkan aku mencintaimu melebihi cintamu padaku
Meski kau tak pernah kuberitahu besar cintaku padamu
Lebih besar dari jejak bibirmu di pipiku yang kau lesapkan setiap waktu berseru

XXII
Maka dalam setiap puisi yang terjejak
Di setiap mimpi dan nyata
Adalah kau yang mengiang di pelupuk mata

XXIII
Akulah ombak yang selalu rindu memeluk pantaimu
Akulah buih yang selalu rindu merasup pasir desirmu
Tenggelamlah kau di lautku!

XXIV
Aku menjelma matari
Masuk ke kamarmu lewat jendela tanpa kacamu
Perlahan tangan-tangan guritaku memeluk tubuhmu mengalirkan kehangatan
Dan bibir jinggaku serta merta merangsek ke dalaman bibirmu
O puan bermahkota sayang

XXV
Hujan yang rebah di gerai rambutmu semalam
Membawa kado berikat pita merah jambu berisi gelayut rindu

XXVI
Lalalala
Menari ku di ujung rindu
Lalalala
Nunggu kasihku melukis kalbu

XXVII
Jika kau adalah bintang yang berpendar itu, akulah ribuan bintang yang bersemayam di sekelilingmu, maka hanya wajahkulah yang selalu kau tatap kemanapun matamu berkelana

XXVIII
Lalu mengapa wajahmu selalu mengalir dalam jiwaku, meski tlah kutampung dalam ribuan botol rindu dalam gelas-gelas rindu, dalam bejana-bejana rindu, dalam cawan-cawan rindu?

XXIX
Oh sungguh aku kan menjadi manusia yang diperbudak asmara

XXX
Bukankah pipi yang merona di ufuk mimpi malam tadi adalah milikmu?
Bukankah bibir yang menyimpul di pelataran mata pagi tadi adalah milikmu?
Ternyata aku tak dapat melepasmu meski se-crit saja, meski se-tul saja

XXX+I
Tak habis-habisnya puisi yang kutulis tentang kau
Setelah bait ini akan tumbuh gelombang kata-kata dari setiap jengkal langit di ujung rambut ikalmu
Bergemuruh mengalun dan berpendar menjadi buih