07 Februari 2009

ADALAH GELAP

Adalah gelap yang menjadi selimut istana kita. kita punya nada melengking nyaring. selalu berselancar di lekuk gelombang lidah. merunuti jejak-jejak purba. membungkus semua mimpi kita dalam gelembung-gelembung maya tak bermasa. lalu gelembung-gelembung mimpi kita yang kadang warna-warni berganti baju, berarak ke udara. dan kita akhirnya rela, meski hati mengubur kecewa, ketika jemari-jemari angin menangkap mereka seperti burung nasar memunguti bangkai-bangkai tentara perang salib di Jerusalem. membawanya terbang ke ujung langit, atau ke balik awan, atau di bibir gemintang, atau kemana entah. dan kita tak lagi bisa bermimpi

Adalah gelap yang menjadi selendang rumah kita. kita punya lentera yang pijar sedia kala. selalu menari di rongga mata kaca kita. meliukkan bunga-bunganya pada setiap bercak-bercak musim yang datang dan menghilang. mengemas setiap angan yang beraneka rupa dalam perahu-perahu kertas. lalu perahu-perahu kita tambatkan pada dermaga kecil di tepian sungai waktu di antara ceracau tangkai ilalang. dan akhirnya kita harus ikhlas meski jiwa meneguk anggur air mata, ketika irama-irama air menderu dari ujung gunung memutus jerat-jerat jangkar yang tertancap di dasar sungai. seperti manusia-manusia memanggul mayat Kristus dari bukit Golota, sungai manandu perahu-perahu kita menuruni bukit, ,melintasi muara dan membawa ke laut lepas. kita tak tahu garisan apa yang tertulis dari perahu kita. terus mengembangkan layar dan berlayar kemana entah, atau lambung bocor menghantam karang dan karam. dan kita tak lagi bisa berangan

Kini, adalah gelap yang bersemayam dalam mimpi-mimpi kita. adalah gelap yang meruang dalam angan-angan kita

Memang kita punya lidah yang menjulur setiap saat, seperti katak yang selalu mendongak menangkap pelangi di cakrawala. namun adalah gelap yang membungkam mulut kita. hingga betapapun kita berucap mantra, nada-nada kita tak akan pernah sampai di telinga langit

Memang kita punya mata yang menganga setiap kala, seperti ikan yang selalu tanpa mengerling di kotak purnama. namun adalah gelap yang menutup mata kita seperti Drupadi. hingga betapapun kita menerawang angkasa, larik-larik kita tidak akan pernah bertemu dengan mata angkasa

Memang kita punya telinga yang terpentang setiap detik, seperti apalah entah dimanalah entah. namun adalah gelap yang menyumbat telinga kita. kalaupun nada dapat menelusup ke liang telinga, hanya sumbang dan tak berarti bagi kita

Adalah gelap yang menjadi istana kita. kita lahir dalam gelap di sini. kita hidup dalam gelap di sini. dan kita pun mati dalam gelap di sini

Purwokerto, Agustus 2007

0 komentar:

Posting Komentar