05 Maret 2009

MEMBUAT SEJARAH BARU BAGI SASTRA BANYUMAS

Banyumas telah menjadi salah satu sejarah dalam peta kesusastraan di Indonesia. Para pelaku sastra terdahulu telah mencatatkan namanya dalam sejarah sastra Indonesia bahkan internasional.

Kita mengenal Ahmad Tohari, Dharmadi, Badrudin Emce, Haryono Soekiran, Ansar Basuki Balasikh, Nanang Anna Noor, Tirto Wanto, Edi Romadhon, Sutarno Jayadiatma, Herman Affandi, Mas’ut, Ahita, Bambang Set, dan beberapa lagi yang terlebih dahulu berkarya.
Dulu mungkin kita juga pernah mendengar nama komunitas-komunitas sastra seperti Sanggar Pelangi, Himpunan Penulis Muda (HPM), Lingkar Seni dan Budaya, dan Kancah Budaya Merdeka yang aktif berkegiatan membangun geliat kesusastraan di Banyumas.
Sayangnya dokumentasi-dokumentasi karya mereka dan dokumentasi kegiatan mereka, antara yang tertata dengan rapih dengan yang tidak terdokumentasi lebih banyak yang tidak terdokumentasi. Tidak ada seseorang atau pihak tertentu yang mendokumentasikannya. Komunitas-komunitas di atas juga hingga saat ini tidak lagi terdengar suaranya dan tidak diketahui apakah mereka menyimpan dokumentasi karya dan kegiatan kesusastraan yang mereka lakukan.

Saat ini, untuk mendokumentasikan karya-karya para sastrawan terdahulu diperlukan sesuatu yang ekstra. Tenaga yang ekstra, waktu yang ekstra, dan tentunya biaya yang ekstra pula. Selain itu juga diperlukan orang-orang yang benar-benar bersedia dan rela untuk melakukan hal tersebut seperti H B. Jassin, atau Korrie Layun Rampan. Sebab, jika kita mengingingkan pemerintah daerah atau dewan kesenian yang melakukan hal tersebut sudah pasti kedua intitusi tersebut tidaklah bersedia melakukannya. Jadi jika kita dalam hal ini kaum muda mencari peta sejarah kesusastraan Banyumas pada kedua intitusi tersebut di atas sudah pasti akan nihil.

Sejarah memberikan sesuatu yang berharga bagi kita. Dari sejarah, kita dapat mengambil pelajaran tentang keburukan, kejelekan, dan kegagalan di masa lampau. Dari sejarah, kita dapat mencari sesuatu yang baru agar hal tersebut tidak terulang lagi di masa kini dan masa yang akan datang. Apapun bidang dan bentuknya. Apakah itu politik, ekonomi, sosial, budaya dan tentunya sastra dalam konteks ini.

Lalu bagaimana jadinya jika kita buta akan sejarah? Atau sejarah itu memang tidak ada? Kita tidak tahu sejarah kesusastraan Banyumas, dimana dokumen-dokumen kesusastraan berupa karya-karya para sastrawan Banyumas terdahulu atau dokumentasi kegiatan berkesusastraan terdahulu tidak tersimpan rapi? Maksudnya, kita sebagai sastrawan muda memang benar-benar tidak tahu atau katakanlah samar-samar mengetahui sejarah kesusastraan Banyumas.

Apakah kita akan mengarang dan mengira-ngira bagaimana perkembangan kesusastraan di Banyumas pada waktu dulu?

Tentunya kita tidak bisa begitu. Kita tidak bisa seenaknya saja mengarang sejarah kesusastraan Banyumas dahulu. Kita tidak bisa membuat kepalsuan terhadap sejarah kesusastraan terdahulu. Entah itu nama atau karya-karya sastrawan terdahulu.
Cara yang paling tepat adalah bagaimana kita, kaum muda, membuat saat ini sebagai sejarah yang dapat dikenang kelak. Itulah “pekerjaan rumah” yang harus kita pikirkan dan kerjakan sebaik mungkin. Dan tentunya sejarah yang kita buat haruslah lebih bagus dari pada sejarah terdahulu yang kita samar mengetahui kepastiannya.

Perkembangan sastra di Banyumas saat ini sangatlah luar biasa. Jika beberapa waktu baru dikatakan bergeliat, saat ini sudah bisa dikatakan bergerak dan hampir berlari. Di berapa tempat muncul kantong-kantong sastra yang selalu aktif bergerak dan berkarya menghidupkan sastra. Berbagai macam kegiatan apresiasi sastra dilakukan seperti dikusi, peluncuran buku sastra, pembuatan buletin sastra, bedah buku, hingga berkolaborasi dengan displin seni lain seperti lukis, musik, tari, patung, instalasi, dan teater.

Kantong-kantong sastra atau –lebih enaknya disebut sebagai- komunitas tersebut digawangi oleh para sastrawan muda.Dan dari situlah lahir penulis-penulis (sastrawan)muda yang karyanya tidak kalah dahsyat dengan para sastrawan Banyumas terdahulu. Karya-karya mereka telah mampu menembus berbagai media masa baik lokal maupun nasional serta tergabung dalam antologi bersama yang sifatnya nasional.
Mereka antara lain; Restu Kurniawan, Arif Hidayat, Yosi M. Giri, dan M Aziz dari Bunga Pustaka, Dwiana Jati Setyaji, Bayu Murdiyanto, dan Agus Salim dari Sastra Alam (SALAM), Muhammad Mayat Ayatullah, Ali V. Essessi, dan Agus Triono dari Hujan Tak Kunjung Padam, Ryan Rachman, Braja Eka Bayu Permana, Teguh Sucianto, dan Shinta Ardhiyani Utami dari Sanggar Sastra Wedang Kendhi. Juga tidak ketinggalan Heru Kurniawan, Isno Wardoyo, Rahmi Isriana, Dita Zoraetha, dan Teguh Trianton.
Di tangan-tangan gelisah mereka dan kawan-kawan sastrawan muda yang lainlah lahir karya-karya yang monumental yang nantinya akan menjadi sejarah bagi sastra Banyumas dan bagian dari sejarah kesusastraan Indonesia. Sebab kita sebagai generasi muda tidak perlu lagi mengagung-agungkan generasi tua. Meminjam kata teman saya, “Lampaui generasi tua yang manja dan malas…”

Bukan munafik atau berprasangka yang tidak-tidak, sebab masa depan sastra Banyumas ya terletak pada siapa lagi selain diri kita sendiri selaku generasi muda dan bukan pada nama-nama generasi tua yang sudah lupa bagaimana berkarya. Ya mbok?

Klilan.


Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Februari 2009

0 komentar:

Posting Komentar