02 Juli 2009

TIGA PULUH PLUS SATU SAJAK UNTUK RAHAYU PUJI UTAMI, PEREMPUAN YANG DIMATAKU SANGAT CANTIK SEKALI


I
aku kirim helai-helai degub jantungku lewat gemerisik ilalang bersama sinyal-sinyal rindu biru, peluk jingga, dan kecup ungu ke bilik hatimu sebagai lagu ninabobomu duhai dinda kecilku

II
lalu bayangku kan bawa kau terbang lewati laut salju yang hangat ke ujung malam
dan bila tlah di ujung langit bayangku kan melepasmu dan mambiarkan kau jatuh di kamarku tepat di dekapan hangatku

III
ku ikhlaskan bila nyamuk-nyamuk yang menusukkan ciuman-ciuman maut di tubuhku ini malam adalah kau

IV
bila ilalang berbisik lewat rinai angin tengah malam
kan kutitipkan rembulan dini hari ke ujung-ujung mimpimu malam ini
mataku seperti mata kucing yang lapar akan kisah jinggamu
ini malam langit dipenuhi dengan wajahmu
udara dipenuhi nafasmu yang beraroma rindu
merasuk dalam nadi dan mengendap dalam jiwaku
adalah aku yang selalu lapar dengan cinta dan kasihmu

V
dengan hormat, izinkan ku bertandang ke kotak mimpimu malam ini dan malam-malam berikutnya
atas terbukanya hatimu maka ku haturkan sejuta cinta

VI
aku tak bisa mencuri kata dalam almanak jarum jam yang berdenyut untuk ditukar dengan segenggam rindu yang merona di desah nafasmu yang terus memburu awan tengah malam dalam setiap ruang cintaku

VII
anyelirku
kutunggu wajahmu dalam layar handphoneku
lama kutunggu hinga rembulan mbeku
namun matamu tak kunjung menghampiri
membawa sekuntum pilu dalam kalbu yang biru merindu

VIII
Maka ku ziarahi warnamu yang semerbak mengiris bunga purnama

IX
Kau bercerita tentang laki-laki berkepala kijang yang berlari mengejar anak panah yang lepas dari gendewa Sri Rama
Laki-laki itu selalu datang dalam kepalamu mengutuk pintamu kepada Sri Rama tempo lalu:
Sepatu hak tinggi dari kulit kijang

X
Kau mendongak ke pintu langit
Menatapnya lekat
Matahari rompal separuh!

XI
Kugunting udara menjadi ribuan orakel
Kutempel perca demi perca di atas meja makan malam
Dan pada lembar terakhir menjelma wajahmu
Membayang di dalam semangkok sup yang asapnya mengebul

XII
Seperti ikan
Kau berenang di kolam darahku

XIII
Ting…ting…ting…
Suara gelang tanganmu mengingatkanku pada rumah
Rumah yang menyala
Terbakar asmara
Cinta!

XIV
Aku menelponmu pagi-pagi sekali sayang, tapi tak ada nafasmu merangsek ke telingaku
Hanya tut…tut…tut… di ujung telepon seperti kereta api yang keluar dari mulut anak-anak playgroup di depan kelas
Bernyanyi sambil menggoyang pantat tipisnya

XV
Aku menyukai malam
Karena saat matahari terlelap kau kan datang menjengukku
Membawa secangkir cofeemix hangat dan sayap serangga malam

XVI
Sungguh nikmat
Menikmati kedua bongkah pipimu
Empuk seperti roti yang dijual keliling perumahan setiap pagi menjelang siang

XVII
Aku seekor lintah!
Kusedot dan kusedot cintamu hingga yang paling penghabisan
Lalu kubiarkan kau mati di ujung bibirku

XVIII
Di dalam bokor tubuhku tumbuh anyelir tak terkira wanginya
Setiap pagi kau kan mendapat bunga cinta itu di depan pintu bertuliskan namaku di kelopaknya
Meski tanpa pita di tangkainya

XIX
Tubuhmu hijau menyegarkan
Aku senang sekali bermain sepakbola di atas tubuhmu
Bola yang menyala hijau pula
Tapi anggin bukanlah wasit yang baik
Meniup peluit sesuka hati
Hingga tiupan terakhir berbuah pinalti
Gol !!!
Bola kumasukkan ke dalaman jiwamu

XX
Di pintumu
Kunci rumah kugantungkan
Di jendelamu
Aku bersekutu dengan embun

XXI
Maka biarkan aku mencintaimu melebihi cintamu padaku
Meski kau tak pernah kuberitahu besar cintaku padamu
Lebih besar dari jejak bibirmu di pipiku yang kau lesapkan setiap waktu berseru

XXII
Maka dalam setiap puisi yang terjejak
Di setiap mimpi dan nyata
Adalah kau yang mengiang di pelupuk mata

XXIII
Akulah ombak yang selalu rindu memeluk pantaimu
Akulah buih yang selalu rindu merasup pasir desirmu
Tenggelamlah kau di lautku!

XXIV
Aku menjelma matari
Masuk ke kamarmu lewat jendela tanpa kacamu
Perlahan tangan-tangan guritaku memeluk tubuhmu mengalirkan kehangatan
Dan bibir jinggaku serta merta merangsek ke dalaman bibirmu
O puan bermahkota sayang

XXV
Hujan yang rebah di gerai rambutmu semalam
Membawa kado berikat pita merah jambu berisi gelayut rindu

XXVI
Lalalala
Menari ku di ujung rindu
Lalalala
Nunggu kasihku melukis kalbu

XXVII
Jika kau adalah bintang yang berpendar itu, akulah ribuan bintang yang bersemayam di sekelilingmu, maka hanya wajahkulah yang selalu kau tatap kemanapun matamu berkelana

XXVIII
Lalu mengapa wajahmu selalu mengalir dalam jiwaku, meski tlah kutampung dalam ribuan botol rindu dalam gelas-gelas rindu, dalam bejana-bejana rindu, dalam cawan-cawan rindu?

XXIX
Oh sungguh aku kan menjadi manusia yang diperbudak asmara

XXX
Bukankah pipi yang merona di ufuk mimpi malam tadi adalah milikmu?
Bukankah bibir yang menyimpul di pelataran mata pagi tadi adalah milikmu?
Ternyata aku tak dapat melepasmu meski se-crit saja, meski se-tul saja

XXX+I
Tak habis-habisnya puisi yang kutulis tentang kau
Setelah bait ini akan tumbuh gelombang kata-kata dari setiap jengkal langit di ujung rambut ikalmu
Bergemuruh mengalun dan berpendar menjadi buih

0 komentar:

Posting Komentar