18 Juli 2009

MENYOAL (KEMBALI) PENGADILAN PUISI PENYAIR BANYUMAS

Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis dengan judul Nasib Pengadilan Puisi Penyair Banyumas Kini yang dimuat di Kedaulatan Rakyat (25/2 /2007). Dalm tulisan itu, saya bercerita tentang pengadilan puisi yang diadakan oleh Ansor Basuki Balasikh di Cilacap dan Abdul Wachid B.S. di Purwokerto, tepatnya di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Purwokerto. Keduanya kegiatan itu hanya berlangsung dalam hitungan jari saja yang akhirnya hilang tak terjejak. Lalu, tulisan saya tersebut saya akhiri dengan sebuah pertanyaan yang cukup panjang yaitu: Akankah pengadilan puisi penyair Banyumas (PPPB) akan ada lagi dan akan bernasib sama seperti pendahulunya?

Maka dalam kesempatan kali ini, saya akan menjawab pertanyaan yang sempat saya lontarkan di atas.

Setelah PPPB terakhir di kampus STAIN Purwokerto yang bernasib cukup tragis, kurang lebih enam bulan berselang, beberapa kawan-kawan muda yang notabene mahasiswa Jurusan Ilmu Budaya (pada waktu itu masih bernama Program Sarjana Bahasa dan Sastra) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yaitu Braja Eka Bayu Permana, Rahayu Puji Utami, Ryan Rachman, dan Bayu Indra Kusuma membentuk sebuah komunitas di sebuah kontrakan di bilangan Jl. Gunung Slamet Gg. Flamboyan No. 11 Grendeng Purwokerto yang diberi nama Sanggar Sastra Wedang Kendhi (SSWK).

Pada pertama kali pengenalan keberadaannya, SSWK mengadakan acara yang mirip dengan pengadilan puisi. Acara tersebut diberi nama Ngobrol Bareng Sastra atau yang sering disebut Ngobras. Pada awalnya, acara Ngobras tersebut hampir sama dengan pengadilan puisi yang dilakukan oleh Persada Studi Klub (PSK) atau PPPB dahulu. Hanya yang membedakan adalah, dalam acara tersebut, yang diadili, dibahas, dan didiskusikan tidak hanya puisi saja. Akan tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra seperti cerpen, novel, kondisi dan perkembangan sastra di Banyumas pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, serta karya-karya para penulis Banyumas yang muncul di surat kabar.

Pada awalnya memang acara Ngobras hanya dilakukan oleh SSWK, akan tetapi pada perkembangannya, kawan-kawan SSWK mengajak beberapa komunitas sastra yang ada di Purwokerto untuk ikut bergabung dengan acara Ngobras tersebut. Ada dua komunitas yang ikut bergabung yaitu Komunitas Sastra Alam (SALAM) yang dipunggawai oleh Dwiana Jati Setiaji, Bayu Murdiyanto, Agus Salim, dan Tri Januri dan Komunitas Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP) yang digawangi oleh Muhammad Ayatullah, Aliv V Essesi, Agustav Triyono, Yudhistira Jati dan Ari Purnomo. Di luar komunitas itu juga tercatat dari perorangan yang tidak tergabung dalam komunitas yaitu Teguh Sucianto, Isno Wardoyo, Taufani, Lin Mursal, Vandi Romadhon dan Nofiq Amrullah.

Dan dari bergabungnya beberapa komunitas dan orang-orang tersebut di atas, tak pelak acara Nobras menjadi semakin berkembang dengan tema dan bahan perbicangan yang beragama. Selain sastra, mereka juga mendiskusikan berbagai permasalahan budaya terutama yang ada di Banyumas seperti teater, kesenian tradisonal dan sejenisnya.
Kembali ke awal, Ngobras dilakukan seminggu sekali pada malam Kamis dengan tempat berpindah-pindah. Dari markas SSWK, Salam, HTKP, hingga tempat-tempat lain seperti di kompleks stasiun kereta api, kampus, angkringan, hingga tepi jalan dan tepi sungai sambil disambi mancing hingga berlangsung dua tahun lebih.

Karena sebagian besar anggota Ngobras juga berprofesi sebagai pekerja teater, maka dalam perkembangannya, Ngobras berlangsung satu bulan sekali dengan alasan kesibukan masing-masing peserta seperti persiapan pementasan. Berubahnya waktu menghasilkan sebuah konsekuensi dari para anggotanya bahwa Ngobras yang berjalan satu bulan sekali haruslah benar-benar dijadikan sebagai kegiatan yang tidak hanya berguna bagi peserta Ngobras saja, akan tetapi juga berguna bagi khalayak yang notabene bukan anggota Ngobras. Akhirnya Ngobras pun berubah menjadi acara sastra yang bersifat lebih besar.

Beberapa waktu lalu, Ngobras menghadirkan cerpenis Dwicipta untuk berbicara seputar proses kreatif menulis cerpen kepada kawan-kawan anggota Ngobras dan diluar anggota Ngobras. Pada bulan ini, Ngobras mengadakan diskusi sastra dengan tema Sastra Yang Memasyarakat yang menghadirkan pembicara Badrudin Emce, Drs. Heri Pratiknyo MSc dan Taufani yang dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat, dari sastrawan, pekerja teater, seniman, guru, dosen, mahasiswa, hingga tukang becak dan pedagang asongan.
Dan kedepannya, Ngobras diharapkan sebagi salah satu barometer dalam kegiatan bersastra di Banyumas dan dijadikan sebagai tempat untuk berkumpulnya para sastrawan, tidak hanya dari Banyumas saja namun juga dari berbagai kota di luar Banyumas.

Selain SSWK dan bala kurawanya, kegiatan yang serupa dengan pengadilan puisi juga dilakukan oleh beberapa komunitas lain. Komunitas Sastra Bunga Pustaka (Bupus) yang dimotori oleh Restu Kurniawan, Yosi M. Giri, Asrul Tonirio, Yudhiono Aprianto mengadakan acara bedah karya terutama puisi dari setiap anggotanya yang jumlahnya lebih dari tiga puluh orang ini.

Sedangkan komunitas Beranda Peradaban yang digawangi oleh M. Aziz Rayid, Teguh Trianton, Arif Hidayat dan Ibrahim Barsilai Jami ini mengadakan bedah puisi setiap hari Kamis malam di sebuah warung angkringan. Karya-karya yang dibedah dan didiskusikan oleh komunitas ini adalah karya-karya para sastrawan Banyumas yang sudah lama malang melintang di jagad kesusastraan maupun mereka yang baru saja ikut menceburkan diri.

Kembali ke pertanyaan saya di atas, dari beberapa gambaran yang saya uraikan di atas dapat disimpulkan bahwa PPPB sudah hadir kembali dengan berbagai macam pengembangan dan format baru yang lebih menarik dan mengasyikan. Dan saya rasa bahwa kegiatan semacam itu tidak akan berakhir tragis seperti para pendahulunya sebab para pegiat sastra generasi baru di Banyumas sudah merasakan bahwa mereka membutuhkan dan dibutuhkan oleh Banyumas sebagai ujung tombak sastra Banyumas.

Klilan.

Tulisan ini dimuat di Radar Banyumas, Minggu, 12 Juli 2009

0 komentar:

Posting Komentar