puan siapa yang tak menanggung duka
bila waktu mencuri tuannya dalam medio tak terjumlah?
aku menemukan berpucuk-pucuk rindu di kotak surat oranye di beranda kepalaku bertuliskan namamu, dinda: puan yang selalu mengemas air mata dari kali pertama perpisahan hingga nanti persuaan. air mata yang dikirim oleh bisik tanah rekah dimana kaki ku pijak. oleh bisik mendung yang menggantung dimana kepalaku berpayung
puan mana yang tak selalu mengurai isak
bila kilometer menutup matanya untuk menatap tuannya?
Kebumen, Oktober 2008
01 Juni 2009
KUTEMUKAN JALAN PULANG
akhirnya kutemukan juga jalan pulang. setelah kaki berpusing menapaki hingga ujung aspal pekat didih ditelan matahari. setelah tertegun pada suatu pertigaan tanpa papan penunjuk arah. terpancang batin menimang kanan kiri yang hendak ku arung. mengingat kali pertama jalan pertama kali kurunut ketika ku pergi bertolak ke rimba peradaban. jalan tanpa aspal yang lebih menyerupai ungai kering kala kemarau meregang. penuh batu, pasir, tanah, dan deretan ilalang dan rumput akering kuning kecoklatan
akhirnya kutemukan jalan menuju nol kilometer tempat kali pertama aku menulis puisi tentang masa depan dan anak-anak
Kebumen , Oktober 2008
akhirnya kutemukan jalan menuju nol kilometer tempat kali pertama aku menulis puisi tentang masa depan dan anak-anak
Kebumen , Oktober 2008
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)