01 Juni 2009

PUAN YANG SELALU MENGEMAS AIR MATA

puan siapa yang tak menanggung duka
bila waktu mencuri tuannya dalam medio tak terjumlah?

aku menemukan berpucuk-pucuk rindu di kotak surat oranye di beranda kepalaku bertuliskan namamu, dinda: puan yang selalu mengemas air mata dari kali pertama perpisahan hingga nanti persuaan. air mata yang dikirim oleh bisik tanah rekah dimana kaki ku pijak. oleh bisik mendung yang menggantung dimana kepalaku berpayung

puan mana yang tak selalu mengurai isak
bila kilometer menutup matanya untuk menatap tuannya?

Kebumen, Oktober 2008

PEREMPUAN BERKERUDUNG EMBUN YANG SELALU MENEBAR AROMA RINDU



dari kristal matamu
menetes rindu tak terperi

rindu padaku
rindu padaku

Purwokerto, Mei 2009

KUTEMUKAN JALAN PULANG

akhirnya kutemukan juga jalan pulang. setelah kaki berpusing menapaki hingga ujung aspal pekat didih ditelan matahari. setelah tertegun pada suatu pertigaan tanpa papan penunjuk arah. terpancang batin menimang kanan kiri yang hendak ku arung. mengingat kali pertama jalan pertama kali kurunut ketika ku pergi bertolak ke rimba peradaban. jalan tanpa aspal yang lebih menyerupai ungai kering kala kemarau meregang. penuh batu, pasir, tanah, dan deretan ilalang dan rumput akering kuning kecoklatan

akhirnya kutemukan jalan menuju nol kilometer tempat kali pertama aku menulis puisi tentang masa depan dan anak-anak

Kebumen , Oktober 2008