Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

13 April 2009

MASIH KUCIUM AROMA TEH YANG KAU SEDUH


Pagi ini pun kau bangunkan aku dengan aroma melati yang mengembang dari teh yang kau seduh dalam cangkir putih bergambar lelaki kekar bertubuh kuda kedua tangannya memegang busur panah dan bertuliskan Sagitarius.

“Mas, bangun, tehnnya diminum dulu, nanti keburu dingin,” ucapmu sambil menarik kain korden dan membuka jendela di sebelah timur ranjang.

Akhir-akhir ini kau bertingkah cukup aneh. Perlakuanmu kepadaku setiap pagi berbeda dengan beberapa waktu lalu. Tidak seperti biasanya kau melakukan hal seperti itu. Praktis setelah kepulanganku dari Tokyo.

Memang dulu kau selalu membangunkanku dengan bisikan lembut bibirmu di telingaku. Tapi tidak akhir-akhir ini. Bisikan lembut itu bercampur dengan aroma teh yang kau seduh. Teh yang kau seduh itu lalu kau letakkan di atas meja kecil di samping kanan ranjang tempat kita menjemput mimpi-mimpi malam. Dan ketika mataku terbuka kudapati kau sedang tersenyum lebar hingga gigimu yang seperti biji mentimun itu terlihat mengintip dari balik bibirmu yang tidak terlalu tebal. Dan aroma teh yang kau seduh itu segera mengembang ke dalam liang hidungku yang sedikit mancung dan merasuk ke dalam paru-paru.

Setiap pagi kau selalu menyeduhkanku teh. Tidak selalu sama setiapa harinya. Kadang teh merah, kadang teh hijau, kadang teh hitam.

“Kau hamil?” tanyaku suatu waktu.

Kau hanya tersenyum renyah lalu menghampiriku dan melumat bibirku yang tebal. Setelah beberapa detik kau berhenti menciumku. “Tidak,” jawaban singkat keluar dari bibir tipismu. Lalu kau lanjutkan lagi aktivitasmu yang sempat terhenti. Melumat bibirku hingga habis.

Pernah kutanyakan mengapa kau membangunkanku dengan teh setiap pagi.

“Di dalam teh itu mengandung zat yang berfungsi sebagai anti oksidan yang menangkal radikal bebas. Jadi jika kita minum teh setiap pagi, tubuh kita akan menjadi sehat dan segar.”begitu jawabmu seperti ucapan pak Narto, guru biologi waktu SMA dulu.
Aku pun bertambah curiga kepadamu. Jangan-jangan, waktu aku di Jepang, kau… atau kau….

Tetapi aku harus curiga apa? Aku tahu, kau adalah perempuan paling setia di bumi ini. Tak pernah mendua. Seperti awan kepada hujan, itulah kau. Kau rela apapun demiku. Bahkan mati sekalipun kau rela. Kecurigaanku kepadamu sangat tidak masuk akal, apapun alasannya. Karena aku tahu. Sekali lagi, kau seperti rumput mahluk setia.
Dan waktupun berlari. Aku pun membuang perasaan itu. membuang jauh-jauh. Menghanyutkannya di sungai yang lewat di kota kecil ini. Membiarkannya pergi ke laut lepas. Dan perlahan, aku pun menikmati apa yang kau lakukan padaku. Menerima dalam hati sesuatu yang baru darimu. Membangunkanku dengan bisikan lembut disertai aroma teh yang kau seduh yang kau letakkan di meja kecil di samping tempat tidur.

Aku pun bangkit dari ranjang yang tidak terlalu besar. Kuraih cangkir teh yang kau seduh lalu ku arahkan ke bibirku. Ku seruput perlahan dan menelannya hingga tersisa separuh. Lalu memandangmu membuka kain korden dan membuka daun jendela. Dan wajahmu seketika menjadi cantik luar biasa. Tersapu matahari pagi.

Memang. Berbeda dengan teh yang sering aku minum di warung-warung makan. Setiap teh yang kau seduh selalu nikmat. Apapun jenisnya, apapun merknya. Tapi aku lebih suka teh hitam yang beraroma melati itu. Teh yang sering kau beli di minimarket yang letaknya tak jauh dari rumah kita. Teh hasil pabrikan kota Bogor, katamu. Aroma melatinya lebih terasa dibanding dengan yang lain. Dan aku tidak suka teh celup. Aku lebih suka teh tubruk yang di saring. Resa tehnya berbeda dengan teh celup.
***

“Kapan kau kan kembali?” tanyamu.

“Ah, tunggulah barang sebentar,” sahutku.

“Iya, tapi aku butuh kepastian.”

“Kira-kira tiga belas purnama lagi, aku sudah berada di samping tidurmu. Membangunkanmu dengan ciuman terdahsyat yang kumiliki.”

“Ah, dasar penyair palsu!” katamu sambil tertawa kecil, “baiklah, aku kan menunggumu di sini, di tepi ranjang ini sambil membaca tulisan-tulisanmu di surat kabar. Aku cinta kau.”

“Aku cinta kau juga.”

Lalu terdengar suara gagang telepon tergeletak dilanjutkan bunyi tut yang panjang. Aku pun meletakkan telepon genggam di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Setelah menerima telepon tersebut, aku segera bangkit dari tempat tidur. Ku seruput cangkir teh hangat yang dari tadi tergeletak meja kecil di samping tempat tidurku.

Kedua kakiku bergerak kesana kemari mencari-cari alasnya. Setelah sepasang sandal dari karet busa itu kutemukan, akupun beranjak dan melangkah menuju kamar mandi. Cukup luas dan mewah untuk ukuran kamar mandi. Lebih mewah dibanding kamar tidurku di rumah.

Selesai mandi aku segera mengenakan pakaianku yang sudah tergeletak rapi di atas tempat tidur. Setelah selesai berdandan, aku segera keluar dari apartemenku dan pergi ke Universitas Tokyo, berjalan kaki.

Ya sudah beberapa waktu ini aku berada di negeri matahaari terbit. Aku mendapat tugas belajar selama dua tahun di sini. Kebetulan aku mendapat beasiswa untuk melanjutka n S-2 ku di negeri sakura ini. Dan kira-kira beberapa bulan lagi disertasiku selesai.
Aku tinggal di sebuah apartemen tidak jauh dari universitas. Aku lebih memilih tinggal di apartemen daripada di asrama mahasiswa. Meskipun sederhana, tapi privasiku terjaga. Meskipun harus mengeluarkan sedikit kocek, tapi tak apalah, uang itu dapat aku peroleh dari honor puisi-puisiku yang dimuat di surat kabar. Baik surat kabar di Jepang sini maupun di tanah air.

Lain dengan asrama mahasiswa. Selain ramai oleh para mahasiswa dari tanah air yang studi di sini, kamarnya pun seperti barak. Tempat tidurnya berjajar. Tapi yang jelas privasi juga tidak terjaga.

Aku tinggal di apartemen sendiri. Istriku tidak ikut. Kebetulan dia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Sebenarnya aku ingin sekali dia ikut. Akan tetapi beasiswa ini hanya untukku saja. Aku tahu, pasti dia sangat menderita tanpaku.

Untuk meredam rindu, sehari tiga kali kami saling bertegur lewat telepon. Selain itu aku selalu mengirimkan puisi-puisi rinduku kebeberapa surat kabar di tanah air. Jadi dia bisa membacanya meskipun dua minggu sekali.
***

Ya tadi malam hujan turun sangat lebat. Tidak ada petir menyambar memang, tapi hujan memang benar-benar murka. Anginpun berlari seperti kuda tertusuk besi panas.
Pagi ini dingi sekali. Gerimis sisa hujan tadi malam masih terdengar jatuh di atas daun-daun. Tanganku meraba-raba. Tak kudapati kau di sisiku. Ah, paling-paling kau sedang memasak air di dapur. Aku pun menarik selimut. Kulanjutkan tidur.

Tak berapa lama kau datang memabawa nampan dengan kedua tanganmu. Di atas nampan itu, sebuah cangkir putih menggeliat. Nampak asap tipis melayang di atasnya. Asap itu membawa aroma teh yang berbeda dengan yang biasanya. Kali ini kucium lebih segar.
Kau pun berbeda dengan hari kemarin. Senyum yang kau tawarkan menyimpan sesuatu. Senyum yang menyeringai. Mata sayumu, pagi ini berubah menjadi tajam.

Perlahan kau mendekatiku. Lalu meletakkan teh yang kau seduh di tempat biasa. Setelah itu kau kembali menatapku tajam bersama senyuman penuh misteri. Lalu kau beranjak dan melangkah menuju jendela. Seperti biasa, membuka kain korden dan membuka daun jendela. Wajahmu yang biasanya luar biasa ayu di bias cahaya matahari pagi, kini tampak lain. Kurasa ada aura kekejaman dan kemarahan luar biasa yang keluar dari wajahmu.

Sambil kuseruput teh yang kau seduh, ku tatap dirimu. Rasa teh yang berbeda dengan yang sudah-sudah. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan rasa teh yang lain itu. Dalam hati, pertanyaan-pertanyaan aneh menyeruak. Aku tak mengerti mengapa kau bertingkah aneh. Kau nampak lain. Kau bukan kau, pagi ini.

“Minumlah, teh itu kuracik sendiri dengan tanganku. Nanti keburu hilang aromanya, shinjin san!

Aku tersentak. Aku tak percaya apa yang telah diucapkannya pagi ini. Kalimat itu, ucapan itu. Ya, kalimat itu selalu keluar dari bibir Suzume. Selama di Jepang, setiap pagi dia selalu membangunkan tidurku, menyeduhkan teh, menyiapkan pakaian, dan mencium bibirku setiap pagi.

Tapi, bagaimana kau bisa tahu? Aku masih tak percaya.

Kau tersenyum lebar. Matamu menyempit, tetapi bertambah tajam. Kulihat perlahan kau mendekat ke arahku. Belum sempat aku berucap, tiba-tiba kepalaku terasa berat. Tubuhku menjadi lunglai tak berdaya. Wajahmu kabur dari mataku. Dan seketika semua menjadi gelap. Dan aku masih bisa mencium aroma teh yang kureguk barusan.

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Januari- Februari 2009

16 Maret 2009

LELAKI TUA DAN PIANO


Desember yang dingin. Sore yang membosankan. Kuambil sweater yang tergantung di belakang pintu dan kuputuskan untuk keluar dari Manhattan Broadway Hotel. Kulangkahkan kaki menelusuri Broadway. Udara Manhattan sore itu begitu menusuk sum-sum tulang. Jalanan sepi. Salju sisa semalam masih menutupi jalan. Aku terus malangkahkan kakiku. Mataku ngembara memperhatikan burung-burung yang terbang berkejaran. Hidungku kembang kempis, memerah menghirup udara yang dingin.

Sesampai di First Avenue langkahku terhenti. Kuputuskan untuk masuk ke Caracas Arepa Bar. Sebuah bar dengan gaya Venezuela. Aku duduk di meja deretan belakang. Mataku langsung tertuju ke atas panggung. Seorang lelaki tua sedang duduk menyanyikan sebuah lagu sambil memainkan piano di hadapannya.
Seorang pelayan wanita datang menghampiriku.

Good afternoon sir. Mau pesan apa?” Sembari disodorkannya daftar menu kehadapanku.

Kubaca urutan menu satu persatu.

”Capuccino,” sambil kusarahkan daftar menu kepadanya

”Baik, tunggu sebentar, pesanan segera datang, permisi tuan.” Pelayan itu segera pergi meninggalkanku. Tak lama berselang, wanita Latin itu kembali menghampiriku dengan membawa nampan di tangan kirinya.

”Selamat menikmati, tuan,” ucapnya sambil tersenyum.

”Terimakasih,” sahutku. Lalu dia kembali ke tempatnya semula.

Sambil mendengarkan alunan musik, segera kunikmati makanan yang tersaji di depanku. Sedikit demi sedikit. Makanan yang nikmat, musik yang merdu. Namun dari merdunya musik itu dapat kurasakan jika lelaki tua itu sedang dilanda kesedihan yang luar biasa. Ya, dia sedang menyanyikan lagu sedih. Sebuah lagu yang menyayat. Seolah membuka kembali luka lama yang terpendam di dasar samudera. Aku ikut hanyut dalam nada-nada yang diciptakannya.

Kafe tampak sepi sore itu. Hanya beberapa orang tamu yang datang. Meja yang lain masih kosong tak berpenghuni. Seorang wanita duduk di meja paling depan. Dia masih muda dan cantik. Rambutnya yang keemasan tergerai jatuh hingga sebatas bahu. Diperhatikannya dengan penuh konsentrasi lelaki tua yang sedang bermain piano di hadapannya. Dia tampak menikmati alunan nada-nada yang keluar dari piano itu. Segelas Red Wyne yang tergeletak di mejanya diraihnya lalu diseruput sedikit demi sedikit, lalu diletakkannya kembali ke tempat semula. Dan dia masih menikmati permainan orang tua itu.

Di meja tengah, tampak sepasang orang tua duduk berhadapan. Mereka sedang dilanda perasaan yang luar biasa bahagia. Mereka sedang merayakan hari jadinya yang ke tiga puluh. Ya, mengenang masa bercintanya dulu. Di kafe ini tiga puluh tahun yang lalu adalah kali pertama mereka merajut benang api cinta. Tepat pada hari ini.
Lagu pertama telah habis. Tepuk tangan pengunjung cafe pun menyambutnya. Ya, meski hanya beberapa tepuk tangan. Lelaki tua itu terdiam sebentar, lalu mengambil sebotol Matini di atas meja piano dan menuangkannya ke dalam gelas kaca lalu menenggaknya tanpa sisa. Diletakkannya kembali gelas itu ke tempat semula. Tak lama kemudian dia asyik kembali berkutat dengan tuts-tuts pianonya memainkan lagu kedua.

Mataku masih tertuju memperhatikan gerak-geriknya. Sesekali melayangkan pandangan ke sekelilingku lalu kembali ke titik semula. Mulutku berhenti bergerak mengunyah setelah makanan di hadapanku benar-benar tak tersisa. Kunyalakan sebatang Lucky Strike, kuhisap dalam-dalam, kusemburkan asapnya ke udara ruangan. Demikian dan kuulangi lagi seperti itu. Lalu kuseruput capuccino dan kusisakan separuh. Tapi mataku tak lepas dari lelaki tua itu. Lelaki dengan raut wajah penuh dengan kesedihan.

Selang beberapa menit, lagu kedua berakhir juga. Tepuk tangan orang-orang yang ada di kafe itu pun pecah kembali. Tetapi hanya sebentar saja, lalu mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.

Laki-laki tua itu bengkit dari bangku pianonya. Agak sedikit gontai. Tiba-tiba matanya tertuju padaku. Lalu dilangkahkan kakinya ke arahku dan duduk di sebelahku.

”Hai, sepertinya kamu bukan orang sini, baru pertama aku melihatmu di sini?” Tanyanya.

“Ya, namaku Ryan, Ryan Rachman, aku dari Indonesia,” jawabku.

“Oh, Snoop, Snoop Timberwood.”

“Permainan piano yang sangat indah, aku sangat menikmatinya.”

Thanks, kalian orang Indonesia memang senang memuji.”

“Yaa, seperti itulah kenyataannya,” jawabku singkat “aku rasa kedua lagu yang kamu mainkan tadi adalah lagu sedih, bukan begitu?” tanyaku.

Dia diam agak lama.

“Yeah, memang,” tiba-tiba dia berkata dengan suara berat. ”aku teringat istriku, kedua lagu itu adalah lagu kenangan kami dulu,” lanjutnya. Dia menoleh ke arah meja pelayan. “Bawakan aku segelas Martini!” Teriaknya parau. Lalu matanya jelalatan mengawasi setiap pengunjung satu persatu. Tak lama kemudian pelayan cantik itu datang membawakan pesanannya. Tak menunggu lama, Martini di gelas kaca itu ditenggaknya.
Aku pun menyeruput capuccinoku yang tinggal separuh namun tak kuhabiskan. Kusisakan buat nanti.

”Namanya Daisy Candlenight. Kami menikah lima puluh tiga tahun yang lalu. Dia berasal dari kota ini. Sedangkan aku berasal dari North Carolina. Aku dipindah tugaskan oleh departemen kepolisian di sini setelah lulus akademi kepolisian. Di kafe inilah pertama kali kami bertemu. Di bangku yang kita duduki sekarang. Waktu itu dia sedang duduk termenung sendiri. Dia mengenakan baju terusan lengan panjang warna biru muda. Bandana dengan warna yang sama menghiasi kepalanya. Rambutnya diikat menjadi dua.”

Aku memperhatikannya penuh dengan sesama. Sebenarnya aku merasa heran. Kami berkenalan baru beberapa menit lalu, bahkan tidak lebih lama dibanding cengan umur capuccino yang kupesan, namun sepertinya dia hendak menceritakan kisah hidupnya kepadaku tanpa merasa curiga. Tapi apa boleh buat, sepertinya kisahya akan menarik.

”Lalu apa yang terjadi dengan istrimu sekarang?”

Dia terdiam. Sambil mengambil satu batang rokok yang tergeletak di atas meja, dia berucap, ”may I?” Belum sempat aku menjawabnya, dia sudah menaruh di mulutnya dan menyalakannya.

”Tiga tahun yang lalu. New York City. Kami sedang berlibur merayakan pernikahan kami yang ke lima puluh. Siang itu, kami baru jalan-jalan. Entah kenapa ia ingin sekali berfoto di depan World Trade Center. Belum lengkap rasanya jika berlibur ke New York jika tidak berfoto di depan gedung kembar yang megah itu, katanya. Yah, demi istri tercinta aku pun menurutinya. Dia berdiri di depan gedung itu dan aku yang mengambil gambarnya. Belum sempat aku mengambil gambar, tiba-tiba sebuah pesawat datang dan menabrak gedung itu, dan...” dengan suara berat ”....dan dia tertimpa reruntuhan gedung itu.” Snoop tak dapat membendung air matanya.

”Dia meninggal tepat di depan mataku. Aku melihat ketakutan di raut wajahnya,” Snoop mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya.

”Andai saja waktu itu aku tak menuruti keinginannya, pasti kejadiannya tidak akan seperti itu. Aku memang bodoh,” lanjutnya.

Aku dapat merasakan kesedihan yang mendalam dalam hati Snoop. Aku pun tak kuasa untuk ikut menitikkan air mata.

”Maafkan aku Snoop. Aku tak tahu jika yang kau alami begitu menyedihkan.”

”Tak apa.”

”Sudahlah Snoop, semuanya telah terjadi. Lagi pula itu bukanlah kesalahanmu. Semuanya telah digariskan oleh tuhan. Tak perlu kau menyesalinya,” hiburku.

”Ya, semuanya memang telah digariskan,” timpalnya.

Tiba-tiba dia bangkit dari tempat duduknya.

”Malam sudah larut, sebaiknya aku pulang. Terima kasih orang Indonesia, terima kasih karena kau telah mau mendengarkan ceritaku dan mendengarkan lagu yang kumainkan tadi,” katanya.

”Sama-sama”

See you. Good night

Good night.”

Dia segera keluar dari kafe itu. Aku pun segera menyeruput capuccino-ku yang sudah dingin lalu kupanggil pelayan dan membayar makanan yang kumakan tadi. Segera aku bangkit dari tempat dudukku dan keluar dari kafe itu. Udara dingin begitu menusuk tulangku. Kupercepat langkahku menuju ke hotel tempat kumenginap. Langit Desember malam ini begitu cerah namun tak secerah hati Snoop, lelaki tua dengan piano yang bersamaku tadi.

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Oktober-Desember 2006

AKU AKAN SETIA MENANTIMU ATAU LEGENDA DEWI SEKAR


Di kaki bukit di desa kami terdapat sebuah patung wanita. Patung itu bernama patung Dewi Sekar. Jika bulan purnama tiba langit akan sangat bersih, tak ada mendung menggantung dan bintang-bintang pun seakan lenyap tak tercecer di sana sini. Hanya ada satu benda yang tergantung di langit, sebuah loyang besar berwarna terang. Yang jelas tak ada sesuatu yang menghalangi cahaya bulan untuk sampai ke bumi. Alam menjadi sunyi senyap, tak ada satu suara pun yang terdengar. Serangga-serangga malam terkunci mulutnya, angin tak berani berhembus menggoyangkan dedaunan atau reranting pohon, lalu serta merta akan tercium bau wangi yang membahama menusuk hidung hingga ke ulu hati. Malam itu seakan waktu berhenti berputar dan tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.

Saat sinar bulan menerpa patung Dewi Sekar, perlahan patung itu akan berubah bentuk menjadi sesosok wanita yang cantik jelita. Dia mengenakan gaun putih dengan kaki telanjang. Kedua alisnya nanggal sapisan, dengan bulu mata yang lentik tumengeng tawang. Kedua pipinya nduren sajuring, hidungnya ngundhup mlathi, dan bibirnya nggula satemlik. Rambutnya lurus memanjang hingga ke pinggang. Badannya ramping dengan kulit yang kuning langsat. Kedua kakinya jejang dan jari-jari tangannya mucuk eri. Namun, dari tatap matanya yang sayu, di balik kecantikkannya itu tersimpan suatu kesedihan yang sangat mendalam.

Tak lama kemudian, dari kedua matanya tercurah air mata melewati kedua buah pipi dan bertemu tepat di dagunya, lalu secara perlahan melayang dan jatuh hilang ditelan tanah. Dari bibirnya yang indah itu keluar isak yang menyayat mengiringi air mata. Jika ada orang yang mendengar, maka hatinya akan tersentuh dan serta merta larut dalam kesedihan yang dialami oleh Sang Dewi.

Jika Sang Dewi sudah mulai menangis, maka tak satu orang pun yang dapat menghentikannya, bahkan serangga atau binatang malam. Tidak juga angin, dedaunan, reranting atau rerumputan, mereka tak kuasa untuk menghentikannya. Semua seolah ikut hanyut dalam kesedihan Sang Dewi. Dan dia akan terus menangis dan terus menangis sekeras mungkin hingga menjelang fajar. Setelah berhenti menangis, lalu dia membaca sebuah puisi sedih. Dan ketika puisi itu berakhir, maka dia akan kembali menjadi sebuah patung batu.
***

Desa kami memiliki sebuah bukit yang hijau. Sebuah bukit yang penuh dengan jajaran pohon pinus. Di situ terdapat sebuah sungai kecil yang mengalir dari puncak bukit dengan air yang jernih sejernih hati para penghuni desa. Sungai itu adalah sumber mata air bagi kehidupan kami. Setiap pagi para wanita mengambil air di sungai itu menggunakan periuk yang terbuat dari tanah dan anak-anak kecil mandi bersama dengan tubuh telanjang.

Namun, di balik keindahan itu terdapat sebuah kebiasaan yang entah dari mana mulanya. Kebiasaan itu adalah tak ada satu orang pun yang keluar rumah bila malam bulan purnama menjelang, terutama pada tengah malam. Jadi, setiap malam bulan purnama adalah malam yang sepi. Tak ada anak-anak yang bermain petak umpet atau bermain gobak sodor di halaman.

Ada sebuah cerita yang berkaitan erat dengan fenomena tersebut yang kami peroleh dari orang tua kami. Mereka pun mendapatkan cerita itu dengan cara yang sama. Dan seterusnya dan seterusnya. Sebuah cerita sedih yang memilukan, cerita cinta yang mengharukan.

Senja datang dengan segala cahayanya. Matahari pulang ke gubugnya di balik bukit setelah lelah seharian bersenggama dengan siang. Aku masih duduk di kursi goyang. Menatap kaki bukit yang indah.

Aku beritahukan kepada kalian.

Dahulu ada seorang wanita yang cantik jelita. Dia adalah seorang putri tunggal dari seorang Adipati di sebuah kadipaten pada masa kekuasaan Mataram. Dia bernama Dyah Ayu Sekar. Karena kecantikkannya, banyak pemuda yang jatuh hati kepadanya. Puluhan pemuda datang dengan ketampanannya dan kekayaannya. Dengan rayuan yang indah dengan harapan dapat meluluhkan hati sang putri. Namun dengan lembut sang putri menolaknya. Ternyata dia telah memiliki tambatan hati kepada seorang pemuda dari desa yang bekerja di kadipaten sebagai penggembala kuda. Pemuda itu bernama Bagus Bagaskara.
Putri jatuh cinta kepadanya saat tanpa sengaja dia mendengarkan sebuah puisi yang dibaca Bagus ketika memberi makan kuda-kudanya. Sebuah puisi yang sangat indah dan menyentuh hati. Sekar pun menghampirinya dan mengatakan bahwa puisi dibacanya tadi telah meluluhkan hatinya. Pada awalnya pemuda tersebut menolak cinta sang putri. Tak mungkin seorang abdi dalem, apalagi seorang perawat kuda jatuh cinta kepada junjungannya sendiri. Tetapi sang putri tetap memaksanya. Tak kuasa, akhirnya Bagus pun menerima cinta Sekar karena memang sebenarnya dia juga memiliki rasa yang sama terhadap sang putri.

Dan kisah kasih sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara pun dimulai. Mereka memadu kasih di atas punggung kuda. Sekar sangat menyukai saat Bagus membaca puisi-puisinya. Alam akan ikut tersenyum saat mereka sedang berkasih-kasihan walau kisah kasih mereka harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Mereka terus melakukan pertemuan-pertemuan rahasia untuk saling melepas rindu.

Akhirnya kisah kasih mereka diketahui oleh orang tua Sekar. Mereka sangat marah saat mengetahui bahwa putri mereka merajut asmara dengan orang berkasta rendah. Karena tak direstui oleh orang tua Sekar, mereka akhirnya lari dari kadipaten dan menetap di suatu daerah di kaki sebuah bukit. Kisah kasih mereka pun berlanjut di sini dan tak ada satupun yang mengusik percintaan mereka. Tak selang berapa lama, orang tua Sekar mengetahui keberadaan mereka, namun Adipati tidak menghukum kedua sepasang kekasih itu. Dia menyadari bahwa cinta adalah suatu anugerah yang istimewa dari Sang Hyang. Tak peduli dari golongan atau kasta apapun, ningrat atau rendah, semua memiliki hak yang sama dalam soal bercinta. Mereka berdua di ajak untuk kembali ke kadipaten, namun mereka tidak bersedia. Mereka lebih menikmati hidup sebagai orang kecil dan hidup di desa dengan tenang. Adipati pun tak dapat memaksakan kehendak untuk memboyong putrinya kembali.

Suatu saat, terjadi sebuah pemberontakkan yang dilakukan oleh tangan kanan Adipati. Ternyata Bagus memiliki kepandaian dalam soal strategi berperang, maka Adipati menyuruhnya untuk memimpin pasukan dan menumpas pemberontak tersebut. Sebelum Bagus berangkat meninggalkan Sekar, dia berpesan kepada kekasihnya untuk menunggu kedatangnnya pulang. Dengan penuh berat hati, Sekar melepas kepergian pujaan hatinya.
Pemberontakkan telah berhasil di tumpas oleh Bagus dan prajuritnya. Dalam perjalanan pulang, mereka beristirahat di sebuah desa yang tak jauh dari tempat pemberontakkan itu. Mereka menginap di sebuah rumah milik kepala desa. Kepala desa itu memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan tidak jauh berbeda dengan kecantikkan Sekar.

Namanya Sri Nareswari. Melihat ketampanan Bagus, Sri pun jatuh cinta kepadanya. Dengan cara yang licik dia menggunakan ajian pemikat untuk memikat hati Bagus. Bagus pun jatuh cinta kepadanya. Akhirnya keduanya menjalin kisah yang indah. Bagus melupakan sesuatu jika saat ini Sekar sedang menunggunya.

Suatu saat, seorang utusan dari Kadipaten datang dan memberitahukan Sekar jika Bagus telah memiliki kekasih yang baru bernama Sri. Tetapi Sekar tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh orang itu. Dia yakin jika Bagus adalah orang yang setia, tak mungkin ia menghianati cintanya dan Bagus pasti akan kembali ke pelukannya.

Sekar masih senantiasa menanti kekasihnya pulang ke dekapannya. Dia menunggu dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Waktu terus bergulir. Dia merasa sedih karena kekasihnya tak kunjung datang. Tetapi dia masih tetap setia menunggu meski dalam kesendirian. Setiap malam dia selalu menitikkan air mata sambil membaca sebuah puisi yang dibaca oleh Bagus sebelum meninggalkannya.

Wahai kekasihku
Kau lihat temaram itu?
Mereka ikut sedih menghadiri pesta perpisahan kita
Namun, kau tak akan sendiri meski aku jauh dari matamu
Katakan padaku bahwa kau akan selalu menungguku datang dan kembali meraju mimpi kita
Bersama memilin senja hingga maut hinggap di salah satu jendela rumah kita

Satu purnama telah disusul dengan purnama-purnama yang lain. Bulan telah berganti tahun. Sekar pun tak ingat lagi, berapa banyak purnama datang dan menghilang menemaninya dalam kesendirian. Dia masih menunggu dan tetap menunggu hingga tubuhnya mengeras dan berubah menjadi patung. Dan setiap malam bulan purnama tiba, patung itu akan kembali ke wujud aslinya. Sosok wanita dengan kesedihan yang masih mengharapkan kedatangn kekasihnya datang.
***

Senja kini telah hilang. Gelap mengguyur langit menggantikan senja. Aku masih melemparkan pandanganku ke arah kaki bukit dimana patung Dewi Sekar berada. Tiba-tiba, dari dalam istriku keluar menemuiku. Dibawakannya secangkir kopi panas dan pisang rebus kesukaanku. Dia barkata, ”Mas Bagus, sebuah senja yang indah di kaki bukit ya?”. Ya. Dia adalah istriku tercinta. Namanya Sri Nareswari.

Purwokerto, 8 April 2006

AKAN KUBERI MAKAN MEREKA DENGAN PUISI

Kebanyakan orang tua menginginkan anaknya untuk menjadi dokter, insinyur, guru, menteri, bahkan presiden. Karena di situlah prestise keluarga akan terangkat dan masyarakat akan lebih ngajeni.

“Joko hebat ya, itu, anak nomor dua pak Joyo, sekarang sudah jadi dokter.”

“Iya, tidak hanya itu, adiknya, Rusdi juga sudah jadi insinyur, dan Ratna, kakaknya juga sudah jadi guru SMA di ibu kota.”

Itulah kira-kira kata-kata yang terlontar dari mulut mayarakat. Dengan sendirinya mereka telah meletakkan orang tersebut setingkat lebih tinggi. Tidak hanya itu, mereka menjadikan si dia sebagai icon, sebagai panutan. Tapi itulah yang terjadi. Dari zaman kompeni hingga jaman komputer sekarang ini. Apalagi di daerah pedesaan, tak terkecuali dimana aku dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tuaku.

Ibu adalah seorang guru pada sebuah sekoalah dasar di desaku. Dia mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kurang lebih selama sembilan belas tahun. Bapak adalah seorang kaur kesra di desa ini. Aku adalah anak pertama dan satu-satunya di rumah. Kami bukan termasuk keluarga yang kaya. Ya, cukuplah. Meski hidup di desa, kami tidak memiliki sawah atau pekaranganyang luas seperti warga yang lain, sebab kami bukanlah pndudukasli desa ini. Ya, kami adalah pendatang. Dengan keadaan yang seperti itu, dapat membiayayaik hingga tamat SMA.

Bapak meningnkanku sebagai dokter. Lain dengan ibu, dia lebih mengingnkan aku untuk mengikuti jejaknya. Ya, sebetulnya keduanya sama-sama baik, malah lebih baik dibanding dengan profesi yang lain. Keduanya sama-sama mengabdikan diri dengan ilmu yang dimilikinya kepada uamt manusia. Menjadi guru adalah suau hal yang sangat mulia. Mencerdaskan kehidupan bangsa, saya rasa julukan itu cocok untuk seseorang yang berprofesi sebagai guru. Sungguh luar biasa. Bias dikatakan, tanpa guru sebuah bangsa akan selalu dalam kegelapan.

Dokter, sebuah profesi yang langsung berhubungan dengan nyawa manusia. Di desaku, menjadi dokter adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Secara otomatis strata sosial pun segera naik satu ingga dua level. Dan orang akan segera ngajeni dengan munduk-munduk di hadapannya.

***

Rabu sore, langit sudah mulai gelap. Kami berkumpul di ruang tengah.

“Aku ingin kuliah di sastra,” dengan sedikit cemas akhirnya kalimat itu meluncur dari mulutku.

Tidak ada sahutan.

“Aku ingin kuliah di sastra, Pak, Bu,” kuulangi lagi ucapanku tadi.

“Bapak tidak salah dengar?” akhirnya ada sahutan.

“Benar, bapak tidak salah dengar. Aku ingin kuliah di sastra.”

“Lalu kamu mau ambil apa?” Tanya ibu pelan.

“Sastra Indonesia,”jawabku singkat.

“Sastra Indonesia?” Tanya bapak dengan nada sedikit kaget, “mau jadi apa kamu nanti?” tambahnya.

“Aku ngin jadi sastrawan.”

“Ha, ha, ha……!!!” tawa ayah tiba-tiba meledak, “ha…ha..ha……mau jadi sastrawan? Jadi penyair?”

“Ya.”

“Baru kali ini ada seseorang punya keinginan menjadi seorang sastrawan, menjadiseorang penyair. Apa hebatnya seorang penyair, ha? Dengar! Penyair itu orang yang tidak punya masa depan. Rambutnya gondrong, acak-acakan, jarang mandi, bajunya kucel, kesana-kemari berteriak membacakan puisi, seperti orang gila…..”

“Tapi pak…”

“Jangan menyela, bapak belum selesai bicara,” kali ini nada bicara bapak mulai meninggi, “lalu melanglang buana ke tempat antah berantah demi sebuah puisi.kurang kerjaan, ngabis-ngabisin duwit thok!

“Bu, anakmu tuh!,” tambahnya.

“Lho, bapak kok jadi nyalahin ibu, wong buatnya bareng kok,” ibu tak terima, “le, kamu boleh jadi apa saja, ibu ndak ngelarang kok. Tapi mbok ya o kamu ngertiin bapakmu. Ya udah, kamu boleh kuliah di sastra, tapi jangan ambil Indonesianya ya, ambil Inggris apa Jepang apa Prancis malah ndak apa-apa. Sarjana sastra Indonesia sekarang itu ndak kepakai di sini. Kalau sarjana sastra Inggris atau Jepang kamu akan mudah cari kerja,” kata ibu menasihatiku dengan lembut.

Bapak mengambil Dji Sam Soe satu batang dari bungkusnya yang ada di saku bajunya, lalu dibakarnya. Dihisapnya dalam-dalam. Sambil menyemburkan asap ke udara, bapak melanjutkan kalimatnya.

“Bu, ambilkan minum,” lalu pandangannya beralih kepadaku, “jadi penyair itu susah dapat duit. Koran? Mau berapa ratus puisimu yang mau kamu kirim ke Koran? Ya kalau dimuat, paling-paling cuma dapat dua ratus ribu.”

Ibu datang dari dapur sambil membawa secangkir the tubruk kesukaan bapak,lalu diletakkannya di atas meja kecil di depanku.

“Terus, kalu kamu sudah punya istri, punya anak, mau kamu beri makan apa mereka? Uang segitu cukup?! Buat beli beras, beli sayur, beli susu, beli minyak, beli ini, beli itu. Mau kami suruh mereka makan puisi?! Hah!”

Bapak mengambil cangkir di depannya lalu didekatkan kea rah bibirnya yang hitam. Bibirnya mecucu meniup minuman kesukaannya yang masih panas., lalu diseruputnya sedikit demi sedikit. Setelah itu diletakkannya kembali di atas meja kayu berukir itu.

Wes lah, kamu tu ndak usah neko-neko. Bapak ingin kamu jadi orang bener, jadi orang sukses. Bisa menghidupi anak istrimu kelak,” kaliini nada bicaranya mulai menurun, “dan yang pasti, bapak sama ibu akan merasa bangga jika kamu bisa jadi dokter, insinyur, atau dosen atau direktur. Kamu adalah satu-satunya anak yang dapat mengangkat martabat orang tuamu ini.”

“Tapi pak, aku sudah yakin kalau aku ingin menjadi seorang penyair seperti Rendra atau Amir Hamzah,” akhirnya aku bicara.

“Bapak tahu, kamu punya alas an yangmasuk akal. Kamu sudah besar. Kamu sudah bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk buat kamu. Jadi pikirkan lagi keputusanmu tadi masak-masak. Tapi yang jelas bapak tidak setuju kalu kamu menjadi seorang penyair. Bapak tidak suka itu.”

Ibu yang biasanya membelaku, entah kenapa malam ini dia hanya berkata sedikit. Apa mungkin pemikiran ibu sama dengan pemikiran bapak, jadi ibu tidak perlu bicara panjang lebar seperti bapak. Padahal aku sangat mengharapkan pembelaan darinya.
“Bapak cumangasih kamu nasihat, toh nanti kamu yang akan menjalaninya to, bukan bapak atau ibu. Mendingan kamu istirahat sana, bapak juga mau istirahat, capek. Lagian juga sudah malam, ndak baik ngomong keras-keras.”

Dihisapnya lagi rokok kretek yang tinggal putung di sela jari tangan kanannya. Setelah itu dihunjamkannya di asbak sambil menyemburkan asap dari bibirnya. Tangannya diangkat kembali sambil memegang cangkir. Diminumnya teh tubruk yang sudah aga dingin itu sampai habis.

Ibu masih memasang matanya ke arahku. Dan aku segera bangkit lemas dengan perasaan dongkol meninggalkan mereka.

***

Pagi sudah hilang setengah. Bapak dan ibu sudah pergi ke kantor masing-masing beberapa jam lalu. Aku di rumah sendiri. Ya tadi pagi, sebelum berangkat, ibu menyuruhku untuk memberesi gudang.

Lama aku tak masuk gudang. Debu berhamburan di mana-mana. Sarang laba-laba bergelayuran sesuka mereka. Dan aku muali melakukan pekerjaanku. Memindahkan baran ini, mengangkat barang itu, merapikan itu, menyapu lantai dan lain-lain dan lain-lain.

Tiba-tiba mataku menumbuk sesuatu. Sebuah kardus mie-instant tertutup rapa oleh perekat tergeletak di pojok ruangan.

Kuhampiri dan kubuka perlahan. Dan… ya tuhan!. Setumpuk buku kumpulan puisi karya penyair terkenal. Ada punya Chairil, Sutardji, Umbu, Gus Mus, hingga STA dan beberapa karya penyair luar negeri. Serta setumpuk buku tulis. Semuanya usang dan sebagian ada yang berlubang dimakan kutu buku.

Aku keluarkan semuanya dari kardus itu. Aku bertanya dalam hati. Punya siapa buku-buku ini? Dan buku-buku tulis ini? Kubuka satu peratu. Aku tambah tak percaya; lebih dari tiga ratus puisi tertulis di dalamnya.

Tiba-tiba ada yang jatuh dari sela-sela buku tulis yang kupegang. Secarik kertas. Sebuah surat.

Untuk anakku tersayang.
Anakku, bapak menulis surat ini saat bapak baru saja membelikanmu susu. Ya, saat ini kamu baru berumur tiga tahun. Umur sedang lucu-lucunya.

Nak, bapak adalah orang yang sangat suka dengan puisi. Ketika bapak menulis, membaca atau mendengarkan puisi, hati bapak akan terasa nyaman dan sejuk. Dengan puisi bapak dapat merasakan dan menikmati hidup. Ya. Bapak memutuskan untuk menjadi seorang penyair. Waktu muda bapak, bapak habiskan untuk berkutat dengan puisi.

Tapi saat itu, kakekmu tidak mengijinkan bapak untuk menjadi seorang penyair. Maklum, kakekmu itu orangnya kolot, feudal. Maklum lah, kakekmu itu wong ndeso kluthuk. Kekekmu menginginkan bapak umtuk membantu kakek jualan garam sama ikan asin di pasar.
Bapak sempat cek cok dengan kakek waktu itu. Namun bapak bersikukuh dengan keputusan bapak. Menjadi seorang penyair. Hingga bapak menikah dengan ibumu dan kamu lahir, bapak masih berkutat dengan puisi. Bapak percaya kalau bapak bisa menghidupi kamu dan ibumu dengan puisi.

Tapi kenyataan berbicara lain. Mungkin karena tidak mendapat restudari kakekmu kali ya? Bapak tidak pernah mendapat uang sepeserpun dari puisi-puisi bapak. Sudah berpuluh-puluh kali bapak mengirimkan puisi-puisi bapak ke koran, tabloid, dan majalah. Hasilnya nihil. Tak satu puisi pun yang dimuat. Sudah beberapa kal bapakmendatangi penerbit. Tak satu pun yang mau menerbitkan puisi-puisi bapak.
Bapak sangat sedih nak. Untunglah ibumu orang yang sabar dan pengertian. Dia mengerti dengan keadaanbapak. Untungnya lagi, ibu bekerja sebagai guru SD. Jadi selama ini ibulah yang menjadi tulangpunggung keluarga, bukan bapak.

Bapak sangat malu sama ibu. Malu. Maka, saat ini bapak putuskan untuk melupakan citacita bapak dan menyingkirkan pisi-puisi bapak dari hadapan bapak dan berkonsentrasi untuk mencari pekerjaan lain yang lebih bisa diharapkan.
Bapak memang tidak membuang puisi-puisi bapak di laut atau membakarnya menjadi abu. Bapak masih menyimpannya. Ya untuk kenangan bapak jika bapak tua kelak.
Anakku, matahariku. Bapak ingin kamu menjadi orang yang berhasil. Terserah mau jadi apa. Asalkan jangan jadi penyair, itu saja. Tidak lebih. Bapak tidak inginkamu menjadi seperti bapak sekarang.

Anakku, bapak menyayangimu.

Kebumen, 3 Mei 87


Jiwaku gusar dan sedikit terguncang. Ternyata itulah mengapa bapak marah-marah saat aku bilang kalu aku inginmenjadi penyair. Aku tidak percaya, ternyata bapak menyimpan rahasia kepadaku.

Tiba-tiba air mataku mengalir membelah pipi. Dan aku semakin yakin dengan keputusanku untuk menjadi seoran gpenyair. Akan kubuktikan kepada bapak jika aku tidak akan seperti dia dulu. Akan kubuktikanjika kelak istri dan anak-anakku akakn aku kasih makan mereka puisi.

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, April 2007

DEMI ISTRI TERCINTA

Sudah satu minggu ini kampungku menjadi gempar. Kampung yang biasanya tenteram di setiap harinya dan tenang di setiap malamnya. Kampung yang setiap penduduknya selalu ramah satu sama lain. Tiba-tiba menjadi ramai, sejak tersiarnya kabar bahwa munculnya pencuri yang selalu mengambil ternak milik warga.

Sudah dua kasus pencurian dalam minggu ini. Pertama terjadi pada malam Selasa. Kejadian itu terjadi di rumah Kang Parlan. Senin sore, Kang Parlan baru saja memberi makan pada ketiga ekor ayam bangkoknya dan memasukkan ke dalam kandang. Memang ayam-ayam bangkok Kang Parlan terkenal jawara dalam setiap adu ayam. Paginya ketika dia bangun untuk salat subuh, dia merasakan hal yang aneh. Tidak seperti biasanya subuh itu ayam-ayamnya tidak berkokok.

Kang Parlan heran, bertanya dia dalam hati, apa gerangan yang terjadi dengan ayam-ayamnya. Lalu dia keluar untuk memastikan keadaan ayam-ayamnya. Ternyata apa yang terjadi? Didapatinya pintu kandang telah terbuka, gemboknya tergeletak di tanah dekat pintu. Padahal dia sudah menggembok pintunya kemarin sore. Dan ketiga ayam bangkok kesayangannya raib tanpa bekas tanpa jejak.

Selang dua hari kejadian itu terjadi lagi. Kali ini dialami oleh Mbah Warjo. Dua ekor ayam betina yang dipeliharanya selama satu tahun lenyap. Entah mimpi apa dia semalam. Babon yang selama ini dia pelihara dengan penuh kasih sayang, babon yang sejak masih kecil-kecil diberinya makan dengan teliti hingga besar raib. Padahal sehari sebelumya, Mbah Warjo bercerita kalau dia akan menjual kedua ayamnya di pasar untuk membeli beras. Kini Mbah Warjo hanya bisa meratapi nasibnya dengan hati kecewa.
Sungguh kasihan Mbah Warjo. Sungguh kurang ajar pencuri itu.

Dulu kampungku adalah kampung yang aman. Kampung yang tertib. Kampung yang dimana pada setiap malamnya anak-anak bermain petak umpet di pelataran. Kampung yang warganya ramah dan selalu tegur sapa. Tapi sejak kejadian pencurian itu kampung tidak seperti dulu agi. Setiap orang selalu was-was kalau-kalau rumahnya disatroni pencuri. Setiap orang menjadi saling curiga kalau-kalau orang yang ditemuinya adalah pencuri yang selama ini meresahkan.

Akhirnya pada sebuah rapat di rumah Pak RT disepakati jika program siskamling yang sempat vakum digiatkan kembali. Kalau dulu yang ronda hanya dua orang kini ditingkatkan tiga kali lipat. Poskamling yang dulu pada setiap malamnya sepi, kini dioptimalkan kembali. Pokoknya keamanan ditingkatkan kembali. Dan warga diminta selalu waspada setiap saat.

Dan malam harinya, hasil rapat tersebut segera direalisasikan. Enam orang warga melakukan ronda termasuk aku. Kami kumpul di poskamling pukul sembilan. Sebelum keliling kami ngobrol sejenak tentang kejadian pencurian yang terjadi selama ini sambil menikmati rokok dan ubi rebus.

Pukul sebelas kami pun bersiap-siap untuk keliling. Kami membagi tugas. Dua orang ke arah timur, dua orang ke arah barat, dan sisanya bertugas menjaga pos. Masing-masing kelompok membawa kentongan, dan lampu baterei.

Baru seperempat jam berjalan aku melihat seseorang dengan pakaian serba hitam dan mukanya ditutupi dengan sarung seperti ninja, gerak-geriknya mencurigakan. Tangan kirinya memegang sesuatu seperti ayam, ya ayam. Aku beri tahu kawanku tentang hal itu dan menyuruhnya untuk memperhatikannya dengan seksama. Orang yang tersebut terlihat akan masuk rumah Pak RT melalui jendela. Spontanitas, kami berteriak sambil berlari.

“Maling….maling…!!”

Karena mendengar teriakkan, pencuri itu pun kelabakan dan lari. Apalagi warga banyak yang keluar dari rumah mereka dan ikut bersama kami mengejarnya. Sampai di kebon pisang, kami kehilangan jejak. Dia bersembunyi di sana. Kami pun mengadakan proses pencarian.

Tidaklah diperlukan waktu yang lama untuk mendapatkan apa yang kami inginkan. Dengan personel yang ada, sekitar seperempat jam akhirnya kami menemukannya. Pencuri itu sedang bersembunyi di bawah sela-sela batang pohon pisang dengan seekor ayam di tangan kirinya. Tanpa komando, warga pun segera mengepung dan menghujaninya dengan pukulan dan tendangan hingga babak belur, terkapar tak berdaya.

Melihat kejadian itu, aku pun segera mengambil tindakan untuk menghentikannya.

“Hentikan…hentikan saudara-saudara…!”

Mereka pun menghentikan kegiatan mereka.

“Kita tidak boleh main hakim sendiri. Dia sudah tidak berdaya, lebih baik kita bawa ke kantor polisi, biar aparat keamanan yang menanganinya. Coba kita lihat siapa sebenarnya pencuri yang telah meresahkan warga ini.”

Aku pun membuka kain sarung yang menutupi wajahnya. Betapa terkejutnya kami. Tidak bisa dipercaya. Ternyata orang yang selama ini meresahkan warga dan membuat kampung tidak tenang adalah Pak RT. Setelah di interograsi oleh warga kenapa di amencuri, ternyata masalahnya cuma sepele tetapi tidak bisa di anggap remeh. Istrinya yang sedang hamil tua ngidam ingin makan ayam goreng, namun ayam itu harus didapatkan dengan cara mencuri. Jika tidak, dia tidak mau makan apapun.

Kini Pak RT harus menginap di kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan istrinya tidak bisa memenuhi keinginan si jabang bayi.


Purwokerto, 2005

07 Februari 2009

DURNA GUGAT

Malam bertambah larut, namun langit tak menampakkan wajah yang pekat. Langit terang. Alam tampak tenang. Hanya beberapa helai angin yang bergerak semilir. Berloncatan menggoyangkan reranting pohon yang diinjaknya. Tanah basah disiram embun yang memang dingin. Udara malam menusuk daging hingga tembus ke ujung-ujung tulang.

Sementara itu para niyaga masih memainkan gamelannya dengan irama rancak nan ritmis. Di tengah-tengah mereka, seorang panjuk memainkan tangan-tangannya dengan lincah menabuh permukaan kulit kendhang. Dengan penuh semangat dibuatnya tabuhan-tabuhan yang menghentak. Sementara yang lain masih me-ning... nang... ning... gung –kan alat musik jawa di hadapannya itu.

Lima orang wanita berpakaian kebaya duduk bersimpuh berjajar. Mereka masih terlihat muda meski usianya lebih dari tiga puluh. Mereka adalah para sinden. Dari helai bibir mereka yang bercat merah menyala seperti jambu air itu keluar suara-suara melengking namun merdu menyanyikan tembang alam.

Purnama hampir jatuh di setiap ubun-ubun orang-orang yang ada di tempat itu. Udara bertambah dingin. Tetapi mereka masih berdiri di tempat itu menunggu sang dalang naik ke singgasananya. Ada juga yang duduk-duduk sambil menikmati kacang kulit yang dibawanya dari rumah atau mengepulkan rokok di bibirnya. Para Kurawa pun masih berdiri menancapkan ujung-ujung jemari kakiku pada batang pohon pisang hingga tepat di bawah lutut. Tampak di samping Bisma, ada Duryudana, Durna dan Sengkuni. Di belakangnya ada Karna beserta prajurit-prajurit yang lain. Ya, ya. mereka adalah Kurawa.

Mereka masih berdiri di sebelah kiri gunungan yang berdiri gagah dan kokoh menantang langit yang gemintang.

Malam bertambah dingin.

Sinden-sinden itu masih mengeluarkan suara-suara dari mulut mereka. Menurut mereka adalah tembang yang merdu. Tapi sepintas biasa-biasa saja. Tak ubahnya dengan tangis bayi kecil yang ingin netek pada pu ting ibunya, atau seperti suara seorang nenek renta yang menegadahkan tangannya di ujung lorong Astina. Atau layaknya erangan istriku di ranjang empuk waktu kami bersenggama.

Di sebelah kiri gunungan tetancap rombongan Duryudana lengkap beserta bala Kurawanya. Ada Bisma, Durna, Sengkuni, Dursasana dan sebangainya. Terlihat mata mereka begitu tajam dan bengis.

Tampak di depan mereka, di sebelah kanan gunungan itu, sekelompok manusia kulit yang kakinya menancap pula. Mereka adalah Pandawa bersama anak, istri, kemenakan dan prajurit-prajuritnya. Puntadewa berdiri paling depan. Disusul Bima dan Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Di belakangnya Kurawa di Astinadiraja.

Malam semakin berlari. Bintang-bintang di langit hilang tertutup mendung yang pekat. Tak tahu kenapa. Para niyaga memainkan alat musik seperti kesetanan. Ditabuhnya gamelan itu keras-keras. Keras, keras, keras dan cepat. Tiba-tiba petir menyambar. Kilat menjilat dan jatuh di depan panggung dan menimbulkan suara dentuman yang memecah gendang telinga. Lalu terlihat kepulan asap putih yang pekat.

Tak selang berapa lama, asap itu mulai menipis. Dari dalam asap itu nampaklah sesosok bayangan manusia. Semakin lama bayangan itu semakin jelas dan tegas. Seorang laki-laki yang sudah mulai tua namun badannya masih tegap dan kekar. Wajahnya keriput namun sorot matanya tajam. Di tubuhnya menempel pakaian kerajaan seperti di dunia wayang.

Sementara itu, seluruh yang ada di tempat itu diam dan tercengang.

Tiba-tiba dari mulutnya keluar suara, ”Wahai anak manusia, apakah kalian kaget melihatku berdiri di sini? Kalian tidak usah takut. Oh, baiklah, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Durna. Ya, Resi Durna.”

”Kedatanganku ke tempat ini tidak untuk menghancurkan tempat ini. Aku hanya ingin mengutarakan beberapa unek-unek yang selalu ada di otakku.”

Para manusia masih tercengang dan kaku memandang sosok itu.

“Seperti yang sudah aku katakan tadi, kedatanganku ke bumi ini adalah untuk menanyakan sesuatu kepada kalian yang aku rasa tidak adil bagiku. Sebenarnya cuma satu permasalahannya. Kenapa kalian memandangku sebagai manusia jahat? Kenapa?"

“Baik, mungkin karena aku adalah penasihat para Kurawa yang menjadi musuh Pendawa itu. Atau karena aku adalah seorang patih di Astinadiraja itu?”

“Jika aku harus memusuhi Pendawa ketika perang Baratayudha itu dikarenakan sikapku yang menjunjung tinggi kepada negaraku. Kepada tanah air dimana aku dan keluargaku hidup dan beranak pinak. Jangan kau tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negara. Kalian pernah dengar itu? Itu adalah patriotisme seorang warga negara yang baik. Right or wrong is my country. Jadi seburuk apapun itu, dia adalah negaraku, tempat aku hidup dan mencari nafkah.”

“Kenapa kalian masih mematung seperti itu? Apa penjelasan itu kurang cukup bagi kalian?”

“Baik, coba kalian dengarkan. Dulu ketika aku hendak mencari Sucitra, saudara seperguruanku di tanah Jawa, untuk dapat menemuinya aku harus menyeberang lautan, lalu aku berdoa kepada dewa agar diberi kemudahan kepada dewa supaya dapat menyeberang lautan itu. Lalu dewa megabulkan doaku, dia mengirimkan seekor kuda, dengan naik kuda itu akhirnya aku bisa menyeberang lautan. Di tengah lautan aku menyadari bahwa kuda itu adalah betina. Nafsu hebat menguasaiku hingga aku lupa diri. Di suatu tempat terpencil, aku meelakukan hubungan seksual dengan kuda itu hingga dia hamil. Tak lama kemudian lahir seorang bocah yang elok rupanya hanya saja kakinya cacat. Dia diberi nama Aswataman. Kalian pernah mendengar cerita itu bukan? Benar itu adalah cerita yang dibuat-buat oleh Gathutkaca. Itu hanya bohong belaka. Dia, Gathutkaca hanya membual.”

“Memang benar jika aku menghamili seekor kuda, namun bukan karena alasan nafsu berahi. Itu karena aku menjunjung tinggi sikap bawalaksana sebagai seorang ksatria. Ketika itu aku bersumpah kepada siapa saja yang dapat menyeberangkan aku ke tanah Jawa, maka kalau laki-laki akan aku angkat sebagai sedhulursinarawedhi dan kalau perempuan akan aku ambil sebagai istri. Untuk mengujiku, dewa mengirimkan kuda betina kepadaku dan menyatakan keanggupannya untuk membawaku menyeberang ke tanah Jawa. Karena aku sudah bersumpah, maka aku pun menerima uluran tangan kuda betina itu.”

”Karena aku seorang ksatria, maka konsekuensinya aku harus menikahi kuda betina itu. Dan perkawinan itu tidak hanya di formalitas saja. Aku pun wajib memperlakukannya layaknya seorang istri. Dan aku beri tahu kepada kalian, bahwasanya kuda itu adalah jelmaan dari Bethari Wilutama, seorang bidadari. Itulah kenyataannya.”

”Kenapa kalian tetap saja diam, apa penjelasanku kurang jelas?”

”Apa alasan itu tidak membuat kalian berubah pikiran?”

”O, mungkin kalian belum bisa terima akan sifatku yang picik terhadap Bima? Tidak, aku tidak sepicik yang kau kira. Aku menyuruh Bima untuk mencari air suci di Tirtapawitra bukan untuk menjauhkan Bima dari saudara-saudaranya. Memang air suci itu bukanlah air yang mempunyai kekuatan seperti para penyihir, namun air suci itu adalah alam raya seutuhnya. Dari perjalanan itu Bima dapat mengerti apa arti sebuah perjuangan dan pengorbanan. Meskipaun dia tak berhasil menemukan air suci itu, namun dia dapat bertemu dengan Dewa Ruci yang agung. Darinya dia dapat belajar betapa kecilnya manusia dihadapan Sang Zat. Itulah sebenarnya tujuanku menyuruh Bima untuk berkelana mencari air suci.”

”Aku rasa dari cerita di atas kalian dapat mengerti betapa aku tidaklah pantas dimasukkan ke dalam golongan jahat.”

Sunyi.

Tiba-tiba Durna terdiam, lalu menitikkan air mata.

”Dan satu lagi yang membuatku sangat terluka. Dulu di negeri ini pada masa Orde Lama ada seseorang yang sangat dibenci oleh masyarakat, dia diberi julukan Durna. Itu, itu yang sangat menyesakkan hatiku.”

Air matanya tak lagi menitik, namun kini berubah seperti hujan lebat di malam hari. Isaknya bertambah keras dan semakin keras. Tertunduk dia dan memasukkan mukanya ke telungkup tangannya.

Tiba-tiba angin bertambah kencang, langit menjadi mendung, pekat menutup gemintang. Gemuruh suara langit membahama. Lalu selarik kilat turun ke bumi menyambar sosok itu. Tak selang berapa lama sosok yang mengaku Durna itu lenyap bersama lenyapnya kilat.

Kemudian tawa pecah dari setiap mulut yang berada di tempat itu. Mereka seakan tidak mau tahu tetang apa yang telah dialaminya. Gamelan mulai ditabuh lagi. Sinden mulai menyanyikan tembangnya. Dalang pun mengangkat gunungan di hadapannya dan segera memulai pertunjukkan itu. Dan tetap menempatkan Durna di tempat sebelah kiri bersama para Kurawa.

Sanggar Sastra Wedhang Kendi, Agustus-September 2006

*Ini cerpen yang luar biasa, sebab cerpen ini menjadi juara harapan I pada Peksiminas di Jambi kemarin. Akan tetapi, saya tidak mendapat hadiah sepeserpun dari panitia kampus, panitia daerah, maupun panitia pusat. Hiks...hiks...

25 Januari 2009

CERITA MENJELANG SUBUH

“Ayah, bangun. Kalau selesai menulis, laptopnya dimatikan, jangan ditinggal tidur seperti itu.”

Aku segera membuka mata sambil menggeliat. “Jam berapa sekarang Nda?”

“Tiga seperempat,” sahutnya pelan, “sudah sekarang ayah ke kamar mandi, cuci muka, wudlu terus kita tahajud berjamaah ya. Biar laptopnya Nda yang matikan.”

Aku segera beranjak dari tempat dudukku dimana aku tertidur barusan. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Kuambil air wudlu. Ah betapa segarnya air wudlu. Tidak, tidak dingin, melainkan segar. Seketika kantukku lenyap bersama air dari mulut kran yang jatuh ke lantai dan mengalir ke dalam lubang kecil di pojok kanan kamar mandi ini. Kubasuh tangan, muka, dan kaki layaknya sempurnanya bersuci. Setelah selesai bersuci aku berjalan menuju pesholatan yang terletak bersebelahan dengan kamar tidur kami.

Istriku sudah menunggu di sana. Mukena putih telah membalut tubuhnya yang kecil. Ku kenakan sarung bermotif kotak-kotak yang tadinya tergantung di tembok. Segera aku berdiri di depan istriku di atas sajadah hijau lumut bergambar masjid yang telah digelarkan oleh dia. Kami sholat tahajud berjamaah.

Selesai berdoa aku beranjak mengambil laptop dan menuju ke kamar tidur. Tetapi istriku tidak mengikuti langkahku. Dia tetap duduk berada di ruang kecil itu. Memang sudah menjadi kebiasaannya, bila setelah sholat malam dia akan nderes barang dua atau tiga halaman. Suaranya sangat indah. Dari dalam kamar aku bisa merasakan merdunya ayat-ayat Allah yang dibacanya meresap ke dalam tubuhku. Dia pintar sekali mempermainkan nada. Tidak merusak akan tetapi memperindah.

Pada saat seperti inilah aku menyadari betapa beruntungnya aku dapat menikahinya. Menikahi Ayu, perempuan yang tadinya menurutku tidak mungkin aku dapatkan.

Aku mengenalnya semasa kuliah di Purwokerto. Sebah kota kecil di selatan kaki gunung tertinggi di Jawa Tengah, Gunung Slamet. Kami satu kampus kala itu. Dia adik kelas empat semester di bawahku. Aku jurusan Sastra Inggris dan dia di Sastra Indonesia. Tak ada yang menarik kali pertama pertemuan kami. Yang jelas dia pernah berucap bahwa dia cukup illfeel melihatku. Bagaimana tidak, seorang laki-laki berbadan kecil berwarna coklat kusam yang jarang menikmati harumnya sabun mandi dan segarnya siraman air, tak punya daging, dengan kulit yang menyelimuti tulang terbungkus kaos warna-warni bergambar iklan salah satu partai politik atau iklan sebuah toko bangunan dan celana jeans yang kedua lututnya membentuk sebuah jendela tanpa daun. Belum lagi dengan rambut yang terurai hingga sebahu yang jarang mengenal apa itu nikmatnya bershampo. Sebuah tongkrongan yang sempurna bagi seorang laki-laki yang bergelut di dunia teater dan pecinta alam! Ah biasa perempuan. Puan mana yang tidak akan risih bila bersanding dengan tuan yang bersosok tadi. Apalagi dia tahu dengan kebiasaanku bercengkrama dengan nikotin dan alkohol.

Terserah dia mau berucap apa, aku pun tak peduli. Aku tetap setia dengan asap rokok yang mengepul dan aroma ciu yang menurutku lebih harum dari Christian Dior Parfume yang biasa dipakai Monica Belluci dan lebih menyegarkan dari air yang mengalir di pegunungan.

Ah perempuan bertubuh mungil. Mungil? Ah tidak, tepatnya kecil, sangat kecil untuk perempuan seusia dia. Pernah suatu ketika aku berucap padanya “Hei bocah cilik, ini kampus ya dik, bukan madrasah tsanawiyah, kalau madrasah tsanawiyah itu di seberang jalan sana.” Aku tahu dia sangat tidak suka dengan ucapanku yang seperti itu. Tapi aku tak peduli. Toh dia tidak akan marah hingga berhari-hari, berbulan-bulan, atau hingga liang kubur menganga.

Pernah di suatu siang yang tidak terlalu terik, ada seseorang memberitahuku jika dia, perempuan bertubuh kecil itu, sedang tergeletak tak berdaya di salah satu bangsal di sebuah rumah sakit swasta yang letaknya tidak jauh dari tempat kami studi. Entah setan apa, entah malaikat siapa segera mangangkat kaki-kaki ini merunut jalan tanpa peta menuju tempat dimana dia terbaring.

“Lho mas Ryan sendiri?” Tanyanya lirih.

“Iya, tadi kudengar kau sakit, jadi aku sekalian mampir untuk menjengukmu.”

Tubuhnya yang kecil tampak tambah kurus. Wajahnya yang terbalut kerudung nampak pucat. Di tangan sedelah kiri tertempel selang bening tertutup perban kecil menjuntai ke atas dan bermuara di dalam sebuah bungkusan berisi air glukosa berwarna bening.

“Keadaanmu bagaimana?” lanjutku.

“Masih lemas mas, ini gara-gara ospek kemarin, aku dihukum tidak boleh makan. Padahal aku baru keluar dari rumah sakit, eh sekarang masuk lagi.”

“Siapa sih yang nyuruh kamu tidak makan? Nanti biar mas Ryan yang urus.”

“Tidak usah.”

Ah istriku. Pasti waktu itu orang tuamu bertanya-tanya tentang aku. Laki-laki yang telah terdeskrisi di atas. Kecil, hitam, godrong, kucel, jarang mandi, perokok berat, dengan kaos iklan dan celana jeans sobek di kedua lututnya yang jarang sekali ganti. Mahasiswakah dia? Dan aku tahu, sudah pasti kau berkata bahwa dia adalah seorang anak teater, seniman. Atau sekejam-kejamnya kau akan berkata bahwa kau tidak mengenalnya hahaa…

Pernah suatu sore dia duduk sendiri di sebuah kursi panjang di depan kantor dosen. Duduk menghadap lapangan basket yang biasa dipakai untuk futsal. Kudekati kau, puan bertubuh mungil, eh kecil yang terbalut jilbab biru tua dengan kaca mata menempel di wajahmu. Air matamu leleh dan terjatuh.

“Mas, Hari sensei, mas,” ucapnya.

“Dosen bahasa Jepang itu? Ada apa dengan dia?”

“Dia menjalin hubungan dengan Elli sensei.”

“Lha memangnya tidak boleh?”

“Ya tidak boleh.”

“Aku kan suka Hari sensei, aku cinta padanya.”

Seketika ganti ketawaku yang hampir meledak dengan senyum yang tertahan mendengar pernyataan yang meluncur dari mulutnya. Tidak salah dengar aku? Dia mencintai dosen bahasa Jepangnya!

“Kalau Pak Hari memilih bu Elli ya wajar mbok? Bu Elli cantik, tinggi, seksi, kaya. Sedangkan kamu kecil, ciwek, kecil, cerewet, kecil, kecil, dan kecil, hahaa…” ucapku sambil tertawa lebar. Sementara tangan kananku memainkan batang rokok yang menyala tinggal separuh.

Maka air matanya pun bertambah deras. Mengucur bagai curug Gede di Baturraden tempat kami biasa menghabiskan akhir pekan. Aku pun kelabakan, mencari akal supaya dia tak lagi berair mata. Maka jurus-jurus komedi aku keluarkan dari seluruh tubuhku. Dari yang lucu, wagu, tidak mutu, maupun saru. Hahaha… aku jadi tertawa sendiri.

Waktu merambat pelan. Masih kudengar nada puisi-puisi Sang Maha Puisi terlantun dari bibir istriku. Jiwaku semakin tergetar. Betapa Maha Mulainya Allah yang telah menganugerahkan dia menjadi pendampingku. Mengarungi samudera cinta tanpa dasar. O aku jatuh cinta lagi kepadanya.

Siang itu udara bersahabat. Aku duduk di bawah pohon ketapang yang berdiri kokoh di depan sekretariat teater. Segelas kopi hasil berhutang di kantin depan tadi sudah habis separuh. Demikian juga dengan rokok kretek yang aku pilin sendiri, tinggal separuh. Tidak biasanya, kali ini aku berdandan rapih. Ini diluar kebiasaanku. Di tangan kananku terdapat sebuah buku puisi karya Walt Whitman dengan halaman yang terbuka. Ya, buku itu sedang aku analisis untuk bahan skripsiku.

Tanpa sengaja mataku menatap ke depan. Kutangkap lewat retinaku seorang wanita yang, Subhanallah, anggun. Dia mengenakan gamis berwarna biru muda. Kakinya hampir tertutup oleh rok besar berwarna hitam. Hanya sepatu kecilnya saja yang terlihat. Kerudungnya, ah bukan, jilbabnya menutup seluruh rambutnya dengan sempurna. Wajahnya bersih dan bercahaya seperti marmer, ah bukan, tepatnya seperti pualam. Di depan kedua matanya terpasang kaca bening. Dia berjalan seperti macan luwe. Pelan, tap…tap…tap… Aku rasa dia bukan manusia. Peri? Mungkin. Bidadari? Atau malaikat?
Dia puan yang selama ini aku cari. Tubuhnya tidak terlalu besar, cantik, memakai kerudung ,dan berkacamata. Dia berjalan semakin mendekat. Dia tersenyum kepadaku.
Ah perasaan apa lagi ini? Aku jatuh cinta! Aku memang terbiasa jatuh cinta, namun tidak yang seperti ini. Ini lebih dari sekedar jatuh cinta yang seperti ditulis dalam puisi Walt Whitman yang aku pegang. Lebih dari itu. Lalu aku harus apa? Diam seperti hasil pahatan Lin Mursal kawan pematungku? Atau tak terbentuk seperti hasil coretan kuas Muhammad Ayatullah kawan pelukisku? Ah, aku jatuh cinta wahai rumput, pohon ketapang, kopi, rokok, Walt Whitman, tanah, udara, angin, asap, dunia. aku jatuh cinta pada dia. Perempuan kecil itu. Perempuan yang selalu aku ledek dengan sebutan bocah cilik. Aku jatuh cinta padanya!

Dai berlalu. Aku membeku.

Aku mengejarnya, dan dia tiada. Hilang, lenyap. Kucari dia di setiap sudut kampus ini. Dan aku temukan dia di antara manusia-manusia yang duduk berjejer. Ah sayang, dia sudah masuk kuliah. Kutunggu dia. Aku duduk di depan ruang kuliah yang pintunya terbuka lebar. Kutatap dia. Kutatap dengan mata elangku yang paling tajam. Mataku menjelma kamera, tak kubiarkan sedikitpun moment tentang dia yang terlewat. Caranya duduk, menulis, mengacungkan tangan, bertanya, bicara, menatap, tersenyum. Kurekam semua dan kusimpan dalam sebuah file yang paling rahasia di otakku.

Kuliah usai. Dia keluar. Dia tersenyum padaku. Ah, aku yang tadinya tidak terbiasa nyebut, kali ini ternyata aku menjadi terbiasa. Ya Allah, senyum apakah itu hingga membuatku tak berucap? Aku masih membeku. Ketika aku tersadar dia telah berlalu.
Kukejar dia dan kupanggil namanya. Dia menoleh dan berhenti. Ditatapnya diriku.

“Mas Ryan memanggilku?”

“Iya,” sambil kutarik tangannya. Tapi dia menghindar.

“Jangan kurang ajar mas!”

“Maaf Ayu, mas tidak bermaksud kurang ajar,” aku menarik nafas, ”begini Ayu,” kutarik lagi nafas dalam-dalam, “Ayu mau jadi pacarnya mas Ryan?” Setan apa yang meracuniku hingga berani berucap seperti itu?

Dia terdiam.

“Begini Yu, Mas Ryan minta jawaban sekarang. Iya atau tidak. Jika tidak sekarang, anggap saja mas Ryan tidak pernah ngomong seperti ini.” Tambahku.

Dia masih terdiam. Dia menatapku tajam setajam aku menatapnya. Tiba-tiba dia berlari dan pergi. Dan aku tidak mengejarnya. Kubiarkan dia pergi.

Aku kembali ke tempat semula. Duduk di bawah pohon ketapang. Aku mengumpat dalam diri. What the hell I was doing here? Apa yang telah aku lakukan? Aku mengutarakan perasaan kepada perempuan yang begitu anggun dengan caara yang bodoh dan melakukan! Tak habis pikir. Kusruput kopi yang sudah dingin tadi. Kuambil tembakau dan kuletakkan dia atas kertas rokok. Kupilin dengan cepat. Sebatang rokok telah jadi. Kunyalakan dan kuhirup dalam-dalam dan berulang-ulang. Aku tahu, dengan rokok pasti kebingunganku akan segera lenyap. Tapi tetap saja tidak berpengaruh. Kucaoba mengalihkan perhatian dengan membaca puisi Walt Whitman yang aku tinggal tadi. Ah, tetap saja tak berpengaruh, malah membuat kepalaku bertambah bengel, apalagi puisinya menggunakan bahasa Inggris.

Hingga sore berkunjung, aku masih duduk di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai menghijau lagi. Kopi yang tersisa hanya tinggal cekakiknya saja. Tembakau di plastik sudah hampir habis aku pilin. Dan aku masih sama keadaannya seperti siang tadi. Bingung. Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiriku. Bukan, dia bukan Ayu. Dia Rahma, aku mengenalnya. Dia teman sekamar dengan Ayu di kos.

“Mas Ryan, Ayu diapakan? Ini ada titipan dari Ayu,” disodorkannya sepucuk surat beramplop putih dengan garis-garis merah biru di tepinya. Seperti kondangan saja. “­Nemunya amplop itu. Ya wes, aku praktikum dulu.” Dia berlalu seperti angin yang bertiup dari pucuk gunung Slamet.

Di amplopnya tertulis : Buat Mas Ryan. Kubuka amplopnya yang memang tidak di lem. Kuambil isinya, sebuah kertas surat berwarna biru muda. Kubuka lipatannya. Kuamati sejenak, tulisannya rapi. Kubaca dengan cepat. -Ah rasanya aku tak perlu menuliskan secara lengkap isi suratnya di cerpen ini. Sebab aku rasa cerpen ini sudah cukup panjang-. Di dalam suratnya, dia menuliskan dalil dan hadist tentang pacaran, tentang hubungan sebelum nikah. Dia tidak mengatakan bahwa dia menolak cintaku. Jadi aku katakan saja intinya. Yang jelas, kalimat pertama adalah kalimat salam. Intinya dia tidak mau pacaran sebelum nikah. Dia ingin pacaran sesudah nikah!

Aku tersenyum kecut. Aku sudah menduga hasilnya. Bagaimana tidak, dia anak UKI, aku anak teater yang merangkap mapala. Dia akhwat, aku syahwat. Dia rajin shalat, aku rajin madat. Dia rajin baca Al Quran, aku rajin keluyuran. Mana mungkin dia bersedia pacaran? Apalagi dengan manusia surealis sepertiku. Aku yang bodoh apa aku yang konyol? Aku rasa kedua-duanya. Dia tidak salah.

Kok sepi? Ah, ternyata istriku telah selesai nderes. Tiba-tiba adzan subuh terdegar membangunkan manusia-manusia dari lelapnya. Istriku masuk ke dalam kamar. Dia masih mengenakan mukena.

“Ayah, subuhan yuk?” ajaknya dengan nada pelan.

Aku bangkit dari dudukku.

“Yah, nulis cerpen apa?”

“Tentang nda dan ayah.”

“Tentang apa?”

“Kuliah dulu, waktu ayah nembak nda sampai akhirnya kita menikah.”

“Ih… awas jangan ditambah-tambahi lho!”

“Lha wong namanya juga cerpen ya harus ditambah-tambahi.”

“Sudah selesai?”

“Belum,” jawabku singkat.

“Kok ndak diselesaikan?” Tanyanya lagi.

“Malas, ah. Ayah ndak jadi ikut lomba cerpen ah.” Jawabku santai sambil ngeluyur ke pesholatan.

Purwokerto, Desember 2008


pesholatan : tempat untuk sholat di dalam rumah.
nderes : mengaji, membaca Al Quran
illfeel : tidak nyaman
bocah cilik : anak kecil (Jawa)
sensei : guru, dosen, pengajar (Jepang)
mbok : -kan, partikel tanya dalam bahasa Jawa Banyumasan.
wagu : tidak bermutu (Jawa)
saru : seronok, jorok, tidak senonoh (Jawa)
macan luwe : macan kelaparan (istilah dalam bahasa Jawa yang artinya lemah gemulai)
ledek : goda
nyebut : menyebut asma Allah, beristighfar (Jawa)
bengel : pusing, pening (Jawa)
cekakik : ampas kopi
wes : sudah (Jawa)

19 Desember 2008

SENYUM PARA MALAIKAT


“Hai malaikat-malaikat-Ku, telah Ku jadikan bulan ini sebagai berlian manikam yang paling manikam di seluruh alam ciptaan-Ku. Telah kupersiapkan tak terujung pahala bagi manusia di bumi yang kecil itu, tentu saja bagi mereka, umat Muhammad yang selalu menyerukan nama-Ku dalam setiap lakunya. Telah Ku janjikan seribu bulan bagi mereka yang senantiasa melafazkan asma-Ku di mendekati penghujung Ramadhan ini. Maka, ambillah kantung-kantung pahala di almari itu dan turunlah kalian ke planet biru itu. hampiri mereka yang selalu menyeru nama-Ku!”

Maka seketika para malaikat bergegas menuju sebuah ruangan di salah satu sudut surga firdaus. Di ruang tersebut terdapat almari-almari berwarna nikmat, berjajar membentuk barisan seperti parade. Para malaikat berdiri satu persatu di depan almari tersebut dan membuka pintunya bersamaan. Maka terlihatlah ribuan kantung terbuat dari cahaya surga. Dalam kantung-kantung tersebut terdapat tak terhitung pahala yang bersinar terbuat dari cahaya surga yang paling indah dan utama. Diambilnya seluruh kantung-kantung pahala tersebut dan dimasukkannya ke dalam tas yang sangat besar di pinggangnya.

Setelah itu, mereka segera keluar dari rumah Allah dan menuju pelataran yang sangat luas. Mereka berjajar rapi. Kedua buah sayap yang terkuncup di belakang pundaknya serentak merentang gagah seperti elang dan mengeluarkan cahaya yang nikmat. Sayap yang indah. Bulu-bulunya putih melebihi putihnya kapas atau susu yang diperas dari payudara unta terbaik di jazirah Arab.

Tak selang kemudian, serentak ribuan malaikat terbang melesat ke angkasa raya dari surga yang paling mulia menuju sebuah bola kecil berwarna biru di antara ribuan bintang di salah satu sudut galaksi. Bola kecil itu bernama bumi. Tempat dimana jutaan manusia anak cucu Adam hidup. Terbang membantang sayap. Melesap lepas lebih cepat dari kecepatan cahaya. Begitu cepatnya hingga terlihat seperti larik cahaya tipis yang berkilau menyegarkan mata. Mereka membentuk sebuah formasi indah melebihi lukisan Michael Angelo atau Monet.

Ada kesegaran melebihi embun pagi di setiap wajah mereka. Madu termanis dari sungai di belakang rumah Allah tersulam sempurna di bibir mereka, membentuk sebuah senyuman yang selalu tersemat. Betapa tidak, mereka membawa berjuta pahala yang luar biasa nikmatnya untuk manusia-manusia terpilih di mata tuhan mereka. Pahala yang tercipta dari tangan Allah yang paling suci di bulan yang paling suci dari segala bulan yang ada. Pahala yang hanya ada di bulan Ramadhan. Terlebih lagi mereka turun ke bumi tepat pada malam lailatul qadar. Malam yang paling mulia diantara malam-malam yang ada.

Dari kedua buah bibir yang selalu tersimpul senyum kebanggaan itu terlafadzkan kata-kata takbir, tahmid, dan tahlil menyerukan asma Allah. Mereka berzikir kepada Allah. Seperti itu selalu. Alangkah merdunya, melebihi nyanyian termerdu dari bibir Sirens yang membuat gila Odiseus atau nada-nada yang dilahirkan oleh jari-jari lembut Apollo yang menari di dawai-dawai harpa emasnya.

Tubuh mereka yang gagah, terbungkus pakaian terindah. Di kepala mereka juga terlilit surban dengan warna yang sama dengan pakaian mereka. Pakaian yang dirajut dari benang-benang sutra yang dipetik dari pohon emas putih yang tumbuh di taman surga.
Dan bagi setiap langit yang dilintasi para malikat itu adalah sebuah anugrah yang maha nikmat yang diberikan oleh penciptanya. Setiap benda angkasa di langit tersebut serentak memberikan sambutan dan mengiringi perjalanan para malaikat pembawa kantung-kantung pahala dari surga itu dengan nyanyian termerdu dari bibir mereka. Sama seperti yang dilafadzkan para malaikat itu. Ya, bintang, planet, bulan, meteor, galaksi dan jutaan benda langit lainnya berzikir kepada Allah. Bahkan debu yang mengambang di langit hampa segera berlari agar para malaikat Allah itu dapat terbang di jalan yang bersih dan suci. Dan tak lupa mereka pun ikut berzikir menyerukan asma Allah Subhanahuwataalla.

Laaillahaillalah! Laaillahaillalah! Laaillahaillalah!

Subhanallah! Subhanallah! Subhanallah!

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Ya, seluruh alam mengiringi perjalanan mereka ke alam manusia. Senantiasa berzikir tiada henti seperti rantai yang tak pernah putus dari surga hingga Bumi.
Hingga pada akhirnya, rombongan malaikat suci pembawa pahala yang diberkahi oleh Allah Subhanahuwataala pun masuk ke dalam tata surya matahari. Sebuah tata surya kecil di antara jutaan tata surya yang ada di gugus bintang Bimasakti. Di sini pun demikaian halnya. Matahari, sebagai tuan rumah segera memerintahkan anak-anaknya untuk menyambut kedatangan para malaikat Allah dengan lantunan zikir.

“Assalamualaikum warahmatullahiwabarokatuh.”

“Waalaikum salam warahmatullahiwabarokatuh. Selamat datang wahai para malaikat Allah yang mulia”sahut Matahari beserta isi tata surya.

Tata surya ini adalah tata surya yang paling beruntung diantara tata surya lain. Bagaimana tidak, di tata surya yang kecil ini terdapat sebuah planet berwarna biru bernama bumi yang terdapat air dan udara hingga menjadi sebuah rumah bagi mahluk hidup. Di tata surya inilah mahluk tuhan yang bernama manusia ada dan hidup. Di tata surya ini lahir manusia-manusia pilihan yang di berkahi dan disayangi oleh penciptanya. Di tata surya ini lahir manusia pembawa ajaran tauhid seperti Nuh, Ibrahim, Ismail, Sulaiman, Isa, dan manusia paling mulia di sisi Allah, manusia penyempurna Islam, Muahammad. Di planet bumi inilah Al-Quran hadir. Dan di tata surya inilah pada setiap tahunnya, ribuan malaikat Allah datang membawa jutaan pahala ternikmat dari lemari surga yang paling teridah.

Dari Pluto, Neptunus, Uranus, Saturnus, Jupiter, dan Mars berserta para satelitnya berzikir tiada henti serta memberikan salam teridah bagi para malaikat Allah. Meskipun Matahari, Merkurius, dan Venus tidak dilalui oleh malaikat-malaikat itu, namun mereka tetap bersemangat memberikan sambutan dan doa serta zikir kepada Allah.
Hingga akhirnya mereka pun tiba di planet kecil berwarna biru dan putih tempat dulu pertama kali Adam, manusia pertama di alam raya ini di turunkan dari surga bersama Hawa. Sebelumnya mereka telah disambut terlebih dahulu oleh benda kecil di sebelah Bumi bernama bulan.

Dan Bumilah, benda langit kecil itu yang paling bersemangat dan penuh suka cita menyambut mereka. Dari atmosfer dingin yang paling terluar hingga api yang membara dalam perut bumi yang paling dalam. Tanah, air, pohon, rumput, bunga, gajah, jerapah, sapi, kuda, angsa, burung, ikan, kumbang, cacing, hingga bakteri yang paling terkecil sekalipun tak henti-hentinya berzikir kepada Allah menyambut malaikat-malaikat suci itu.

Sesampai di atmosfer, tanpa perlu dikomando, mereka segera menyabar ke seluruh penjuru dunia. Mereka melesat menuju Makkah, Madinah, Palestina, Kairo, Iran, Suriah, Turki, Afrika Selatan, Nigeria, Indonesia, India, Jepang, Bosnia Herzegovina, Inggris, Spanyol, Jerman, Itali, Austria, Meksiko, Brazil, Argentina, Kuba, hingga Amerika dan Rusia. Setiap negara dimanapun di belahan dunia. Tidak peduli negara itu menganut paham federal, republik, sekuler atau bahkan komunis. Dari kota-kota besar hingga desa-desa kecil Dari tepi laut hingga yang terpencil di atas gunung.
Melesat menuju tempat dimana terdapat manusia yang khusuk shalat, berdoa, dan berzikir melafazkan asma Allah tanpa henti serta berserah diri kepada sesembahannya. Tanpa mengenal lelah dan kantuk.

Dan dialah manusia yang paling beruntung di antara manusia beruntung. Dia yang tiba-tiba diketuk jendelanya oleh para malaikat-malaikat Allah. Dan malaikat-malaikat itu dengan hati berbunga menaburkan kantung-kantung pahala yang diambil dari lemari surga kepada jiwa-jiwa nasuha itu.

Maka dia akan menjelma pengikut Muhammad yang selalu disayangi oleh Allah. Dari wajahnya akan berpendar cahaya sejuk seperti embun yang jatuh dari ujung daun keladi. Dari matanya tumbuh pohon beringin yang memberikan rumah teduh bagi burung-burung gereja. Setiap kata yang terlafaz dari mulutnya menjelma bebunga yang selalu mekar mengharum, nikmat dijaring liang telinga. Bilapun kakinya melangkah, jejak yang tersemat menyublim menjadi padang rumput hijau beroase. dengan air tiada pernah surut barang sekejap. Mengenyangkan dan menyegarkan para pengembara yang melintas.

Akhirnya, para malaikat Allah segera pamit saat bintang fajar mulai pudar. Dan tugaspun usailah mereka pun mengucap pamit kepada untuk kembali menghadap kepada penciptanya. Di sepanjang perjalanan pulang melintasi cakrawala, mulut mereka tak henti mendoakan keselamatan kepada Allah bagi manusia-manusia pilihan itu.
Dan sampailah mereka di rumah masing-masing di surga dengan senyum melati tersemat di bibirnya.

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, September 2008

17 September 2008

RAMADHAN KALI INI


Malam ini terasa berbeda dengan beberapa malam lalu. Tadi sore selepas maghrib tidak biasanya hujan menyapa bumi membasahi tanah. Padahal Ramadhan kali ini masuk di musim kemarau. Entah mengapa tiba-tiba hujan runtuh begitu saja. Hanya sebuah kilatan terang menyambar diikuti oleh gemuruh guntur yang menggelegar. Itupun hanya sekali. Akan tetapi, tanda seperti itu dianggap hal yang biasa oleh orang-orang yang tinggal di daerah kecil di salah satu sudut kota besar ini.

Hingga waktu isya tiba, hujan masih belum reda. Malah dengan semangat, langit menambah jumlah debit air yang ditumpahkannya. Seolah di atas sana terdapat sebuah cawan raksasa sebasar danau yang tak pernah habis airnya untuk dituangkan ke bumi.
Dan hujan seperti ini membuat orang yang berangkat untuk shalat isya dan tarawih berjamaah di mushola hanya dapat dihitung dengan jari saja. Tidak lebih dari delapan orang. Mereka yang datang adalah orang yang rumahnya dekat dengan mushola kecil itu. Paling jauh sekitar dua ratus kaki. Yang lain memilih tinggal di rumah masing-masing.
Setelah salat tarawih selesai, hujan belum juga reda. Sebagian dari mereka yang shalat berjamaah langsung pulang ke rumah masing-masing menggunakan payung yang berwarna-warni. Ada juga yang langsung berlari tanpa menggunakan payung atau jas hujan menembus pekatnya air yang turun tak peduli pakaian mereka basah.

Di antara delapan orang yang ada hanya tinggal dua orang yang tertinggal di mushola ini. Salah satunya adalah Pak Alwi.

Pak Alwi adalah imam di mushola ini. Dia asli penduduk daerah ini. Mushola ini dibangun oleh kakeknya sekitar delapan puluh tahun yang lalu. Setelah orang tuanya meninggal, dia dipercaya untuk mengurus dan menjadi imam di mushola ini. Selain itu, dia juga mengajar mengaji kepada orang-orang di sekitar terutama anak-anak. Dia belum terlalu tua. Ya, kalau ditaksir sekitar dua puluh tahun lebih tua dari aku. Orangnya sederhana, bersahaja, dan ramah kepada siapapun. Dia sangat dihormati di daerah ini. Karena hal itulah, akhirnya dia dipercaya sebagai penasihat di daerah ini.

Dia masih duduk bersila di tempat pengimaman. Terlihat matanya terpejam. Di tangan kanannya terdapat butiran-butiran berwarna putih susu yang dirangkai dengan benang menyerupai kalung mutiara yang terpajang di etalase toko perhiasan. Bibirnya bergerak-gerak naik turun. Terdengar dari mulutnya suara zikir mangalun. Bersamaan dengan suara zikir, dipilinnya rangkaian tasbih itu hingga memutar. Begitu seterusnya hingga malam mulai larut.

Dan orang lain yang berada di mushola yang cat temboknya mulai mengelupas adalah aku. Aku pun belum bisa menerima kenyataan mengapa malam ini aku bisa berada di tempat ini hingga begitu larut.

Pada awalnya aku sedang dalam perjalanan pulang dalam keadaan yang luar biasa letih. Selesai bermain dadu aku, sebelum pulang aku mampir dulu di sebuah rumah remang-remang. Setelah itu aku baru melangkah ke rumah. Dalam perjalanan aku bertemu dengan sekawanan hujan yang turun begitu saja tanpa permisi. Dari pada basah kuyup, maka aku pun berteduh di sebuah rumah.

Tak lama berselang, terdengar suara azan dari mushola kecil yang berada tak jauh dari tempaku berteduh. Meskipun hujan turun dengan derasnya, namun suara azan itu terasa nikmat di telinga. Suara muazin yang keluar dari speaker berpadu dengan gemerujug hujan hingga menjelma obat bius yang terbang menelusup telingaku.

Tubuhku terbius. Tanpa sadar kakiku melangkah menembus hujan menuju asal suara itu. Aku berjalan tanpa risau akan kuyup. Lalu aku berdiri tepat di pintu masuk mushola itu. Aku berdiri mematung menikmati lantunan azan.

Meskipun azan telah selesai, aku masih berdiri tak dapat melangkahkan kaki. Tiba-tiba seorang kali-laki keluar dari mushola itu dan menghampiriku. Dia Pak Alwi. Aku mengenalnya. Dia mengajakku untuk shalat isya berjamaah. Setelah setelah selesai berwudlu aku masuk ke dalam mushola mengikuti laki-laki itu.

Ada sesuatu yang tidak dapat aku terima di nalarku. Aku merasakan semata-mata bahwa tadi aku berjalan menembus hujan yang turun seperti air bah itu. Tetapi kurasakan pakaian yang kukenakan tidak basah sama sekali oleh air hujan. Tubuhku yang tadi terasa letih saat ini kurasakan segar kembali setelah dibasuh oleh air wudlu tadi.
Hujan tidak turun berupa air saja, namun disertai angin yang berlari membawa sejuta dingin dari ujung gunung membuat udara membeku menjelma jarum jahit. Tajam menembus ruang-ruang sempit di kulit dan daging hingga ke lapisan tulang bagi siapa saja yang berani menerobos hujan itu.

Akan tetapi bukan itu satu-satunya alasan mengapa aku masih berada di mushola yang sederhana ini. ada sesuatu hal yang menarikku untuk tetap berada di mushola ini menemani Pak Alwi berzikir. Aku merasa ada sebuah hawa aneh menyelimuti mushola yang berumur empat kali lipat umurku. Bukan hawa yang seperti biasanya. Sebuah hawa berwarna hangat, nikmat dan menyegarkan jiwa dan pikiran.

Mataku menjelajah ke segala arah. Kusapu segala sudut hingga tak tersisa. Entah mengapa tiba-tiba mataku tertumbuk pada sebuah lemari kayu kecil tanpa daun pintu bercat hitam kusam yang sudah miring ke kiri hampir rubuh. di dalamnya terdapat sejilid kertas yang terbuka di tengah-tengahnya. Tanpa perintah aku segera bangkit dari dudukku menghampiri lemari itu. terlihat jelas di mataku bahwa sejilid kertas itu adalah Al-Quran yang kertasnya sudah tua berwarna kuning kecoklatan. Tanganku seketika meraihnya seperti terserap oleh kumpulan wahyu Sang Maha Dzat itu. Tanganku menjelma besi tua karatan yang terhisap oleh magnet super kuat.

Dan aku merasa kakiku tak memiliki daya lagi untuk berdiri. Aku jatuh duduk menyila. Aku dapat merasakan rangkaian huruf hijaiyah yang tercetak di depan mataku tiba-tiba lepas masuk ke dalam mataku menembus otak kecil dibelakang kepalaku. Menghantam syaraf-syaraf motrikku.

“Dang! Dang! Dang!!!”

Seketika aku melihat seorang laki-laki muda menodongkan tangan meminta segepok uang untuk bermain dadu sambil berteriak keras mengeluarkan segala macam sumpah serapah kepada ibunya. Aku melihat ibu menangis meronta tanpa mengeluarkan air mata menolak keinginan anak itu. Dia masuk ke dalam kamar dan menggeledah isi lemari kayu. Mencari uang atau barang berharga yang disimpan ibu. Dia segera berlari dengan senyum kemengan dan sejumlah uang di tangan. Dan aku masih bisa melihat ibunya meratap tak berdaya sembil memegangi dadanya.

Dia berlari menuju sebuah tempat di sudut pasar tak jauh dari kecamatan. Kulemparkan uang yang ada di genggaman ke atas meja bertuliskan sebuah angka. Betapa bahagianya dia ketika dadu yang dilempar oleh bandar menunjukkan angka yang sama dengan angka di bawah uang yang dilemparkannya di atas meja taruhan tadi. Dai tertawa tak terkira sambil membawa segepok uang hasil kemenangan tadi.

“Dang! Dang! Dang!!” Huruf-huruf arab itu kembali memukul-mukul otak kecilku.

Aku melihat laki-laki itu duduk di sebuah kursi empuk dengan wajah mendongak ke atas dengan mulut terbuka. Kedua buah tangannya menyirami berbagai macam minuman beralkohol ke dalam liang mulutnya. Dan dia tertawa lepas hingga tak dapat berdiri lagi.

“Dang! Dang! Dang!!” Kembali, huruf-huruf arab itu memukul-mukul otak kecilku.

Aku masih melihat laki-laki itu berada sebuah rumah di sebuah gang kecil dihiasi temaram dan lampu lima watt yang menyala remang. Aku melihat dirinya dengan tubuh tanpa terbungkus kain sedang terlentang disemuti para wanita yang sama keadaannya seperti dirinya. Telanjang. Bersenggama, tertawa, mengaduh, mengeluh.

“Dang! Dang! Dang! Dang! Dang! Dang!!!!!” Kali ini huruf-huruf arab itu memukul-mukul otak kecilku lebih keras.

Aku melihat sosok seorang wanita sedang meronta menangis dan merintih kesakitan. Dia dikelilingi oleh beberapa manusia berbaju putih. Wanita ea rah s berteriak, meronta sambil menahan sakit. Tak selang kemudian terdengarlah sebuah tangisan dari antara kedua paha wanita itu. Wanita itu kemudian tersenyum bahagia. Seorang laki-laki kecil telah keluar dari pintu rahimnya setelah berdiam di rahimnya selama sembilan bulan.
Diasuhnya laki-laki kecil itu dengan segala bentuk kasih sayang yang paling indah agar tumbuh besar menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan agamanya. Memberinya kebanggaan yang tiada tara kelak.

Aku melihat laki-laki kecil itu tumbuh menjadi manusia dewasa yang ternyata kini durhaka pada ibunya. Aku melihat laki-laki durhaka itu menjelma diriku.

Tiba-tiba kurasakan huruf-huruf suci tadi keluar begitu saja dari liang mulutku dan terdengar begitu merdu di telinnga. Aku pun merasakan air mataku jatuh menetes dan hilang terserap kain sarung yang kukenakan.

“Ya Allah ya Rabbi, ampunilah hambamu yang telah durhaka ini,” dalam hatiku berucap memohon ampunan dari Sang Maha Pengampun. Terus seperti itu dan seperti itu. Aku merasa menjadi manusia paling hina di dunia.

Hujan yang turun deras jatuh perlahan mereda. Gerimis yang menimpa atap mushola yang terbuat dari seng membuat nada-nada ritmis terus menerus yang terdengar nikmat di telinga lebarku. Dan tak selang berapa lama hujan berhentilah.

Kulempar mataku ke jendela tanpa kaca di samping kananku. Tembus ea rah langit. Mendung telah berlari pergi entah kemana. Hanya ribuan bintang berkedip-kedap di langit dini hari. Langit benar-benar bersih saat ini. Baru kulihat langit seindah itu seumur hidup.

Angin berhembus lembut, namun dia membawa kehangatan yang luar biasa nyaman. Udara kurasakan luar biasa nikmat merasuk ke dalam tubuh hingga sel-sel yang paling terkecil.

Kulihat Pak Alwi masih duduk bersila menghadap kiblat sambil berkomat-kamit melafazkan dzikir kepada Allah. Kulihat jam dinding yang tergantung di tembok tepat di atasnya menunjukan pukul satu lebih dua puluh menit dini hari.

Lalu Pak Alwi bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiriku sambil tersenyum mesra kepadaku. Senyuman yang paling nikmat dirasakan selain senyuman ibuku. dia terus mendekat. Dia terus berjalan mendekatiku. Dari tubuhnya tiba-tiba memancar cahaya yang indah. Berkialuan seperti permata manikam tersulut cahaya matahari. Cahaya itu bergerak naik turun perlahan. Lalu menjelma menjadi sepasang sayap indah yang bercahaya.

“Apakah dia seorang malaikat?!”

Kaki-kakiku tertambat.

Dia mendekat dan berdiri di atas kepalaku tepat.

Mulutku tercekat. Aku tak sanggup berkata, bahkan berbisik. Dia begitu indah.

“Pulanglah kau nak, bersimpuhlah di bawah kaki ibumu. Minta maaflah kau kepadanya.” Ucapannya menggelegar, namun terasa halus dan nikmat ditelinga.

Diusapnya kepalaku dengan tangannya. Oh, betapa lembutnya. Betapa nyamannya. Bagai sentuhan tangan ibu yang meninabobokanku ketika kecilku dulu. Lalu kucium tangannya. Tangan yang berbau harum paduan antara sari-sari bunga surga. Mataku terpejam.

Tiba-tiba kudengar suara laki-laki memanggilku.

Mataku pun terbuka. Kulihatnya sosok Pak Alwi tersenyum kepadaku.

“Subhanallah. Berbahagialah engkau nak, Allah memang tak pernah pilih kasih dalam memberikan hidayah-Nya.”

Aku segara berhambur keluar menuju rumah.

Sesampai di rumah, kudapati ibu sedang duduk bersimpuh merapikan mukenanya. Sepertinya dia baru saja shalat malam.

Aku pun segera bersimpuh di hadapannya memohon ampunan atas segala perlakuanku dulu.
Dan ibu hanya tersenyum sambil mencium keningku.

Purwokerto, September 2008

29 Juli 2008

LELAKI YANG MASIH MEMANDANGI LAUT

Lelaki itu duduk di balik jendela. Wajah suram. Rambutnya bergerak tak karuan tertiup angin. Matanya cekung dan sayu. Tubuhnya kurus terbungkus kaos singlet putih dan celana pendek berwarna biru tua. Dia tampak tua, tetapi sebenarnya dia masih muda, umurnya baru empat puluh tiga tahun.
Dilemparkan pandangannya jauh ke arah laut.
Sudah empat jam dia duduk di situ..

Angin berhembus lembut sore itu merayu nyiur yang berdiri lantang di bilik pantai untuk sekedar melambaikan jemari-jemarinya. Angin setia menggiring air laut, membuat suatu formasi ombak yang mengalun perlahan menuju bibir pantai. Sebuah percintaan yang harmonis antara pantai dan ombak. Pasir bermain dengan angin ikut memeriahkan suasana. Mereka berterbangan kesana kemari mencari tempat nyaman untuk hinggap. Angin juga membuat suara-suara yang khas saat menghantam benda-benda yang menghalanginya. Membuat sebuah harmonisasi nada-nada melagukan suara alam. Sebuah perahu berayun-ayun mengikuti irama ombak. Dan angin masih setia berlari-lari mengisi waktu di pelabuhan sore itu.

Dia masih memandangi laut. Dihabiskannya sore itu hingga menjelang malam. Beberapa puluh menit setelah matahari lenyap ditelan oleh air laut. Tidak hanya sore itu saja dia habiskan seperti itu. Sore-sore yang telah lalu pun ia lewati dengan cara yang sama. Dia tidak peduli apakah sore itu cuaca sedang berbaik hati atau sedang bersikap kasar.

Lelaki itu bernama Irman Surahman. Seorang pemuda yang sedang dilanda duka mendalam karena mengabdikan seluruh hidupnya pada cinta. Dia adalah sosok pecinta sejati. Dia masih memandangi laut dengan harapan sebuah kapal berlabuh membawa kekasih yang sangat dicintai dalam setiap hembusan nafasnya pulang menemuinya. Wanita itu bernama Lis Maulani.

Mereka berdua telah menjalin kisah sejak Irman berumur delapan belas. Sepasang muda-mudi yang dilanda mabuk asmara. Mereka berdua adalah pasangan yang cocok dari segala hal. Irman adalah seorang pemuda yang tinggi, gagah dan cakap, sedangkan Lis adalah seorang gadis yang mungil dan cantik. Keduanya sama-sama anak dari orang kaya dan terpandang di daerahnya. Mereka juga alim dan pandai mengaji. Apabila mereka berjalan berdua, maka orang akan teringat akan Layla dan Majnun. Namun, orang tak tahu apakah kisah mereka akan berakhir sama dengan cerita tersebut.

Kalian tahu, sumpah apa yang mereka berdua ucapkan? Apapun yang terjadi kita akan tetap bersatu, walau maut memisahkan aku akan selalu ada untukmu. Dan aku adalah milikmu selamanya. Begitulah sumpah mereka, sungguh indah terdengar bukan? Seperti sumpah bintang kepada bulan.

Sehabis hari raya, Irman dan orangtuanya datang ke rumah Lis untuk melamarnya. Tanpa urusan yang berbelit-belit, orang tua Lis pun setuju untuk mengambil Irman sebagai menantu. Mereka pun sudah menetapkan acara pernikahan kedua anaknya. Rencananya setelah hari raya haji yang akan datang.
Undangan telah disebar, seminggu sebelum pernikahan dilaksanakan. Rencananya pernikahan akan dilangsungkan di rumah Lis. Rumah Lis sudah menampakkan tanda-tanda kesibukkan yang luar biasa. Segala sesuatunya telah disiapkan dan direncanakan dengan matang dan sesempurna mungkin. Dari makanan yang akan dihidangkan, baju pengantin yang akan dipakai kedua mempelai, hingga mengundang kyai untuk pengajian.

Dua hari menjelang hari H, Lis dan orang tuanya pergi ke seberang untuk meminta doa restu kepada kakek dan neneknya. Dengan kapal mereka menyeberang selat menuju pulau seberang. Perjalanan menentang laut itu sekitar dua jam dari pelabuhan. Langit cerah, tak menunjukkan kegelisahan sedikitpun. Angin tampak bersahabat. Ombak mengalun tenang berirama. Kapal pun bertolak dari pelabuhan menuju tengah laut.

Angin yang tadinya lembut entah mengapa tiba-tiba berubah menjadi kencang. Ombak yang tadinya merdu berubah menjadi besar dan ganas. Alam sepertinya murka. Kapal oleng, seluruh penumpang panik. Dan kepanikan mereka berhenti setelah ombak besar datang dan menelan mereka.

Tak ada yang selamat.

Suasana rumah Lis masih menunjukkan kesibukkannya. Mereka tak tahu hal yang menimpa Lis dan keluarganya. Irman memang tak ikut untuk meminta doa restu ke seberang karena menjadi ketua panitia resepsi pernikahannya. Dia yang mengatur segala keperluan untuk pernikahannya.
Hari itu adalah hari dimana pernikahan Irman dan Lis diadakan. Tapi Lis belum pulang dari seberang. Irman panik dan bingung. Semua panik. Undangan panik. Mereka tak tahu apa yang terjadi pada Lis dan kelurga. Akhirnya pernikahanpun gagal. Undangan pulang ke rumah masing-masing dengan menyimpan pertanyaan di hati mereka. Ada apa gerangan?
***

Irman duduk di balik jendela memandang ke arah laut dengan wajah yang suram. Rambutnya bergerak tak karuan tertiup angin. Matanya cekung dan sayu. Tubuhnya tampak kurus terbungkus oleh singlet putih dan celana kolor pendek berwarna biru tua. Dia tampak tua, tetapi sebenarnya dia masih muda. Umurnya baru empat puluh tiga tahun.

Angin masih berhembus lembut sore itu. Merayu nyiur yang berdiri lantang di bilik pantai untuk melambaikan jemari-jemarinya. Angin juga masih setia menggiring air laut, membuat suatu formasi ombak yang mengalun perlahan menuju bibir pantai. Pasir pun ikut bermain sekedar memeriahkan suasana. Mereka berterbangan mencari tempat nyaman untuk hinggap. Angin juga masih membuat suara-suara yang khas saat menghantam benda-benda yang menghalanginya. Membuat sebuah harmonisasi nada-nada seperti melagukan suara alam. Perahu itu masih berayun-ayun mengikuti irama ombak. Dan angin masih setia berlari-lari mengisi waktu di pelabuhan sore itu.

Sudah empat jam dia duduk di situ dan memandangi laut.

Dia masih memandangi laut. Kali ini dia tidak menghabiskan sore seperti biasanya. Kali ini dia tidak beranjak dari tempat duduknya sama sekali. Walau senja telah berganti gelap, dia tidah bergerak sedikitpun. Matanya tetap menuju ke arah laut, tajam mengiris ombak.

Langit tiba-tiba berubah menjadi pekat dan bintang lenyap sama sekali. Angin yang tadinya membuat nada-nada merdu tiba-tiba menganti irama menjadi musik cadas yang menghentak tak beraturan. Ombak yang tadinya lembut perlahan menjadi ganas dan liar tak beraturan. Langit pun secara serentak mencurahkan air matanya ke bumi. Hujan sangat lebat dan deras. Badai datang mengamuk di laut.

Irman masih menatap laut dengan tajam dengan matanya yang cekung dan sayu. Ditatapnya langit, angin, ombak, hujan, dan badai itu. Seolah dia melihat sesuatu di tengah laut, di dalam kepungan badai. Dia mendengar suara jerit dan tangis seorang wanita dari tengah laut. Suara itu menjadi keras, keras, dan keras memanggil-manggil seseorang.

Kang Irman...
Kang Irman...
Kang Irman...

Suara itu terus bergaung di telinga Irman. Suara itu seperti suara Lis. Ya, itu adalah suara Lis.
Irman melompat dari tempat duduknya dan berlari menuju pantai menuju suara itu. Dilihatnya Lis berdiri di tengah lautan. Mulutnya bersuara jeritan-jeritan memilukan memanggil namanya. Irman berlari menuju tengah laut. Menghampiri kekasihnya. Dia berlari, berlari dan terus berlari menembus air hingga ombak menelannya.

Dan dia masih terus berlari..........

Purwokerto, 2 April 2006