Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

11 Desember 2009

NGAPAK-TAINMENT, WAJAH BARU BAHASA BANYUMASAN


Ada resah dalam diri penulis novel dan budayawan asal Banyumas, Ahmad Tohari. Keresahan yang dialami beberapa tahun belakangan ini saat melihat keluarga muda di Purwokerto, Jawa Tengah, mulai enggan menggunakan dan mengajarkan bahasa Jawa dialek Banyumsan yang ngapak-ngapak.

Keresahan itu memang cukup beralasan mengingat saat ini, penggunaan bahasa Banyumasan kurang menemukan gregetnya. Para keluarga muda lebih senang mengajarkan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa mbadhek kepada anak-anaknya. Sebab, menurut mereka, menggunakan bahasa Banyumasan identik dengan bahasa pelawak atau babu yang terdengar kasar di telinga dan tidak sopan dalam pergaulan.

Ngapak-tainment

Dalam bukunya Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak, Budiono Herusatoto mengatakan bahwa bahasa ngapak adalah istilah bahasa Jawa Banyumasan yang dilangsir oleh para priyayi wetanan yang berbahasa Jawa mbandhek.

Penggunaan bahasa dialek ini meliputi wilayah Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Tegal, Brebes, Pemalang, bagian barat Kebumen, dan bagian timur dan pesisir Cirebon (Indramayu).

Berbeda dengan penggunaan bahasa Banyumas di masyarakat terutama di keluarga-keluarga muda, penggunaan bahasa Banyumas di dunia intertainment akhir-akhir lebih banyak terdengar di telinga kita.
Penggunaan bahasa ngapak telah merambah ke berbagai macam segi industri hiburan yang lebih kreatif seperti musik, siaran radio, teater dan film. Selain itu juga merambah ke dunia fashion dan seluler.

Di industri musik misalnya, muncul nama Sopsan dan Bije Patik sebagai group musik yang mengusung lokalitas bahasa Banyumasan dengan memadukan genre musik yang bermacam seperti melayu, arabian, oriental, latin, dangdut, reggae, hingga rock n roll. Di industri film, bahasa Banyumas tidak dapat dianggap sebelah mata dengan ikut sertanya film dokumenter ”Metu Getih” dalam European Film Festival 2007 dan PPIA Converence: The Voice of the Future Leader Victoria University 2008.

Lalu di dunia teater, sering dipertunjukkannya pementasan teater yang mengangkat warna lokal Banyumasan seperti oleh kelompok teater Teksas, Tubuh, dan Janur. Sedang di munculnya kaos oblong “Bawor” dan “Dablongan” di dunia fashion mengidentikan jati diri Banyumas seperti Yogyakarta dengan Dagadu-nya atau Bali dengan Joger-nya. Di dunia seluler pun bahasa ngapak mulai digunakan dalam pengoperasian handphone seperti ”busek” menggantikan ”delete”.

Dan yang paling fenomenal adalah munculnya acara siara radio bertajuk “Curahan Hati dan Humor” (Curanmor) di sebuah radio swasta di Cilacap. Acara tersebut telah menjadi menu wajib yang harus didengarkan oleh telinga masyarakat Cilacap dan sekitarnya. Bahkan rekaman acara tersebut sudah menjelajah ke berbagai kota hingga luar negeri dengan cara diunduh lewat internet.

Semiotika Perlawanan
Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang bersifat dinamis. Dia tidak statis. Dia selalu berkembang mengikuti keadaan sosial masyarakatnya. Demikian juga halnya dengan bahasa Banyumasan. Dia mengikuti perkembangan penggunanya sesuai dengan kreativitas pengguna tersebut.

Dalam bukunya Teori Semiotika, Umberto Eco menyebutkan bahwa tanda berada diantara beberapa peristiwa, daya cipta sebuah tanda yang dimungkinkan oleh kode-kode menghendaki peristiwa baru tersebut bisa dinamai atau digambarkan. (2009: 237).

Munculnya fenomena ngapak-tainment merupakan sebuah tanda perlawanan dari masyarakat Banyumas terhadap tafsir budaya yang dahulu di bawah keraton yang menjajah bahasa Banyumas sebagai bahasa kelas dua hingga bahasa Banyumas memiliki posisi yang setara dengan bahasa yang diusung keraton. Perlawanan tersebut ditandai dengan munculnya bentuk kreativitas masyarakat Banyumas yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang cablaka dalam wajah dan warna baru.
Selain itu, lahirnya wajah baru bahasa ngapak merupakan bagian dari proses pencarian kembali jati dri masyarakat yang mulai kehilangan identitasny terutama bagi golongan muda.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa lahirnya ngapak-tainment berkaitan erat dengan motif ekonomi. Sebagian besar, bentuk dari kreativitas tersebut merupakan bagian dari strategi dalam memasuki budaya massa. Akan tetapi hal itu tidaklah berarti bahwa budaya Banyumas terancam oleh komersialisasi. Justru strategi yang diterapkan tersebut lebih menguntungkan bagi kelestarian kebudayaan Banyumas itu sendiri. Budaya Banyumas akan lebih mudah diterima oleh masyarakat karena itulah sebenarnya jati diri mereka.

Dengan adanya fenomena seperti ini, budaya Banyumas semakin menemukan eksistensinya sebagai budaya yang adi luhung. Dan keresahan Ahmad Tohari dapat terobati.Klilan

Dimuat di Kompas Jateng, Selasa 8 Desember 2009

05 Maret 2009

MEMBUAT SEJARAH BARU BAGI SASTRA BANYUMAS

Banyumas telah menjadi salah satu sejarah dalam peta kesusastraan di Indonesia. Para pelaku sastra terdahulu telah mencatatkan namanya dalam sejarah sastra Indonesia bahkan internasional.

Kita mengenal Ahmad Tohari, Dharmadi, Badrudin Emce, Haryono Soekiran, Ansar Basuki Balasikh, Nanang Anna Noor, Tirto Wanto, Edi Romadhon, Sutarno Jayadiatma, Herman Affandi, Mas’ut, Ahita, Bambang Set, dan beberapa lagi yang terlebih dahulu berkarya.
Dulu mungkin kita juga pernah mendengar nama komunitas-komunitas sastra seperti Sanggar Pelangi, Himpunan Penulis Muda (HPM), Lingkar Seni dan Budaya, dan Kancah Budaya Merdeka yang aktif berkegiatan membangun geliat kesusastraan di Banyumas.
Sayangnya dokumentasi-dokumentasi karya mereka dan dokumentasi kegiatan mereka, antara yang tertata dengan rapih dengan yang tidak terdokumentasi lebih banyak yang tidak terdokumentasi. Tidak ada seseorang atau pihak tertentu yang mendokumentasikannya. Komunitas-komunitas di atas juga hingga saat ini tidak lagi terdengar suaranya dan tidak diketahui apakah mereka menyimpan dokumentasi karya dan kegiatan kesusastraan yang mereka lakukan.

Saat ini, untuk mendokumentasikan karya-karya para sastrawan terdahulu diperlukan sesuatu yang ekstra. Tenaga yang ekstra, waktu yang ekstra, dan tentunya biaya yang ekstra pula. Selain itu juga diperlukan orang-orang yang benar-benar bersedia dan rela untuk melakukan hal tersebut seperti H B. Jassin, atau Korrie Layun Rampan. Sebab, jika kita mengingingkan pemerintah daerah atau dewan kesenian yang melakukan hal tersebut sudah pasti kedua intitusi tersebut tidaklah bersedia melakukannya. Jadi jika kita dalam hal ini kaum muda mencari peta sejarah kesusastraan Banyumas pada kedua intitusi tersebut di atas sudah pasti akan nihil.

Sejarah memberikan sesuatu yang berharga bagi kita. Dari sejarah, kita dapat mengambil pelajaran tentang keburukan, kejelekan, dan kegagalan di masa lampau. Dari sejarah, kita dapat mencari sesuatu yang baru agar hal tersebut tidak terulang lagi di masa kini dan masa yang akan datang. Apapun bidang dan bentuknya. Apakah itu politik, ekonomi, sosial, budaya dan tentunya sastra dalam konteks ini.

Lalu bagaimana jadinya jika kita buta akan sejarah? Atau sejarah itu memang tidak ada? Kita tidak tahu sejarah kesusastraan Banyumas, dimana dokumen-dokumen kesusastraan berupa karya-karya para sastrawan Banyumas terdahulu atau dokumentasi kegiatan berkesusastraan terdahulu tidak tersimpan rapi? Maksudnya, kita sebagai sastrawan muda memang benar-benar tidak tahu atau katakanlah samar-samar mengetahui sejarah kesusastraan Banyumas.

Apakah kita akan mengarang dan mengira-ngira bagaimana perkembangan kesusastraan di Banyumas pada waktu dulu?

Tentunya kita tidak bisa begitu. Kita tidak bisa seenaknya saja mengarang sejarah kesusastraan Banyumas dahulu. Kita tidak bisa membuat kepalsuan terhadap sejarah kesusastraan terdahulu. Entah itu nama atau karya-karya sastrawan terdahulu.
Cara yang paling tepat adalah bagaimana kita, kaum muda, membuat saat ini sebagai sejarah yang dapat dikenang kelak. Itulah “pekerjaan rumah” yang harus kita pikirkan dan kerjakan sebaik mungkin. Dan tentunya sejarah yang kita buat haruslah lebih bagus dari pada sejarah terdahulu yang kita samar mengetahui kepastiannya.

Perkembangan sastra di Banyumas saat ini sangatlah luar biasa. Jika beberapa waktu baru dikatakan bergeliat, saat ini sudah bisa dikatakan bergerak dan hampir berlari. Di berapa tempat muncul kantong-kantong sastra yang selalu aktif bergerak dan berkarya menghidupkan sastra. Berbagai macam kegiatan apresiasi sastra dilakukan seperti dikusi, peluncuran buku sastra, pembuatan buletin sastra, bedah buku, hingga berkolaborasi dengan displin seni lain seperti lukis, musik, tari, patung, instalasi, dan teater.

Kantong-kantong sastra atau –lebih enaknya disebut sebagai- komunitas tersebut digawangi oleh para sastrawan muda.Dan dari situlah lahir penulis-penulis (sastrawan)muda yang karyanya tidak kalah dahsyat dengan para sastrawan Banyumas terdahulu. Karya-karya mereka telah mampu menembus berbagai media masa baik lokal maupun nasional serta tergabung dalam antologi bersama yang sifatnya nasional.
Mereka antara lain; Restu Kurniawan, Arif Hidayat, Yosi M. Giri, dan M Aziz dari Bunga Pustaka, Dwiana Jati Setyaji, Bayu Murdiyanto, dan Agus Salim dari Sastra Alam (SALAM), Muhammad Mayat Ayatullah, Ali V. Essessi, dan Agus Triono dari Hujan Tak Kunjung Padam, Ryan Rachman, Braja Eka Bayu Permana, Teguh Sucianto, dan Shinta Ardhiyani Utami dari Sanggar Sastra Wedang Kendhi. Juga tidak ketinggalan Heru Kurniawan, Isno Wardoyo, Rahmi Isriana, Dita Zoraetha, dan Teguh Trianton.
Di tangan-tangan gelisah mereka dan kawan-kawan sastrawan muda yang lainlah lahir karya-karya yang monumental yang nantinya akan menjadi sejarah bagi sastra Banyumas dan bagian dari sejarah kesusastraan Indonesia. Sebab kita sebagai generasi muda tidak perlu lagi mengagung-agungkan generasi tua. Meminjam kata teman saya, “Lampaui generasi tua yang manja dan malas…”

Bukan munafik atau berprasangka yang tidak-tidak, sebab masa depan sastra Banyumas ya terletak pada siapa lagi selain diri kita sendiri selaku generasi muda dan bukan pada nama-nama generasi tua yang sudah lupa bagaimana berkarya. Ya mbok?

Klilan.


Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Februari 2009

TENTANG PEMBIBITAN SASTRA BANYUMAS

Sastra adalah suatu disiplin sosial budaya yang selalu dinamis. Dia tidak pernah stagnant pada suatu masa tertentu. Dia selalu mengikuti perubahan keadaan masyarakat kapanpun dan dimanapun. Dalam perkembangannya, dia selalu mencari bentuk-bentuk baru yang berbeda dengan yang sudah ada. Perubahan itu bisa berupa apapun, entah itu dari segi tema, bentuk, kata, gaya, sistem, dan sebagainya.

Salah satu unsur faktor yang mempengaruhi perubahan sastra di suatu daerah adalah para pelaku sastra atau sering disebut sebagai sastrawan di daerah tersebut. Suatu generasi pastilah memiliki corak yang berbeda dengan corak sebelumnya. Setiap generasi yang muncul membuat suatu pembaharuan terhadap sastra terdahulu.
Sebagai mana kita ketahui, ada periodesasi sastra berdasarkan corak dan gaya yang berbeda pada setiap generasinya. Di eropa kita mengenal adanya periodesasi sejak dari masa Romawi, abad pertengahan, abad keenam, abad keduabelas, zaman gelap, Renaissance, Shakespearian, Spenserian, Restorasi, Romantis, Realis, Modern, Feminis, dan Posmodern.

Di negeri kita, kita mengenal angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan ’66, Angkatan ’70, Angkatan ’80, dan angkatan 2000. Dari Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Chairil Anwar, Idrus, Iwan Simatupang, Rendra, Sutardji Calzoum Bachrie, hingga Afrizal Malna dan Joko Pinurbo.

Generasi Baru
Pun halnya di Banyumas. Sastra mengalami perkembangan sesuai perguliran waktu. Pergantian pelaku sastra dari generasi tua oleh generasi muda yang lebih terbuka pikiran dan wawasannya terhadap perkembangan dunia sastra di berbagai tempat beserta seluk beluknya. Munculnya nama-nama baru yang kini lebih mendominasi kegiatan berkesusastraan di Banyumas merupakan angin segar yang membongkar dominasi generasi tua yangstagnan dalam berkarya.

Diawali oleh Teguh Trianton, Sigit Emwe, Heru Kurniawan, dan Faisal Kamandobat, menyusul nama-nama baru seperti Aliv V Essessi, Dwiana Jati Setiaji, Isno Wardoyo, Yosi M Giri, M Aziz, Shinta A. Utami, Dita Zoraetha, Restu Kurniawan, Arif Hidayat, dan A. H. Antassalam. Karya-karya mereka sering kali muncul di media masa cetak baik lokal maupun nasional.

Dari tangan mereka juga lahir karya-karya sastra yang berkualitas. Tak jaarang juga, dari mereka menghasilkan dokumentasi karya mereka dalam bentuk buku baik itu berupa indie maupun melalui jalur penerbitan. Mereka tidak pernah berhenti untuk mengeksplor kemampuan mereka dalam berkarya. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, telah beberapa kali diadakan peluncuran buku karya mereka, baik itu berupa kumpulan puisi, cerpen , maupun novel.

Dari apresiasi sastra, kini Banyumas tidak pernah sepi dari kegiatan apresiasi sastra. Adannya diskusi dan dialog sastra di berbagai tempat, peluncuran buku, berbagai macam acara pembacaan puisi di mana-mana, hingga pengkolaborasian dengan cabang seni lainnya, seperti teater misalnya. Pengfregmentasian karya-karya sastra ke atas panggung teater.

Hal ini juga disebabkan oleh munculnya berbagai komunitas sastra di Banyumas yang juga menjadi tren baru di jagat kesusastraan tanah air dewasa ini. Komunitas-komunitas itu antara lain Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP), Sastra Alam (SALAM), Bunga Pustaka, Wedang Kendhi (SSWK), Purwokerto Literary Community, Tjilatjapan Poetry Forum, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cab. Purwokerto, dsb. Setiap komunitas memilki kegiatan berkesusastraan yang kontinyu sekecil apapun itu, sehingga aroma bersastra sangatlah segar dan marak.

Pembibitan
Dalam tulisannya di Suara Merdeka edisi Senin, 9 Februari 2009 tentang pembibitan pelaku sastra di Banyumas, Teguh Trianton menyatakan bahwa komunitas sastra yang ada, memiliki peran dalam hal mencetak bibit-bibit baru. Komunitas harus mencari penerus yang mau menjalankan komunitas dan melakukan kegiatan berkesusastraan.

Saya rasa bukan hanya komunitas sastra yang memilki tugas tersebut. Masih ada yang lain yang seharusnya lebih bergiat. Seperti misal dewan kesenian, dalam hal ini adalah kesenian yang ada di Banyumas besar, entah itu Dewan Kesenian Banyumas, Dewan Kesenian Purbalingga, Dewan Kesenian Cilacap, maupun Dewan Kesenian Banjarnegara.
Bahwa dewan kesenian memilki divisi sastra adalah keharusan. Disinilah tugas dari mereka. Mereka harus menjadi bagian terpenting dalam pembibitan sastra. Mereka seharusnya menjadi wadah dan mengayomi para pegiat sastra yang masih pemula. Selama ini, dewan kesenian seolah tidak pernah mendukung dan tidak pernah peduli adanya kegiatan berkesusastraan yang dilakukan oleh generasi muda.

Sekolah
Sekolah juga merupakan unsur yang tidak bisa kita lupakan dalam pencarian bibit-bibit baru pelaku sastra. Kita tahu, Taufiq Ismail dan Horisonnya mati-matian mengadakan program Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab. Berkeliling tanah air, masuk ke sekolah-sekolah (SMA) di berbagai pelosok demi satu tujuan, yaitu memperkenalkan sastra kepada para siswa agar nantinya muncul bibit-bibit baru yang bermutu dalam percaturan sastra di tanah air.

Peran serta sekolah sangat diharapkan di sini. Sekolah diharuskan aktif dalam membentuk peserta didiknya menjadi pribadi-pribadi yang menyukai sastra. Demikian juga dengan tenaga pendidiknya, guru juga harus mengikuti perkembangan dunia sastra, sehingga nantinya akan lahir bibit-bibit baru yang tidak kalah hebat dengan para pendahulunya.

Ya mbok? Klilan.

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Februari 2009

PURWOKERTO, SASTRA, DAN KOMUNITAS

Beberapa bulan lalu saya mendapat undangan peluncuran buku antologi puisi Penyair Bengal karya Muhammad Mayat Ayatullah dan mendapat kehormatan untuk menjadi pembedah buku tersebut dalam buku tersebut. Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian dari acara yang diadakan oleh komunitas sastra Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP) yang bertajuk Peluncuran Antologi Puisi Pendiri HTKP. Selain Muhammad Ayatullah, masih ada empat penyair lagi yang meluncurkan karyanya yaitu; Aliv V. Essessi, Ari Bledeg Purnomo, Agustav Triono, dan Yudhistira Sibir Jati.

Dewasa ini, di Banyumas dalam hal ini Purwokerto, sering diadakan kegiatan kesusastraan yang dimotori oleh kaum muda yang tergabung dalam komunitas sastra. Terhitung ada beberapa komunitas sastra yang eksis melahirkan penulis-penulis muda berbakat dan mencantumkan nama mereka di beberapa media masa lokal maupun nasional.
Selain komunitas sastra HTKP masih ada beberapa nama yang meramaikan geliat kesusastraan Purwokerto, antara lain; Komunitas Sastra Alam (SALAM), Segara, Komunitas Sastra Indonesia Cab. Purwokerto, Forum Lingkar Pena (FLP) Cab. Purwokerto, Komunitas Sastra Dukuh Waluh, Bunga Pustaka, Sanggar Sastra Wedang Kendhi (SSWK), dan Purwokerto Literary Community (PLC).

Munculnya komunitas sastra di Purwokerto tidak terlepas dari pengaruh dari kota lain seperti Yogyakarta, Solo, Semarang dan Jakarta yang terlebih dahulu ada dan terbukti memebesarkan sastrawan-sastrawan di kota tersebut.

Sejarah
Jika kita menilik ke masa lalu, komunitas sastra di Purwkoerto telah ada sejak tahun 1971. Pada waktu itu berdiri Sanggar Pelangi yang dimotori oleh Dharmadi dan kawan-kawan. Lalu pada tahun 1974 lahir Himpunan Penulis Muda (HPM); dan diikuti oleh berdirinya Lingkar Seni dan Budaya pada tahun 1986; dan kancah Budaya Merdeka pada tahun 1993.

Dari komunitas-komunitas tersebut lahir beberapa nama antara lain Mas’ut, Bambang Set, Dharmadi, Surya Esa, Herman Affandi, Ahita, Edi Romadhon, dan Nanang Anna Noor.

Peranan Komunitas Sastra
Komunitas sastra adalah sekelompok individu yang cinta dan aktif berkegiatan mengapresiasikan sastra secara bersama-sama. Kegiatan tersebut tentunya memiliki tujuan mengembangkan kesusastraan. Sedangkan kegiatan pengapresisasian sastra dari komunitas tersebut antara lain: penulisan karya sastra, pembacaan karya sastra, diskusi, penerbitan karya dan sebagainya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa komunitas sastra memiliki peran yang cukup besar bagi perkembangan sastra terutama di daerah. Setiap komunitas sastra memeiliki ikatan yang kuat dengan komunitas lain. Dalam perkembangannya terjadi sistem jaringan yang kuat yang saling bahu-membahu memeperkenalkan karya sastra kepada komunitas lain.
Komunitas sastra juga berperan dalam mengangkat nama individu. Individu tersebut akan lebih mudah dikenali jika mereka membawa nama komunitas tempat mereka aktif bersastra.

Selain itu, komunitas sastra juga berperan sebagai motor penggerak geliat kesusastraan di suatu wilayah. Semakin banyak komunitas sastra yang ada di suatu daerah, kegiatan bersastra di daerah tersebut pun semakin sering dan beragam.

Peran Komunitas Sastra di Purwokerto
Sejak semakin sedikitnya sastrawan senior di Purwokerto yang masih aktif berkarya dan berkegiatan sastra, maka komunitas sastra yang dimotori oleh anak-anak muda tersebut yang kembali menggeliatkan kegiatan berkesusastraan di kota mendoan ini.
Berbagai macam kegiatan dilakukan oleh komunitas tersebut. Seperti misal acara Ngobras atau Ngobrol Bareng Sastra yang diadakan oleh antar komunitas yaitu SSWK, SALAM, dan HTKP, diskusi setiap malam Kamis oleh Bunga Pustaka, dan diskusi Rabu malam oleh PLC. Juga penerbitan Buletin Kakawin oleh Komunitas SALAM, Buletin Wedang Kendhi oleh SSWK.

Selain itu juga penerbitan buku oleh komunitas sastra tersebut. Penerbitan tersebut antara lain antologi puisi Desire Dia yang Terlupakan, Terimakasih, dan novel Habis Terang Terbitlah Gelap (SALAM), antologi puisi Jejak Tapak Langkah, CPNS Calon Penyair Negeri Sastra, Penyair Bengal, Sajak Sampah, Berkawan Hujan, Panggung, Dalam Asap Kata-Kata, Mata Malam, antologi cerpen “Banyumas” (Banyumas dalam Tanda Kutip), kumpulan naskah drama Bangka, dan kumpulan naskah monolog Orang-Orang Tak Terkenal (HTKP), antologi puisi Makan Malam, Sepotong Cinta Di Ujung Sepatu, dan Belajar Menulis Sajak Cinta (SSWK).

Teater
Selain komunitas sastra, kegiatan kesusastraan di Purwoketo juga tidak lepas dari peran komunitas teater. Hal ini disebabkan adanya keterikatan batin antara sastra dengan teater. Komunitas teater mengapresiasikan sastra ke atas panggung dalam wujud pementasan.

Di sela-sela berteater, mereka biasanya mengadakan acara yang berbasis sastra seperti malam apresiasi puisi, peringatan Chairil Anwar, tadarus puisi, lomba baca puisi, lomba penulisan cerpen, seminar sastra, dan sebagainya.

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Januari 2009

KARENA SASTRA ITU MENYEGARKAN

Seorang petani berdiri tepat di tengah sawah mengayunkan tangannya menghujankan cangkul ke tanah basah. Peluh mengalir dari dahi melewati pipi dan bermuara di dagunya, lalu jatuh membaur bersama lumpur. Matahari yang menggantung di ujung kepala. Terik yang jahat. Tiba-tiba dari sebuah gubug tak jauh dari situ terdengar suara wanita memanggil. Dia istrinya. Petani itu mengakhiri pekerjaannya. Dihampiri istrinya.

Sesampai di gubuk tersebut, petani itu segera mengambil sebuah kendhi berisi air. Diangkatnya tepat di atas mulutnya. Dari ujung lubang kendhi tersebut lalu mengalir air minum dan bermuara di mulut petani itu. Sungguh air minum yang sangat menyegarkan. Air yang keluar dari dalam kendhi.

Saya bukan hendak menulis cerpen. Tapi ilustrasi di atas dapat kita tarik benang merahnya, yaitu betapa segarnya menguk air kendhi di waktu panas terik menyengat. Itulah.

Dari filosofi air kendhi yang menyegarkan itulah, sekelompok pemuda, Ryan Rachman, Braja Eka Bayu Permana, dan Rahayu Puji Utami yang notabene adalah mahasiswa Ilmu Budaya Unsoed Purwokerto membuat sebuah komunitas sastra yang diberi nama Sanggar Sastra Wedang Kendhi. Karena, bagi mereka sastra itu seperti air yang keluar dari mulut kendhi.

Wedang Kendhi (Jawa) dalam bahasa Indonesia berarti air yang berada di dalam kendhi. Kendhi adalah tempat air seperti poci tetapi lebih besar yang terbuat dari tanah yang digunakan untuk menyimpan air minum. Sedangkan wedang berarti minuman. Air minum yang dituang dari dalam kendhi memiliki kesegaran yang luar biasa. Dingin tetapi tidak dingin (maksude?). Ya seperti itulah. Intinya menyegarkan!

Demikian juga dengan sastra. Mereka menyukai sastra karena bagi mereka sastra itu menyegarkan. Mereka bersastra untuk melepas segala macam keresahan, kegelisahan, kehausan, dan ketidakpuasan terhadap sesuatu di sekitarnya. Mereka bersastra untuk menenangkan hati, menyegarkan pikiran, dan untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani (apa maning kuwe?).

Sanggar Sastra Wedang Kendhi dibangun di atas lahan seluas 10 x 25 meter tepat di dalam sebuah rumah bernama kos-kosan. Tempat itu tepatnya di bilangan Jl. Gunung Slamet Gg. Flamboyan No. 11 Grendeng Purwokerto Jawa Tengah 53122. Komunitas ini berdiri pada tanggal 4 Mei 2005.

Selain filosofi wedang kendhi di atas, ada hal lain yang lebih mendasari berdirinya komunitas ini. Hal itu adalah menambah kegairahan bersastra di Purwokerto. Apa? Menambah kegairahan bersastra di Purwokerto (digaris bawah, distabilo). Itulah sebenarnya misi utama dari sekelompok pemuda hebat tadi.

Demi memperjuangkan misi tersebut, berbagai macam kegiatan kesusastraan diadakan oleh Sanggar Sastra Wedang Kendhi. Kegiatan tersebut salah satunya adalah NGOBRAS. Ngobras merupakan akronim dari NGobrol BaReng sAStra. Kegiatan ini diadakan setiap hari Rabu malam Kamis. Acara ini hampir mirip dengan pengadilan puisi. Yang membedakan adalah tidak hanya puisi saja yang dibahas, tetapi juga karya sastra lain seperti cerpen, novel, esai sastra, hingga naskah drama. Selain itu juga membahas perkembangan sastra dan permasalahannya terutama di Banyumas dan di Indonesia pada umumnya, sehingga mereka tidak terlalu kuper dengan perkembangan sastra dewasa ini.

Kegiatan lainnya adalah menerbitkan buletin sastra dan teater Wedang Kendhi setiap satu bulan sekali. Di buletin ini terdapat berbagai macam rubrik yang berbau sastra dan teater yaitu: esai, cerpen, puisi (Indonesia dan Inggris), cerbung, profil, wawancara, resensi, agenda kesusastraan, liputan sastra dan teater, hingga horoskop sastra, kuis, dan iklan (yang terakhir memang harus ada).

Dengan sistem jaringan , buletin ini telah menyebar hingga pelosok tanah air seperti Yogyakarta, Solo, Kebumen, Semarang, Tegal, Jepara, Jakarta, Bandung, Surabaya, Madura, Jambi, Riau, Banjarbaru (Kalimantan), hingga Kendari (Sulawesi). Bagi kalian yang karyanya ingin dimuat di buletin tersebut bisa kirimkan via surat maupun email. Jika menggunakan surat, kirimkan ke alamat sanggar di atas. Jika menggunakan email kirim ke kamar_puisi@yahoo.com. Jika mau berlangganan juga terima dengan tangan terbuka. Jika ingin iklan juga dibuka dengan tangan lebar (wah promosi…).

Selain itu, Sanggar Sastra Wedang Kendhi juga menerbitkan karya meskipun berbentuk Indie. Salah satu karya yang sudah terbit adalah antologi puisi Belajar Menulis Sajak Cinta karya Ryan Rachman. Bahkan, antologi puisi bersama Sepotong Cinta Tertinggal Di Ujung Sepatu serta antologi puisi Sajak Untuk Kekasihku karya Braja Eka Bayu Permana tengah menunggu terbit.

Tidak hanya itu. Sanggar Sastra Wedang Kendhi juga aktif di dunia perteateran. Ikut berpartisipasi dalam Pesta Monolog Orang-Orang Tak Terkenal 2007 dengan mementaskan naskah Dajal karya Bayu Murdiyanto. Mementaskan naskah monolog Api karya Ryan Rachman dalam memperingati hari Sumpah Pamuda 2008. Bahkan baru saja mengadakan pementasan monolog Banyumasan keliling Kebumen membawakan naskah Kaprah karya Agus Salim.

Ah, saya jadi nulis apa sing ora. Pating mblarah ora nggenah. Ya wis. Yang jelas sebagaimana mungkin Sanggar Sastra Wedang Kendhi berbuat adalah demi kelestarian sastra di Banyumas. Bagi kami bersastra adalah panggilan nurani. Kenapa demikian? Karena sastra itu menyegarkan. Klilan!

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Februari 2009

24 Februari 2009

BAHASA BANYUMASAN DI RUMAHNYA SENDIRI,


Beberapa hari lalu, saya berkunjung ke rumah saudara di Tangerang. Dalam perjalanan ke rumah saudara saya tersebut saya menggunakan angkot jurusan Kebon Nanas-BSD. Di dalam angkot tersebut saya mendengarkan percakapan yang menarik antara sopir dan kondekturnya. Sebenarnya yang menarik bukanlah tema percakapannya, melainkan bahasa yang mereka gunakan. Mereka memakai bahasa Banyumasan yang full ngapak. Ternyata mereka sama seperti saya, berasal dari Purwokerto. Bisa dibayangkan, di sebuah kota besar, kota metropolis, dimana pergaulan sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia yang gaul, mereka masih menggunakan bahasa ibu mereka tanpa rasa canggung maupun malu, di kendaraan umum pula.

Lalu, bagaimana dengan bahasa Banyumasan di rumahnya sendiri? Menurut sepengetahuan saya, boleh dikatakan laksana sebatang pohon Albasia di tengah padang pasir. Ya, seperti itu kira-kira perumpamaannya.

Jika kita bicara Banyumas, maka identik dengan Purwokerto sebagai pusatnya. Nah, di pusat inilah bahasa Banyumasan kini meranggas dan merana. Memang, sekarang kita masih mendengar bahasa Banyumasan digunakan oleh orang Purwokerto, namun itu hanya digunakan oleh orang-orang golongan 30 tahun ke atas alias golongan tua. Untuk golongan 29 tahun ke bawah, sangatlah jarang yang menggunakan bahasa ini.

Ya, sedikit sekali pemuda para penerus dan pelestari bahasa Banyumasan. Mereka seolah malu untuk berkomunikasi memakai bahasa ibu mereka. Mereka lebih suka dan bangga mengunakan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa baru yang (katanya) gaul dan funky meski kadang terdengar aneh dengan aksen medhok-nya. Coba deh tanya mereka apa arti kata konsangane, sing ngada-ada, cubluk, atau setiar. Kalau mereka bisa menjawab, saya traktir sampeyan mendhoan di angkringan perempatan Jl. Kampus deh.

Saya sempat tak percaya ketika dalam sebuah even Kakang-Mbekayu Banyumas, para peserta merasa takut ketika hendak menjalani ujian bahasa Banyumasan. Mereka lebih fasih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Namun ketika harus mengunakan bahasa Banyumasan, seolah menghadapi monster yang maha kejam dan menakutkan. Mereka yang nantinya menjadi bibit-bibit penerus budaya Banyumas ternyata takut dengan bahasanya sendiri. Ironis.

Saya haturkan hormat saya kepada Ahmad Tohari yang tiada henti-hentinya nguri-uri bahasa Banyumas dan memperjuangkan status bahasa Banyumas pada Kongres Bahasa Jawa beberapa bulan kemarin. Juga acungan jempol kepada kawan-kawan Komunitas Hujan Tak Kunjung Padam yang membawa bahasa Banyumasan -dan satu-satunya- pada Festival Kesenian Yogyakarta beberapa waktu lalu. Serta salut saya kepada setiap orang yang merasa bangga memakai bahasa Banyumasan kapanpun dan dimanapun.

Jika ditarik asal-usulnya, bahasa Banyumasan sebenarnya adalah keturunan langsung dari bahasa jawa kuno. Bahasa Banyumasan itu lebih tua umurnya dan merupakan akar dari bahasa jawa wetan/kraton yang mbandek dan mendayu-dayu itu. Tidak percaya? Kita gunakan ilmu gothak-gathuk seperti berikut. Dalam bahasa jawa kuno, katakanlah bahasa Sansekerta, ada kalimat Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang menggunakan akhiran berupa vokal a. Coba kalimat di atas dibaca menggunakan logat bahasa jawa wetan/kraton yang mengunakan akhiran vokal o pada setiap katanya. Bhineko Tunggal Iko Tan Hono Dharmo Mangrwo, akan sangat lucu dan tidak nyaman di telinga. Pun halnya dengan bahasa Banyumasan yang dengan ngapak-nya menyebut kata apa bukan opo.

Sebenarnya bahasa Banyumasan tidak akan bernasib seperti pohon Albasia di tengah padang pasir jika kita merasa punya beban moral untuk tetap membudayakan pemakaian bahasa Banyumasan setiap saat dan dimanapun tempat. Tidak hanya di jalan-jalan, warung makan, pasar, dan tempat-tempat umum lainnya, juga dalam acara-acara resmi pun kita harus pede memakai bahasa Banyumasan, bahkan kalau perlu dalam rapat-rapat DPRD, para wakil rakyat itu harus memakai bahasa Banyumasan.

Di dunia pendidikan, dari kelas 1 sampai kelas 12, para bapak ibu guru sebaiknya dalam mata pelajaran bahasa jawa gunakanlah bahasa Banyumasan, tak perlu takut melanggar ketetapan pemerintah yang mengharuskan pemakaian bahasa jawa wetan/kraton. Sekali-sekali melanggar boleh lah. Percaya deh, kepala sekolah tidak akan naik pitam kok.

Dan masih banyak cara-cara lain baik itu yang halal maupun yang tidak halal.
Ini juga bagi kaum muda. Seharusnya kita bangga mempunyai bahasa yang demikian agung. Kita juga harus bangga ketika kita berkomunikasi memakai bahasa Banyumasan. Tak perlu merasa malu ditertawakan oleh suku bangsa lain ketika kita ber-ngapak ria. Maju terus pantang mudur. Wong di Yogyakarta sendiri, kawan-kawan MASDUGAL (Banyumas Kedu Tegal) juga cuek bebek memakai bahasa ibu mereka yang ngapak di tengah-tengah rimba manusia mbandek, iya apa ora kang?

Saya mohon maaf jika tulisan saya jadi pating mblarah ora nggenah. Maklumlah saya hanya orang awam, bukan seorang akademisi yang harus formal dan manut dengan etika penulisan yang baik dan benar. Namun inilah bentuk kegelisahan saya melihat nasib bahasa ibu saya yang berada di ujung tanduk.

Bahasa adalah cermin dari kebudayaan suatu bangsa. Jika bahasa kita lenyap bagai debu tertiup angin apa jadinya Banyumas nantinya.

Nah siki sapa maning nek udu dhewek sing enom-enom sing nguri-uri bahasane dhewek? Ya mbok?


* Tulisan ini dimuat di rubrik Opini Kedaulatan Rakyat Edisi Selasa 30 Oktober 2007

07 Februari 2009

AKU MENGUNYAH CAHAYA BULAN: Jejak Perjalanan Dharmadi Itu Bernama Puisi

Kumpulan puisi berjudul Aku Mengunyah Cahaya Bulan, 56 Puisi Pilihan (1974-2004) (Novembar 1994) karya Dharmadi adalah suatu kumpulan jejak langkah perjalanan panjang kehidupan seorang Dharmadi yang terlahir di Semarang 30 September 1948. Jejak yang ditempuhnya selama tiga puluh tahun dalam berkarya dan bergelut di bidang sastra. Buku ketiga kumpulan puisinya setelah Kembali Ke Asal (1999) dan Dalam Kemarau (2000). Buku yang berisikan 56 puisi diawali dengan puisi berjudul Cahaya Hari (1974) dan diakhiri dengan puisi berjudul Aku Ingin Pulang (2004).

Buku ini pernah dibedah dalam acara Badah Buku Aku Mengunyah Cahaya Bulan Karya Dharmadi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia di Kampus Program Sarjana Bahasa Dan Sastra Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada tanggal 26 April 2005. Dengan pembicara adalah Dharmadi sendiri dan Abdul Wachid B.S.

Ke-56 puisi karya Dharmadi ini sebagian besar adalah penggambaran kejadian-kejadian yang dirasakannya sehari-hari. Coba simak puisi Dalam Sakit berikut: di ruang operasi/suntikkan pertama/sedikit goyang/suntikan kedua/aku mengembara/sampai di suatu negeri/dalam lapisan salju/mancar cahaya/betapa megah/berjalan-jalan/menyeka marmer putih/di dinding ruangan/kembali ke alam nyata/ada lamat-lamat suara/dalam mata yang masih memberat/selintas wajah istriku/lembut tangannya/menyeka ubunku/instalasi infus/dengan jarum menggigit urat nadiku/mengalirkan cairan di tabung/aku melihat-mu/berenang di dalamnya/dan gelembung udara/dari nafas-mu/menelusup slang plastik/menyusup di denyut jantungku//1994//

Dari puisi di atas dapat kita lihat bahwa dia melukiskan keadaannya saat sakit dan pengalamannya pada saat dioperasi. Momentum-momentum lain yang dia dapatkan juga tak luput ditelurkannya lewat puisi. Seperti pada puisi Di Kuburan (1974), Di Pendopo TBS (1995), Di Sisi Jenasah di Bibir Liang Kubur (1995), Sisir Itu Masih Mengurai Rambutku yang Tak Lagi Legam (1997), Di Dalam Gerbong (1999), Pantai Permisan (2000), Menjelang Senja (2000), dan Pantai Pasir Putih (2000). Dalam puisi Bulan Bulat di Ranjang (1994), tampak bahwa dia sedang menggambarkan pengalaman romantisnya di atas ranjang bersama sang istri dan diuraikan dalam bait …jatuh di tengah ranjang / sprei berbunga-bunga / yang tidur menggeliat pelan …

Simak juga puisi Akhirnya Kini Kita Tinggal Berdua berikut: Akhirnya kini kita tinggal berdua;/Anak-anak sepertinya baru kemarin/Menjadi bagian diri kita/Satu persatu pergi/Menyusuri jaman/Mencari nasibnya/Kita sendiri terus di jalan/Usia menuju tua/Dan akhirnya kini tinggal berdua;/Mengurai dialog dalam bahasa kata/Dengan cahaya hati dan bahasa rasa/Menuliskan huruf-abjad pada syaraf/Menjelma bahasa belaian/Sesekali terucapkan; siapa yang pergi dulu/Di antara kita, saling berebut merasa/Paling banyak salah dan dosa/: kalau sudah begitu sesaat berpandangan/kemudian berangkulan seolah tak ingin perpisahan/sambil saling menyeka airmata//2001-2002//

Dalam puisi di atas tersirat makna sebuah pengalaman sedih dimana dia sudah tak lagi bersama ketiga anaknya yang mengikuti suami/istri mereka. Tinggallah dia di rumah bersama sang istri sambil menunggu datangnya malaikat maut menjemput salah satu dari mereka.

Banyak memang, tema-tema yang diangkat adalah hal-hal yang biasa kita lihat dengan mata telanjang. Itu dapat kita lihat dalam puisi Gerimis Pagi (1995), Sungai-sungai (1999), Sajak Batu (1999-2004), Sebiji Beringin (2000), dan Selembar Daun (2001).
Puisinya juga berisikan suatu keadaan yang sesuai dengan keinginkannya. Pada puisi pertamanya; Cahaya Hari/hari, taburkan di sini/di pilar-pilar cuaca/cahaya hari/yang serbuk-serbuknya/di kantung langit//1974//

Sebuah puisi yang cukup singkat yang menggambarkan suatu keinginan sebuah awal yang baik, sebuah awal yang indah dalam menjajaki perjalanan hidupnya dalam berkarya. Sebuah keinginan untuk berumah tangga lagi setelah ditinggal mati oleh istrinya terefleksikan pada puisi Di Puncak Kemarau (1999-2000) pada bait terakhir, …aku percaya, aku percaya, pasti engkau akan menidurkanku dengan belaian sambil mendendangkan tembang tentang rahasia malam. Betapa dia sangat kesepiannya hingga dia memerlukan seorang sosok perempuan yang dapat mengurus hidupnya dan menemani hari-harinya. Dan kebetulan keinginannya tersebut terlaksana dengan sukses.

Coba kita simak puisi Aku Mengunyah Cahaya Bulan berikut: kukekalkan sebutir embun kehidupan/ada selembar daun hatiku kurambatkanfantasi lewat rentang kawat telepon/dan puncak tiang-tiangnya mengitarkan/ke langit dalam malamku/bulan memainkan cahaya/lewat serpihan kabut/menggugurkan suara gaduh/perjalananku/ada yang menimang resah hatiku di sana/betapa nikmat meneguk kedamaian meski sesaat/biarkan aku diam dalam mengunyah cahaya bulan/yang terlempar di sana//1995//

Sebuah puisi yang dijadikan sebagai judul buku ini. Memang benar apa yang dikatakan oleh Yudiono KS dalam pengantar buku ini. Tidak ada kejelasan apa yang hendak dinyatakan oleh sajak ini jika pemahaman dan penafsirannya diurutkan berdasarkan logika. Memang dalam sajak ini simbol-simbol yang ada tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Seperti cahaya bulan, suara gaduh, kawat telepon dan embun kehidupan. Mungkin inilah yang jadi pertanyaan. Tetapi menurut saya, Dharmadi memilih sajak ini sebagai judul bukunya memiliki sebuah tujuan. Dia menginginkan membawa pembaca ke dalam dunia tanya yang simbolik. Sehingga pembaca akan merasakan suatu kenikmatan terhadap rasa penasaran.

Ada yang menarik pada beberapa sajak di sini. Dalam puisi Sajak Jarum Jam (1993) …jarum jam menyimpan-mu…, Dalam Sakit (1994) …dari nafas-mu…, dan Sajak Dua Belasku (2002) …jadikan aku kakitangan-mu/dalam gerak kehendak-mu…. Jika kita cermati, maka ada penggunaan kata –mu menggunakan huruf m dengan huruf kecil. Sedangkan kita tahu, dalam kaidah bahasa Indonesia yang benar, penggunaan kata –mu dalam hal ini berarti tuhan, maka penulisan yang baik adalah menggunakan huruf m besar yaitu –Mu. Hal ini sempat menjadi pertanyaan dari rekan saya sesama mahasiswa. Bisa jadi, Dharmadi menggunakan kata tersebut, dapat disinyalir dia adalah seorang penganut paham manunggaling kawulo gusti. Tetapi hal itu tidak menjadi suatu hal yang perlu dipermasalahkan.

Dari keseluruhan puisi-puisinya, puisi Orang-orang Telah Kehilangan Sunyi adalah sebuah puisi yang merupakan kritik sosial terhadap keadaan umat manusia pada masa sekarang. …malam telah kehilangan sunyi/telah disulap dengan keramaian/malam telah kehilangan sunyi/telah disulap menjadi kenikmatan/malam telah kehilangan sunyi /telah disulap menjadi ajang pengkhianatan…. Tetapi dari keseluruhan puisinya adalah puisi-puisi perenungan. Kalau boleh saya menyebut, puisi-puisi Dharmadi adalah puisi romantis. Romantis di sini bukan berarti picisan, namun romantis di sini adalah puisi yang menghanyutkan. Buku ini di akhiri dengan puisi Aku Ingin Pulang (2004) …aku ingin pulang letih bertualang/terombang-ambing gelombang/gaduh dunia…. Sebuah bait yang menyatakan keinginannya untuk beristirahat setelah menempuh “perjalanan” yang melelahkan.

Purwokerto, 3 April 2006

19 Desember 2008

KARYA SASTRA YANG BAIK*


Dalam setiap karya sastra mengandung hal yang baik. Dalam bahasa Sansekerta, sastra atau susastra berasal dari kata su yang berarti baik dan sastra yang berarti ajaran, sehingga dapat diartikan bahwa susastra itu adalah sebuah ajaran yang berisi kebaikan yang ditujukan kepada manusia dengan tujuan kebaikan pula.
Sastra dalam bahasa lain sering kita sebut sebagai literatur. Literatur berasal dari bahasa Latin yaitu litera yang berarti tulisan. Literature dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang berkaitan dengan tulisan. Akan tetapi tidak setiap tulisan dapat dikatakan sebagai sebuah karya sastra.

Karya sastra terbagi menjadi beberapa genre atau jenis. Menurut Aristoteles dalam bukunya Poetica, karya sastra berdasar ragam perwujudannya terdiri atas tiga macam, yaitu epic, lyric, dan drama. Epic adalah teks yang sebagian berisi deskripsi (paparan kisah), dan sebagian lainnya berisi ujaran tokoh (cakapan). Epic ini bisa disebut prosa. Dalam perkembangannya, prosa terbagi menjadi beberapa jenis yaitu cerpen, cerkak, novel, roman, novelette, dan cerita bersambung. Lyric adalah ungkapan atau ide pengarang. Dalam hal ini yang berbicara adalah “aku”, yang biasa disebut penyair. Lyric ini yang sekarang disebut puisi atau sajak. Drama adalah karya sastra yang didominasi oleh percakapan para tokoh (Noor, 2005:24).

Dalam perkembangannya karya sastra tidak hanya terbagi menjadi tiga saja. Kritik sastra menjadi genre terakhir dalam karya sastra. Literary has a relationship with the other knowledge (Helcombe: 2007). Karya sastra bukan suatu objek yang netral, melainkan sebuah objek yang eksistensinya terikat pada beberapa variebel. Setiap teks sastra terikat pada pengarang dan pembaca. (Noor: 2005:4). Keterikatan tersebut melahirkan penilaian sastra atau yang sering disebut kritik sastra.

Sedangkan menurut medianya, karya sastra terbagi menjadi dua jenis yaitu sastra ujar dan sastra tulis. Sastra ujar adalah karya sastra yang dalam penyampaiannya menggunakan mulut atau lisan berupa ucapan. Karya sastra ini antara lain berupa dongeng, fable, epos, legenda, sage, mite, dan hikayat. Sedang karya sastra tulis adalah karya sastra yang dalam penyampaiannya menggunakan tulisan. Karya sastra ini antara lain berupa puisi, prosa, dan naskah drama.

Karya sastra yang baik
Lalu karya sastra yang baik itu yang seperti apa? Karya sastra yang baik memiliki berbagai macam aspek di dalamnya yaitu:

1. Hakikat
Apakah sesungguhnya karya sastra itu? Karya sastra adalah karya yang bersifat imajinatif. Karya sastra bersifat fiktif (rekaan). Meskipun karya sastra memiliki bahan (inspirasi) dari dunia nyata namun telah diolah oleh pengarang melalui imajinasinya. Realitas dalam dunia sastra telah ditambah “sesuatu” oleh pengarang sehingga kebenaran karya sastra adalah kebenaran yang dianggap ideal oleh pengarang. Menurut Luxemburg, karya sastra adalah pencerminan masyarakat. Dalam hal ini penggamabaran kenyataan. Akan tetapi karya sastra menciptakan dunianya sendiri yaitu dunia yang lepas dari kenyataan (1984).

Menurut Redyanto Noor, hakikat karya sastra ada tiga, yaitu:
• Karya sastra merupakan struktur dunia rekaan, artinya realitas dalam karya sastra adalah realitas rekaan yang tidak sama dengan realitas dunia nyata.
• Sebagai pencerminan kehidupan tidak berarti karya sastra merupakan gambaran tentang kehidupan, akan tetapi pendapat pengarang tentang keseluruhan kehidupan.
• Karya sastra meskipun bersifat rekaan, tetapi tetap mengacu kepada realitas dalam dunia nyata.

2. Fungsi
Secara keseluruhan, karya sastra mempunyai fungsi seperti yang diungkapkan oleh filsuf Yunani, Horatius, yaitu dulce et utile (menyenangkan dan berguna). Menyenangkan karena karya sastra memberikan kenikmatan, tidak memaksa siapapun; berguna karena mengisyaratkan pada suatu yang pantas diperhatikan secara sungguh-sungguh.

Aristoteles menyatakan bahwa sastra berfungsi catharsis (pencucian emosi), yaitu membebaskan pembaca sekaligus pengarang dari tekanan emosi, batin dan perasaan.
Sastra tidak terlepas dari ilmu-ilmu lain. Sastra adalah salah satu bentuk karya seni. Sebuah karya seni yang baik adalah seni yang sebesar-besarnya bermanfaat untuk masyarakat. Karya seni diciptakan untuk tujuan kepentingan masyarakat agar dapat meningkatkan kehidupan yang lebih baik. Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, syarat-syarat sesuatu menjadi karya seni yaitu memberi manfaat, bukannya mendatangkan madharat; membangun, bukan malah merusak (1998:22)

Bahkan Presiden John F. Kennedy mengatakan bahwa jika kekuasaan bengkok maka puisilah yang harus meluruskan. Hal ini menyatakan bahwa puisi sebagai salah satu karya sastra mempunyai peran dalam mempengaruhi seorang pemimpin dalam menjalankan pemerintahan untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang memihak kepada masyarakatnya.

3. Estetika
Estetika adalah bagian dari filsafat seni. Yakni filsafat yang menkaji nilai-nilai berkaitan dengan keindahan. Selain unsur imajinatif, unsure keindahan memiliki peran penting dalam penciptaan karya sastra. Karya sastra yang baik mempunyai nilai estetika yang tinggi.

Menurut Thomas Aquinas, keindahan memiliki syarat yaitu:
• Memiliki keutuhan (kesempurnaan).
• Memilki keselarasan (keseimbangan) bentuk.
• Memiliki sinar kejelasan.

Berdasar tiga syarat tersebut dapat disimpulkan bahwa apapun yang memberi kita rasa puas itu indah. Hal ini menjadi fitrah manusia yaitu menyukai hal-hal yang indah (Qardhawi 1998:10).

Keindahan dalam karya sastra dapat dilihat dari segi-segi intrinsik yang terkandung dalam karya tersebut.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa karya sastra yang baik itu mempunyai unsur hakikat, fungsi dan estetika. Apabila dalam sebuah karya sastra tidak ada salah satu atau semua dari unsur tersebut, maka karya saatra tersebut tidak dapat disebut sebagai karya sastra yang baik. Demikian.

* Makalah disampaikan dalam Workshop Penulisan Karya Sastra pada Workshop Anggota Baru Teater DIDIK bertempat di STAIN Purwokerto pada tanggal 3 Desember 2008.


Referensi
Eneste, Pamusuk, 1993. Proses Kreatif I & II. Jakarta: Gramedia.
Helcombe, C. John. 2007. Types of Literary Critism. Posted in . http://www.assumption.edu/users/ady/HHGateway/ Gateway/Approaches.html.
Luxemburg, Jan van, Mieke Bal & Willem G. Weststeijn. 1984. Pengantar Ilmu Sastra (diidonesiakan Dick hartoko). Jakarta: PT. Gramedia.
Noor, Redyanto. 2005. Pengkajian Sastra. Semarang: Fasindo.
Qardhawi, DR. Yusuf. 1998. Islam Bicara Seni. Solo: Era Media.

06 Agustus 2008

PINTU KAMAR SELALU MENANTI UNTUK DIBUKA

Sungguh kasihan Bayu Murdiyanto!
Kenapa saya berkata begitu? Suatu ketika saya membaca tulisannya dalam bulletin sastra DIKSI edisi 2 November 2007 yang berjudul “Ada Apa dengan Sejarah dan Penulis Kamar?”
Di situ tertulis seperti ini:”Yah… gagal dimuat lagi…”. kata-kata semacam ini sering kali tercetus dari bibir-bibir penulis ketika karya-karya mereka lagi-lagi tidak nongol di media. Alas an itu pula yang terucap bila mereka ditanyai alas an mengapa mereka tidak mengirimkan karyanya ke media massa.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah alasan di atas pula yang membuat Bayu Murdiyanto enggan mengirimkan karya-karyanya ke media massa? Jika iya, saya jadi bertambah penasaran, apakah dia benar-benar serius dan intens mengirimkan karya-karyanya ke mendia massa? Jika iya, bisa dimaklumi bila dia menulis artikel seperti itu. Jika tidak, maka betapa piciknya dia. Mengapa demikian?
Dalam tulisanya, dia juga menyebutkan bahwa dia adalah seorang penulis kamar yang ingin menjadi sejarah, namun ketika dia baru berjuang selama dua bulan melempar karya-karyanya ke media massa dan ketika mendapat hasil yang nihil, dia menyeah dan kalah.
Tidak hanya dia, namun juga penulis-penulis pemula yang ingin menunjukkan eksistensinya namun memiliki sifat yang sama dengan seorang Bayu Murdiyanto.
***
Tidak dapat kita pungkiri bahwa media massa memiliki peran penting dan merupakan senjata paling ampuh bagi penulis (sastrawan) selain penerbit untuk mempublikasikan karya-karyanya, memperkenalkan dirinya kepada khalayak, serta mengikutsertakan dirinya dalam sejarah. Hampir seluruh sastrawan di Idonesia besar oleh media massa.
Apakah sastrawan sekaliber Sutardji Calzoum Bachrie, Umbu Landu Paranggi, Taufiq Ismail, Ahmad Tohari, Idrus, Toto Sudarto Bachtiar, D. Zawawi Imron, dan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, besar dan dikenal sejarah kesusastraan Indonesia dengan begitu saja mudahnya?
Jawabnya tidak. Sebelum nama mereka dikenal sejarah sastra, mereka terlebih dahulu berjuang untuk mempublikasikan karya-karyanya. Tidak hanya seminggu, dua minggu, atau sebulan dua bulan, namun berbulan-bulan, bahkan ada yang beberapa tahun. Meski karya mereka belum dimuat oleh media massa yang diinginkan, namun mereka tidak lelah untuk terus melempar karya mereka ke media massa tersebut. Seorang penyair bahkan sempat berkata jika ingin karya anda dimuat di meda massa, maka kirimkan karya anda seperti membuang ke tong sampah dan tidak usah diingat-ingat sudah berapa kali anda mengirimkannya.
Jadi kita tidak dapat berprasangka buruk kepada redaktur ketika mereka memuat karya-karya penulis yang memang sudah memiliki nama seperti yang saya sebutkan di atas. Redaktur memiliki pertimbangan sendiri kenapa karya penulis-penulis itu lagi yang kembali di media massanya. Yang jelas, satu pertimbangan besar adalah bentuk penghargaan atas perjuangan penulis-penulis tersebut sebelum nama mereka besar seperti sekarang ini.
Jika ada nama-nama penulis baru yang muncul, itu merupakan hal yang luar biasa. Itupun pastilah redaktur memiliki alas an dan pertimbangan yang khusus untuk memuat karya dari penulis-penulis baru. Alas an tersebut bisa karena karya mereka benar-benar bagus, bahkan fenomenal, bisa juga karena penulis tersebut penuh dengan sensasi, atau mungkin mereka adalah orang yang memang sudah terkenal di jalur lain seperti artis, pengusaha, politikus, atau pejabat yang menoba jalur baru yaitu dunia tulis menulis (sastra).
***
Kembali kepada Bayu Murdiyanto. Dari awal sudah terlihat sikap provokatifnya bagi para penulis pemula untuk menyerah saja ketika hendak mengirimkan karya-karyanya ke media massa. Dalam hal ini bisa dikatakan seperti berikut: “Menyerahlah sebelum bertanding, sebab, kalian pasti kalah.”
Tidak hanya itu, ternyata dia tidak konsisten dengan penyataannya sendiri. Coba baca lagi ttlisannya dengan telitihingga paragrf terakhir. Di penutup tulisannya dia malah berbalik untuk pantang menyerah untuk mempublikasikan karya-karya penulis pemula. Meskipun melalui media alternatif yang bersifat indie.
Memang benar, media alternatif yang bersifat indie merupakan jalan lain untuk memperkenalkan karya-karya penulis pemula ke khalayak. Media tersebut bisa berupa bookle, bulletin, selebaran, dan buku-buku indie. Media-media seperti itu biasanya diterbitkan oleh komunitas-komunitas sastra. Selain itu, internet juga menjadi tren baru untuk mempublikasikn karya sastra atau yang sering kita sebut cybersastra atau sastra cyber. Bahkan seorang Saut Situmorang mati-matian mengangkat sastra cyber untuk disamakan derajatnya dengan sastra koran.
Bukannya saya di sini mengatakan bahwa media alternatif itu tidak baik, bukan. Saya senang jika sekarang banyak sekali media alternatif yang berkeliaran. Namun janganlah media alternatif tersebut (dalam hal ini bulletin) dijadikan sebagai satu-satunya pilihan terhakhir. Namun alangkah bijak bagi para penulis pemula yang karya-karyanya sudah sering dimuat di media alternatif untuk tidak lupa dengan media massa (Koran).
Jika para penulis pemula terus-terusan mempublikasikan karyanya melalui bulletin kapan dia akan menjadi lebih dikenal oleh sejarah? Sebab, untuk saat ini kita (penulis) tidak dapat lepas dari media massa (Koran).
Jadi bagi para penulis pemula, tetaplah kalian menulis, dan jangan putus asa untuk tetap mengirimkan karya-karya kalian ke segala macam media, baik itu media cetak (Koran) maupn media alternatif. Jika kalian hanya mengandalkan media alternatif, maka kalian hanya akan menjadi penulis kamar yang tidak dapat iktu dalam sejarah seperti Bayu Murdiyanto. Saatnya kita berjuang untuk keluar dari kamar.

Purwokerto, Nov 07

ALUN-ALUN YANG UNIK ITU KINI TELAH HILANG

Beberapa hari lalu, bertempat di sekre Komunitas Sastra Alam, di sela-sela acara Ngobrol Bareng Sastra (Ngobras), saya melontarkan masalah penataan alun-alun Purwokerto kepada beberapa kawan sastrawan. Salah satu kawan saya, Mohammad Ayatullah mengatakan bahwa salah satu kelebihan Purwokerto dibanding dengan kota-kota yang lain adalah terletak pada alun-alunnya.
Alun-alun di kota kebanyakan berupa sebuah alun-alun besar yang memiliki sebuah pohon wringin kurung yang terletak di tengahnya. Berbeda dengan yang lain, alun-alun Purwokerto memiliki dua buah alun-alun kecil yang terpisah oleh jalan raya dan juga memiliki dua buah pohon wringin kurung dua buah di sebelah barat dan di sebelah timur.
Keunikan itulah yang menjadi ciri khas alun-alun Purwokerto yang tidak dimiliki oleh alun-alun di kota lain kecuali Cilacap. Tetapi kini keunikan tersebut telah hilang dikarenakan adanya program kerja 100 hari Bupati dan Wakil Bupati Banyumas
Penataan alun-alun Purwokerto merupakan salah satu program kerja 100 hari sejak dilantiknya Marjoko menjadi bupati Banyumas periode 2008-2013. Penataan alun-alun tersebut berupa penyatuan alun-alun sebelah barat dan sebelah timur dengan cara membongkar jalan aspal yang berada di antara keduanya dan mengganti wringin kurung dengan yang baru.
Tetapi keputusan bupati untuk merombak alun-alun tersebut mendapat protes keras dari masyarakat terutama dari kalangan seniman, budayawan, dan mahasiswa. Berbagai macam aksi dilakukan untuk menceegah pembongkaran alun-alun. Seperti melakukan demo, aksi teaterikal di atas eskavator, mendatangi DPRD, dan mengeluarkan tulisan berupa kritik di surat kabar.
Mereka sepakat bahwa pembongkaran alun-alun merupakan tindakan pengrusakan terhadap benda cagar budaya (BCB).
Dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 ayat 1a menyebutkan bahwa, suatu benda buatan manusia harus berumur sekurang-kurangnya berumur 50 tahun agar bisa dikategorikan sebagai benda cagar budaya.
Menilik undang-undang di atas, sudah cukup jelas jika alun-alun Purwokerto merupakan sebuah benda cagar budaya. Dan konsekuensi kita adalah melindungi dan menjaga keasliannya.
Di lain pihak, Bupati Marjoko bersikukuh melakukan pembongkaran terhadap alun-alun dengan alasan pembenahan dan penertiban. Dia juga menambahkan bahwa dirinya telah berkonsultasi dahulu dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah.
Sedangkan dalam pasal lain menyebutkan bahwa perbuatan pencemaran BCB termasuk di dalamnya adalah tindakan pengrusakan, pengambilan atau memindahkan benda sebagian atau keseluruhan, mengubah bentuk dan atau warna, memugar dan memisahkan dari kesatuannya.
Hal ini jelas bahwa pembongkaran alun-alun Purwokerto merupakan pelanggaran terhadap undang-undang.
Dalam surat dari BP3 Jawa Tengah tentang alun-alun Purwokerto menyebutkan bahwa (1) Alun-alun Purwokerto Kabupaten Banyumas merupakan Benda Cagar Budaya yang dilindungi UU No 5/1992 sehingga dalam upaya revitalisasinya memperhatikan nilai penting sebagai simbolisme religius, nilai penting kota bersejarah, dan nilai penting sebagai landmark kota. (2) Revitalisasi alun-alun dapat dilaksanakan sesuai gambar perencanaan landscape alun-alun Purwokerto Kabupaten Banyumas Tahun 2008 dengan memperhatikan: a. Jalan aspal ditengah alun-alun dihilangkan dan dapat dibuat akses tapak jalan dari coneblock dengan ketinggian yang selaras dengan lahan alun-alun; b. Pohon beringin kurung dan beringin batur tetap dipertahankan, dalam arti beringin kurung yang mati diganti baru; c. Pagar beringin kurung dapat diganti dengan bentuk yang dikonsultasikan lebih dahulu dengan BP3 Jateng; d. Jika ada perubahan-perubahan dari rencana supaya dikonsultasikan dengan BP3 Jateng.
Dari surat keputusan BP3 tersebut, kita tidak dapat menyatakan bahwa keputusan Bupati Marjoko untuk membongkar jalan aspal yang berada di tengah alun-alun Purwokerto dan mengganti beringin kurung dengan yang baru adalah salah.
Yang salah adalah caranya. Bupati Marjoko terlalu memaksa dan ceroboh. Betapa tidak. Sejak awal, rencana pembongkaran alun-alun tidak diberitahukan terlebih dahulu kepada masyarakat secara jelas dan transparan. Bupati tidak melakukan dialog dengan beberapa elemen masyarakat tentang pembongkaran tersebut. Juga tidak melibatkan DPRD dalam mengambil keputusan. Kecerobohan lain ketika bupati melakukan pembongkaran terhadap alun-alun sebelum surat keputusan dari BP3 turun.
Yang paling memalukan adalah pembohongan terhadap anggota Komisi B DPRD. Ketika anggota Komisi B mendatangi lokasi dan meminta pekerja dan pimpinan proyek menghentikan kegiatannya, perintah tersebut ditanggapi dengan baik dan seketika itu pula mereka menghentikan pekerjaanya. Tetapi ketika anggota dewan meninggalkan lokasi pekerja melanjutkan lagi pekerjaannya.
Apabila rencana pembongkaran alun-alun diberitahukan dahulu kepada masyarakat dengan jelas dan transparan dengan cara menunjukkan surat dari BP3 serta diadakan dialog dengan baik-baik, saya kira Bupati Marjoko tidak akan mendapatkan kritikan dari masyarakat sederas saat ini.
Sebab jika masyarakat telah mengetahui terlebih dahulu rencana pembongkaran alun-alun dan hal itu diperbolehkan oleh yang lebih berkompeten dengan surat keputusan dari BP3, pastilah masyarakat mau menerima dengan hati legawa. Begitu.
Tabik.