05 Maret 2009

TENTANG PEMBIBITAN SASTRA BANYUMAS

Sastra adalah suatu disiplin sosial budaya yang selalu dinamis. Dia tidak pernah stagnant pada suatu masa tertentu. Dia selalu mengikuti perubahan keadaan masyarakat kapanpun dan dimanapun. Dalam perkembangannya, dia selalu mencari bentuk-bentuk baru yang berbeda dengan yang sudah ada. Perubahan itu bisa berupa apapun, entah itu dari segi tema, bentuk, kata, gaya, sistem, dan sebagainya.

Salah satu unsur faktor yang mempengaruhi perubahan sastra di suatu daerah adalah para pelaku sastra atau sering disebut sebagai sastrawan di daerah tersebut. Suatu generasi pastilah memiliki corak yang berbeda dengan corak sebelumnya. Setiap generasi yang muncul membuat suatu pembaharuan terhadap sastra terdahulu.
Sebagai mana kita ketahui, ada periodesasi sastra berdasarkan corak dan gaya yang berbeda pada setiap generasinya. Di eropa kita mengenal adanya periodesasi sejak dari masa Romawi, abad pertengahan, abad keenam, abad keduabelas, zaman gelap, Renaissance, Shakespearian, Spenserian, Restorasi, Romantis, Realis, Modern, Feminis, dan Posmodern.

Di negeri kita, kita mengenal angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan ’66, Angkatan ’70, Angkatan ’80, dan angkatan 2000. Dari Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Chairil Anwar, Idrus, Iwan Simatupang, Rendra, Sutardji Calzoum Bachrie, hingga Afrizal Malna dan Joko Pinurbo.

Generasi Baru
Pun halnya di Banyumas. Sastra mengalami perkembangan sesuai perguliran waktu. Pergantian pelaku sastra dari generasi tua oleh generasi muda yang lebih terbuka pikiran dan wawasannya terhadap perkembangan dunia sastra di berbagai tempat beserta seluk beluknya. Munculnya nama-nama baru yang kini lebih mendominasi kegiatan berkesusastraan di Banyumas merupakan angin segar yang membongkar dominasi generasi tua yangstagnan dalam berkarya.

Diawali oleh Teguh Trianton, Sigit Emwe, Heru Kurniawan, dan Faisal Kamandobat, menyusul nama-nama baru seperti Aliv V Essessi, Dwiana Jati Setiaji, Isno Wardoyo, Yosi M Giri, M Aziz, Shinta A. Utami, Dita Zoraetha, Restu Kurniawan, Arif Hidayat, dan A. H. Antassalam. Karya-karya mereka sering kali muncul di media masa cetak baik lokal maupun nasional.

Dari tangan mereka juga lahir karya-karya sastra yang berkualitas. Tak jaarang juga, dari mereka menghasilkan dokumentasi karya mereka dalam bentuk buku baik itu berupa indie maupun melalui jalur penerbitan. Mereka tidak pernah berhenti untuk mengeksplor kemampuan mereka dalam berkarya. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, telah beberapa kali diadakan peluncuran buku karya mereka, baik itu berupa kumpulan puisi, cerpen , maupun novel.

Dari apresiasi sastra, kini Banyumas tidak pernah sepi dari kegiatan apresiasi sastra. Adannya diskusi dan dialog sastra di berbagai tempat, peluncuran buku, berbagai macam acara pembacaan puisi di mana-mana, hingga pengkolaborasian dengan cabang seni lainnya, seperti teater misalnya. Pengfregmentasian karya-karya sastra ke atas panggung teater.

Hal ini juga disebabkan oleh munculnya berbagai komunitas sastra di Banyumas yang juga menjadi tren baru di jagat kesusastraan tanah air dewasa ini. Komunitas-komunitas itu antara lain Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP), Sastra Alam (SALAM), Bunga Pustaka, Wedang Kendhi (SSWK), Purwokerto Literary Community, Tjilatjapan Poetry Forum, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cab. Purwokerto, dsb. Setiap komunitas memilki kegiatan berkesusastraan yang kontinyu sekecil apapun itu, sehingga aroma bersastra sangatlah segar dan marak.

Pembibitan
Dalam tulisannya di Suara Merdeka edisi Senin, 9 Februari 2009 tentang pembibitan pelaku sastra di Banyumas, Teguh Trianton menyatakan bahwa komunitas sastra yang ada, memiliki peran dalam hal mencetak bibit-bibit baru. Komunitas harus mencari penerus yang mau menjalankan komunitas dan melakukan kegiatan berkesusastraan.

Saya rasa bukan hanya komunitas sastra yang memilki tugas tersebut. Masih ada yang lain yang seharusnya lebih bergiat. Seperti misal dewan kesenian, dalam hal ini adalah kesenian yang ada di Banyumas besar, entah itu Dewan Kesenian Banyumas, Dewan Kesenian Purbalingga, Dewan Kesenian Cilacap, maupun Dewan Kesenian Banjarnegara.
Bahwa dewan kesenian memilki divisi sastra adalah keharusan. Disinilah tugas dari mereka. Mereka harus menjadi bagian terpenting dalam pembibitan sastra. Mereka seharusnya menjadi wadah dan mengayomi para pegiat sastra yang masih pemula. Selama ini, dewan kesenian seolah tidak pernah mendukung dan tidak pernah peduli adanya kegiatan berkesusastraan yang dilakukan oleh generasi muda.

Sekolah
Sekolah juga merupakan unsur yang tidak bisa kita lupakan dalam pencarian bibit-bibit baru pelaku sastra. Kita tahu, Taufiq Ismail dan Horisonnya mati-matian mengadakan program Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab. Berkeliling tanah air, masuk ke sekolah-sekolah (SMA) di berbagai pelosok demi satu tujuan, yaitu memperkenalkan sastra kepada para siswa agar nantinya muncul bibit-bibit baru yang bermutu dalam percaturan sastra di tanah air.

Peran serta sekolah sangat diharapkan di sini. Sekolah diharuskan aktif dalam membentuk peserta didiknya menjadi pribadi-pribadi yang menyukai sastra. Demikian juga dengan tenaga pendidiknya, guru juga harus mengikuti perkembangan dunia sastra, sehingga nantinya akan lahir bibit-bibit baru yang tidak kalah hebat dengan para pendahulunya.

Ya mbok? Klilan.

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Februari 2009

PURWOKERTO, SASTRA, DAN KOMUNITAS

Beberapa bulan lalu saya mendapat undangan peluncuran buku antologi puisi Penyair Bengal karya Muhammad Mayat Ayatullah dan mendapat kehormatan untuk menjadi pembedah buku tersebut dalam buku tersebut. Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian dari acara yang diadakan oleh komunitas sastra Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP) yang bertajuk Peluncuran Antologi Puisi Pendiri HTKP. Selain Muhammad Ayatullah, masih ada empat penyair lagi yang meluncurkan karyanya yaitu; Aliv V. Essessi, Ari Bledeg Purnomo, Agustav Triono, dan Yudhistira Sibir Jati.

Dewasa ini, di Banyumas dalam hal ini Purwokerto, sering diadakan kegiatan kesusastraan yang dimotori oleh kaum muda yang tergabung dalam komunitas sastra. Terhitung ada beberapa komunitas sastra yang eksis melahirkan penulis-penulis muda berbakat dan mencantumkan nama mereka di beberapa media masa lokal maupun nasional.
Selain komunitas sastra HTKP masih ada beberapa nama yang meramaikan geliat kesusastraan Purwokerto, antara lain; Komunitas Sastra Alam (SALAM), Segara, Komunitas Sastra Indonesia Cab. Purwokerto, Forum Lingkar Pena (FLP) Cab. Purwokerto, Komunitas Sastra Dukuh Waluh, Bunga Pustaka, Sanggar Sastra Wedang Kendhi (SSWK), dan Purwokerto Literary Community (PLC).

Munculnya komunitas sastra di Purwokerto tidak terlepas dari pengaruh dari kota lain seperti Yogyakarta, Solo, Semarang dan Jakarta yang terlebih dahulu ada dan terbukti memebesarkan sastrawan-sastrawan di kota tersebut.

Sejarah
Jika kita menilik ke masa lalu, komunitas sastra di Purwkoerto telah ada sejak tahun 1971. Pada waktu itu berdiri Sanggar Pelangi yang dimotori oleh Dharmadi dan kawan-kawan. Lalu pada tahun 1974 lahir Himpunan Penulis Muda (HPM); dan diikuti oleh berdirinya Lingkar Seni dan Budaya pada tahun 1986; dan kancah Budaya Merdeka pada tahun 1993.

Dari komunitas-komunitas tersebut lahir beberapa nama antara lain Mas’ut, Bambang Set, Dharmadi, Surya Esa, Herman Affandi, Ahita, Edi Romadhon, dan Nanang Anna Noor.

Peranan Komunitas Sastra
Komunitas sastra adalah sekelompok individu yang cinta dan aktif berkegiatan mengapresiasikan sastra secara bersama-sama. Kegiatan tersebut tentunya memiliki tujuan mengembangkan kesusastraan. Sedangkan kegiatan pengapresisasian sastra dari komunitas tersebut antara lain: penulisan karya sastra, pembacaan karya sastra, diskusi, penerbitan karya dan sebagainya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa komunitas sastra memiliki peran yang cukup besar bagi perkembangan sastra terutama di daerah. Setiap komunitas sastra memeiliki ikatan yang kuat dengan komunitas lain. Dalam perkembangannya terjadi sistem jaringan yang kuat yang saling bahu-membahu memeperkenalkan karya sastra kepada komunitas lain.
Komunitas sastra juga berperan dalam mengangkat nama individu. Individu tersebut akan lebih mudah dikenali jika mereka membawa nama komunitas tempat mereka aktif bersastra.

Selain itu, komunitas sastra juga berperan sebagai motor penggerak geliat kesusastraan di suatu wilayah. Semakin banyak komunitas sastra yang ada di suatu daerah, kegiatan bersastra di daerah tersebut pun semakin sering dan beragam.

Peran Komunitas Sastra di Purwokerto
Sejak semakin sedikitnya sastrawan senior di Purwokerto yang masih aktif berkarya dan berkegiatan sastra, maka komunitas sastra yang dimotori oleh anak-anak muda tersebut yang kembali menggeliatkan kegiatan berkesusastraan di kota mendoan ini.
Berbagai macam kegiatan dilakukan oleh komunitas tersebut. Seperti misal acara Ngobras atau Ngobrol Bareng Sastra yang diadakan oleh antar komunitas yaitu SSWK, SALAM, dan HTKP, diskusi setiap malam Kamis oleh Bunga Pustaka, dan diskusi Rabu malam oleh PLC. Juga penerbitan Buletin Kakawin oleh Komunitas SALAM, Buletin Wedang Kendhi oleh SSWK.

Selain itu juga penerbitan buku oleh komunitas sastra tersebut. Penerbitan tersebut antara lain antologi puisi Desire Dia yang Terlupakan, Terimakasih, dan novel Habis Terang Terbitlah Gelap (SALAM), antologi puisi Jejak Tapak Langkah, CPNS Calon Penyair Negeri Sastra, Penyair Bengal, Sajak Sampah, Berkawan Hujan, Panggung, Dalam Asap Kata-Kata, Mata Malam, antologi cerpen “Banyumas” (Banyumas dalam Tanda Kutip), kumpulan naskah drama Bangka, dan kumpulan naskah monolog Orang-Orang Tak Terkenal (HTKP), antologi puisi Makan Malam, Sepotong Cinta Di Ujung Sepatu, dan Belajar Menulis Sajak Cinta (SSWK).

Teater
Selain komunitas sastra, kegiatan kesusastraan di Purwoketo juga tidak lepas dari peran komunitas teater. Hal ini disebabkan adanya keterikatan batin antara sastra dengan teater. Komunitas teater mengapresiasikan sastra ke atas panggung dalam wujud pementasan.

Di sela-sela berteater, mereka biasanya mengadakan acara yang berbasis sastra seperti malam apresiasi puisi, peringatan Chairil Anwar, tadarus puisi, lomba baca puisi, lomba penulisan cerpen, seminar sastra, dan sebagainya.

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Januari 2009

KARENA SASTRA ITU MENYEGARKAN

Seorang petani berdiri tepat di tengah sawah mengayunkan tangannya menghujankan cangkul ke tanah basah. Peluh mengalir dari dahi melewati pipi dan bermuara di dagunya, lalu jatuh membaur bersama lumpur. Matahari yang menggantung di ujung kepala. Terik yang jahat. Tiba-tiba dari sebuah gubug tak jauh dari situ terdengar suara wanita memanggil. Dia istrinya. Petani itu mengakhiri pekerjaannya. Dihampiri istrinya.

Sesampai di gubuk tersebut, petani itu segera mengambil sebuah kendhi berisi air. Diangkatnya tepat di atas mulutnya. Dari ujung lubang kendhi tersebut lalu mengalir air minum dan bermuara di mulut petani itu. Sungguh air minum yang sangat menyegarkan. Air yang keluar dari dalam kendhi.

Saya bukan hendak menulis cerpen. Tapi ilustrasi di atas dapat kita tarik benang merahnya, yaitu betapa segarnya menguk air kendhi di waktu panas terik menyengat. Itulah.

Dari filosofi air kendhi yang menyegarkan itulah, sekelompok pemuda, Ryan Rachman, Braja Eka Bayu Permana, dan Rahayu Puji Utami yang notabene adalah mahasiswa Ilmu Budaya Unsoed Purwokerto membuat sebuah komunitas sastra yang diberi nama Sanggar Sastra Wedang Kendhi. Karena, bagi mereka sastra itu seperti air yang keluar dari mulut kendhi.

Wedang Kendhi (Jawa) dalam bahasa Indonesia berarti air yang berada di dalam kendhi. Kendhi adalah tempat air seperti poci tetapi lebih besar yang terbuat dari tanah yang digunakan untuk menyimpan air minum. Sedangkan wedang berarti minuman. Air minum yang dituang dari dalam kendhi memiliki kesegaran yang luar biasa. Dingin tetapi tidak dingin (maksude?). Ya seperti itulah. Intinya menyegarkan!

Demikian juga dengan sastra. Mereka menyukai sastra karena bagi mereka sastra itu menyegarkan. Mereka bersastra untuk melepas segala macam keresahan, kegelisahan, kehausan, dan ketidakpuasan terhadap sesuatu di sekitarnya. Mereka bersastra untuk menenangkan hati, menyegarkan pikiran, dan untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani (apa maning kuwe?).

Sanggar Sastra Wedang Kendhi dibangun di atas lahan seluas 10 x 25 meter tepat di dalam sebuah rumah bernama kos-kosan. Tempat itu tepatnya di bilangan Jl. Gunung Slamet Gg. Flamboyan No. 11 Grendeng Purwokerto Jawa Tengah 53122. Komunitas ini berdiri pada tanggal 4 Mei 2005.

Selain filosofi wedang kendhi di atas, ada hal lain yang lebih mendasari berdirinya komunitas ini. Hal itu adalah menambah kegairahan bersastra di Purwokerto. Apa? Menambah kegairahan bersastra di Purwokerto (digaris bawah, distabilo). Itulah sebenarnya misi utama dari sekelompok pemuda hebat tadi.

Demi memperjuangkan misi tersebut, berbagai macam kegiatan kesusastraan diadakan oleh Sanggar Sastra Wedang Kendhi. Kegiatan tersebut salah satunya adalah NGOBRAS. Ngobras merupakan akronim dari NGobrol BaReng sAStra. Kegiatan ini diadakan setiap hari Rabu malam Kamis. Acara ini hampir mirip dengan pengadilan puisi. Yang membedakan adalah tidak hanya puisi saja yang dibahas, tetapi juga karya sastra lain seperti cerpen, novel, esai sastra, hingga naskah drama. Selain itu juga membahas perkembangan sastra dan permasalahannya terutama di Banyumas dan di Indonesia pada umumnya, sehingga mereka tidak terlalu kuper dengan perkembangan sastra dewasa ini.

Kegiatan lainnya adalah menerbitkan buletin sastra dan teater Wedang Kendhi setiap satu bulan sekali. Di buletin ini terdapat berbagai macam rubrik yang berbau sastra dan teater yaitu: esai, cerpen, puisi (Indonesia dan Inggris), cerbung, profil, wawancara, resensi, agenda kesusastraan, liputan sastra dan teater, hingga horoskop sastra, kuis, dan iklan (yang terakhir memang harus ada).

Dengan sistem jaringan , buletin ini telah menyebar hingga pelosok tanah air seperti Yogyakarta, Solo, Kebumen, Semarang, Tegal, Jepara, Jakarta, Bandung, Surabaya, Madura, Jambi, Riau, Banjarbaru (Kalimantan), hingga Kendari (Sulawesi). Bagi kalian yang karyanya ingin dimuat di buletin tersebut bisa kirimkan via surat maupun email. Jika menggunakan surat, kirimkan ke alamat sanggar di atas. Jika menggunakan email kirim ke kamar_puisi@yahoo.com. Jika mau berlangganan juga terima dengan tangan terbuka. Jika ingin iklan juga dibuka dengan tangan lebar (wah promosi…).

Selain itu, Sanggar Sastra Wedang Kendhi juga menerbitkan karya meskipun berbentuk Indie. Salah satu karya yang sudah terbit adalah antologi puisi Belajar Menulis Sajak Cinta karya Ryan Rachman. Bahkan, antologi puisi bersama Sepotong Cinta Tertinggal Di Ujung Sepatu serta antologi puisi Sajak Untuk Kekasihku karya Braja Eka Bayu Permana tengah menunggu terbit.

Tidak hanya itu. Sanggar Sastra Wedang Kendhi juga aktif di dunia perteateran. Ikut berpartisipasi dalam Pesta Monolog Orang-Orang Tak Terkenal 2007 dengan mementaskan naskah Dajal karya Bayu Murdiyanto. Mementaskan naskah monolog Api karya Ryan Rachman dalam memperingati hari Sumpah Pamuda 2008. Bahkan baru saja mengadakan pementasan monolog Banyumasan keliling Kebumen membawakan naskah Kaprah karya Agus Salim.

Ah, saya jadi nulis apa sing ora. Pating mblarah ora nggenah. Ya wis. Yang jelas sebagaimana mungkin Sanggar Sastra Wedang Kendhi berbuat adalah demi kelestarian sastra di Banyumas. Bagi kami bersastra adalah panggilan nurani. Kenapa demikian? Karena sastra itu menyegarkan. Klilan!

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Februari 2009