07 Januari 2010

Puisi Ryan Rachman di Minggu Pagi

Dimuat di Minggu Pagi Minggu III Desember 2009

KAMBOJA
-Edi Romadon

bukankah ia akan selalu berguguran menimbun tanah basah
di pelataran rumah? berguguran seperti sayap laron-laron yang tak
mampu menahan panas lampu penerang jalan raya
di awal musim hujan. di pelataran rumah. rumah tanpa jendela kaca
atau ventilasi untuk sirkulasi. rumah masa depan. rumahku,
rumahmu, rumah kalian, rumah kita

dia akan selalu berguguran. menebar aroma kematian yang amboi
seramnya, yang amboi cekamnya. aroma kematian pada jiwa-jiwa yang
tak kutahu rimbanya. seperti angin yang berkelana tak tentu mata angin

dan kita hanya bias merangkai kamboja yang berguguran menjadi origami
doa dan doa, supaya aroma kematian yang menakutkan itu berganti
wajah menjadi aroma kematian yang amboi asyiknya, yang duhai
nikmatnya. yang ah lembutnya. seasyik permainan playstation, senikmat
matahari, selembut kue bolu kukus. seindah kematian

Purwokerto, Mei 2009




AKU PUN PULANG

Aku pun pulang
Berkendara malam dan deru aspal beku
Pulang menjemput rindu
Pada aroma bunga yang ditanam ibu di depan rumah
Pada bisik pasir yang diramu bapak menjadi istana
Pada lengking yang tersiar dari bibir adik-adikku

Dan aku pulang
Sebab aku hampir lupa
Bagaimana cara melelapkan mata pada kasur busa
Dan malam semakin basah

Sumpyuh, November 2008

AMPLOP MERAH


Amplop ini kutemukan di beranda cakrawala yang memerah. Di sampulnya tertulis namau dengan tinta merah. Ketika perlahan kubuka, kutemukan wajahmu memerah seraya menumbuhkan air mata merah dari mata merahmu. Dan hisung merahmu meenetes aroma menusuk udara. Dan bibir merahmu tumbuh bola sebesar bunga mawar merah di taman belakang stasiun kota. Aku hanya menemukan wajah merahmu tanpa tubuh, tanpa tangan, tanpa kaki, tanpa kelamin. Wajah merahmu saja

Langit berjalan menjadi merah. Malam yang merah semerah wajahmu. Tanganku pun memerah teriris amplop berisi wajah merahmu. Maka segera kuremas amplop merah itu menjadi burung nasar dan kulempar sejauh mataku memandang. Kubiarkan kau terbang di langit merah menuju bulan merah, planet merah, dan rumah para alien berkepala merah

Aku pun masuk ke kedalaman tempat tidurku mengantar tubuh menjemput pagi. Ketika kubuka tubuhku, kudengar teriak ayam jantan bersuara merah. Berteriak memanggil namamu. Seluruh binatang pagi berkicau memanggil namau dengan suara yang memerah. Dan kubuka jendela, kutatap langit pagi berbalur merah. Di balik awan yang memerah, ribuan burung nasar merah yang kuremas tadi malam terbang dengan kecepatan supersonic membentuk formasi tempur 4-4-2. Terbang melesat ke arahku. Satu persatu menembak tubuhku lalu mencincangnya. Dan kepalaku dipungutnya lalu diselipkan ke dalam amplop berwarna merah. Semerah cakrawala. Semerah wajahmu

Purbalingga, 23 Juni 2009

11 Desember 2009

NGAPAK-TAINMENT, WAJAH BARU BAHASA BANYUMASAN


Ada resah dalam diri penulis novel dan budayawan asal Banyumas, Ahmad Tohari. Keresahan yang dialami beberapa tahun belakangan ini saat melihat keluarga muda di Purwokerto, Jawa Tengah, mulai enggan menggunakan dan mengajarkan bahasa Jawa dialek Banyumsan yang ngapak-ngapak.

Keresahan itu memang cukup beralasan mengingat saat ini, penggunaan bahasa Banyumasan kurang menemukan gregetnya. Para keluarga muda lebih senang mengajarkan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa mbadhek kepada anak-anaknya. Sebab, menurut mereka, menggunakan bahasa Banyumasan identik dengan bahasa pelawak atau babu yang terdengar kasar di telinga dan tidak sopan dalam pergaulan.

Ngapak-tainment

Dalam bukunya Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak, Budiono Herusatoto mengatakan bahwa bahasa ngapak adalah istilah bahasa Jawa Banyumasan yang dilangsir oleh para priyayi wetanan yang berbahasa Jawa mbandhek.

Penggunaan bahasa dialek ini meliputi wilayah Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Tegal, Brebes, Pemalang, bagian barat Kebumen, dan bagian timur dan pesisir Cirebon (Indramayu).

Berbeda dengan penggunaan bahasa Banyumas di masyarakat terutama di keluarga-keluarga muda, penggunaan bahasa Banyumas di dunia intertainment akhir-akhir lebih banyak terdengar di telinga kita.
Penggunaan bahasa ngapak telah merambah ke berbagai macam segi industri hiburan yang lebih kreatif seperti musik, siaran radio, teater dan film. Selain itu juga merambah ke dunia fashion dan seluler.

Di industri musik misalnya, muncul nama Sopsan dan Bije Patik sebagai group musik yang mengusung lokalitas bahasa Banyumasan dengan memadukan genre musik yang bermacam seperti melayu, arabian, oriental, latin, dangdut, reggae, hingga rock n roll. Di industri film, bahasa Banyumas tidak dapat dianggap sebelah mata dengan ikut sertanya film dokumenter ”Metu Getih” dalam European Film Festival 2007 dan PPIA Converence: The Voice of the Future Leader Victoria University 2008.

Lalu di dunia teater, sering dipertunjukkannya pementasan teater yang mengangkat warna lokal Banyumasan seperti oleh kelompok teater Teksas, Tubuh, dan Janur. Sedang di munculnya kaos oblong “Bawor” dan “Dablongan” di dunia fashion mengidentikan jati diri Banyumas seperti Yogyakarta dengan Dagadu-nya atau Bali dengan Joger-nya. Di dunia seluler pun bahasa ngapak mulai digunakan dalam pengoperasian handphone seperti ”busek” menggantikan ”delete”.

Dan yang paling fenomenal adalah munculnya acara siara radio bertajuk “Curahan Hati dan Humor” (Curanmor) di sebuah radio swasta di Cilacap. Acara tersebut telah menjadi menu wajib yang harus didengarkan oleh telinga masyarakat Cilacap dan sekitarnya. Bahkan rekaman acara tersebut sudah menjelajah ke berbagai kota hingga luar negeri dengan cara diunduh lewat internet.

Semiotika Perlawanan
Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang bersifat dinamis. Dia tidak statis. Dia selalu berkembang mengikuti keadaan sosial masyarakatnya. Demikian juga halnya dengan bahasa Banyumasan. Dia mengikuti perkembangan penggunanya sesuai dengan kreativitas pengguna tersebut.

Dalam bukunya Teori Semiotika, Umberto Eco menyebutkan bahwa tanda berada diantara beberapa peristiwa, daya cipta sebuah tanda yang dimungkinkan oleh kode-kode menghendaki peristiwa baru tersebut bisa dinamai atau digambarkan. (2009: 237).

Munculnya fenomena ngapak-tainment merupakan sebuah tanda perlawanan dari masyarakat Banyumas terhadap tafsir budaya yang dahulu di bawah keraton yang menjajah bahasa Banyumas sebagai bahasa kelas dua hingga bahasa Banyumas memiliki posisi yang setara dengan bahasa yang diusung keraton. Perlawanan tersebut ditandai dengan munculnya bentuk kreativitas masyarakat Banyumas yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang cablaka dalam wajah dan warna baru.
Selain itu, lahirnya wajah baru bahasa ngapak merupakan bagian dari proses pencarian kembali jati dri masyarakat yang mulai kehilangan identitasny terutama bagi golongan muda.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa lahirnya ngapak-tainment berkaitan erat dengan motif ekonomi. Sebagian besar, bentuk dari kreativitas tersebut merupakan bagian dari strategi dalam memasuki budaya massa. Akan tetapi hal itu tidaklah berarti bahwa budaya Banyumas terancam oleh komersialisasi. Justru strategi yang diterapkan tersebut lebih menguntungkan bagi kelestarian kebudayaan Banyumas itu sendiri. Budaya Banyumas akan lebih mudah diterima oleh masyarakat karena itulah sebenarnya jati diri mereka.

Dengan adanya fenomena seperti ini, budaya Banyumas semakin menemukan eksistensinya sebagai budaya yang adi luhung. Dan keresahan Ahmad Tohari dapat terobati.Klilan

Dimuat di Kompas Jateng, Selasa 8 Desember 2009