08 Februari 2010

Esai Ryan Rachman Di Minggu Pagi, Minggu I, Januari 2010

MEMBUAT SEJARAH BARU SASTRA BANYUMAS

Banyumas telah menjadi salah satu sejarah dalam peta kesusastraan di Indonesia. Para pelaku sastra terdahulu telah mencatatkan namanya dalam sejarah sastra Indonesia bahkan internasional.

Kita mengenal Ahmad Tohari, Dharmadi, Badrudin Emce, Haryono Soekiran, Ansar Basuki Balasikh, Nanang Anna Noor, Tirto Wanto, Edi Romadhon, Sutarno Jayadiatma, Herman Affandi, Mas’ut, Ahita, Bambang Set, dan beberapa lagi yang terlebih dahulu berkarya.
Dulu mungkin kita juga pernah mendengar nama komunitas-komunitas sastra seperti Sanggar Pelangi, Himpunan Penulis Muda (HPM), Lingkar Seni dan Budaya, dan Kancah Budaya Merdeka yang aktif berkegiatan membangun geliat kesusastraan di Banyumas.
Sayangnya dokumentasi-dokumentasi karya mereka dan dokumentasi kegiatan mereka, antara yang tertata dengan rapih dengan yang tidak terdokumentasi lebih banyak yang tidak terdokumentasi. Tidak ada seseorang atau pihak tertentu yang mendokumentasikannya. Komunitas-komunitas di atas juga hingga saat ini tidak lagi terdengar suaranya dan tidak diketahui apakah mereka menyimpan dokumentasi karya dan kegiatan kesusastraan yang mereka lakukan.

Saat ini, untuk mendokumentasikan karya-karya para sastrawan terdahulu diperlukan sesuatu yang ekstra. Tenaga yang ekstra, waktu yang ekstra, dan tentunya biaya yang ekstra pula. Selain itu juga diperlukan orang-orang yang benar-benar bersedia dan rela untuk melakukan hal tersebut seperti H B. Jassin, atau Korrie Layun Rampan. Sebab, jika kita mengingingkan pemerintah daerah atau dewan kesenian yang melakukan hal tersebut sudah pasti kedua intitusi tersebut tidaklah bersedia melakukannya. Jadi jika kita dalam hal ini kaum muda mencari peta sejarah kesusastraan Banyumas pada kedua intitusi tersebut di atas sudah pasti akan nihil.

Sejarah memberikan sesuatu yang berharga bagi kita. Dari sejarah, kita dapat mengambil pelajaran tentang keburukan, kejelekan, dan kegagalan di masa lampau. Dari sejarah, kita dapat mencari sesuatu yang baru agar hal tersebut tidak terulang lagi di masa kini dan masa yang akan datang. Apapun bidang dan bentuknya. Apakah itu politik, ekonomi, sosial, budaya dan tentunya sastra dalam konteks ini.

Lalu bagaimana jadinya jika kita buta akan sejarah? Atau sejarah itu memang tidak ada? Kita tidak tahu sejarah kesusastraan Banyumas, dimana dokumen-dokumen kesusastraan berupa karya-karya para sastrawan Banyumas terdahulu atau dokumentasi kegiatan berkesusastraan terdahulu tidak tersimpan rapi? Maksudnya, kita sebagai sastrawan muda memang benar-benar tidak tahu atau katakanlah samar-samar mengetahui sejarah kesusastraan Banyumas.

Apakah kita akan mengarang dan mengira-ngira bagaimana perkembangan kesusastraan di Banyumas pada waktu dulu?

Tentunya kita tidak bisa begitu. Kita tidak bisa seenaknya saja mengarang sejarah kesusastraan Banyumas dahulu. Kita tidak bisa membuat kepalsuan terhadap sejarah kesusastraan terdahulu. Entah itu nama atau karya-karya sastrawan terdahulu.
Cara yang paling tepat adalah bagaimana kita, kaum muda, membuat saat ini sebagai sejarah yang dapat dikenang kelak. Itulah “pekerjaan rumah” yang harus kita pikirkan dan kerjakan sebaik mungkin. Dan tentunya sejarah yang kita buat haruslah lebih bagus dari pada sejarah terdahulu yang kita samar mengetahui kepastiannya.

Perkembangan sastra di Banyumas saat ini sangatlah luar biasa. Jika beberapa waktu baru dikatakan bergeliat, saat ini sudah bisa dikatakan bergerak dan hampir berlari. Di berapa tempat muncul kantong-kantong sastra yang selalu aktif bergerak dan berkarya menghidupkan sastra. Berbagai macam kegiatan apresiasi sastra dilakukan seperti dikusi, peluncuran buku sastra, pembuatan buletin sastra, bedah buku, hingga berkolaborasi dengan displin seni lain seperti lukis, musik, tari, patung, instalasi, dan teater.

Kantong-kantong sastra atau –lebih enaknya disebut sebagai- komunitas tersebut digawangi oleh para sastrawan muda.Dan dari situlah lahir penulis-penulis (sastrawan)muda yang karyanya tidak kalah dahsyat dengan para sastrawan Banyumas terdahulu. Karya-karya mereka telah mampu menembus berbagai media masa baik lokal maupun nasional serta tergabung dalam antologi bersama yang sifatnya nasional.
Di tangan-tangan gelisah mereka dan kawan-kawan sastrawan muda yang lainlah lahir karya-karya yang monumental yang nantinya akan menjadi sejarah bagi sastra Banyumas dan bagian dari sejarah kesusastraan Indonesia. Sebab kita sebagai generasi muda tidak perlu lagi mengagung-agungkan generasi tua. Meminjam kata teman saya, “Lampaui generasi tua yang manja dan malas…”

Bukan munafik atau berprasangka yang tidak-tidak, sebab masa depan sastra Banyumas ya terletak pada siapa lagi selain diri kita sendiri selaku generasi muda dan bukan pada nama-nama generasi tua yang sudah lupa bagaimana berkarya. Ya mbok?

Klilan.


Sanggar Sastra Wedang Kendhi, Februari 2009

03 Februari 2010

PENATUSAN, EMPAT PULUH TIGA

Ini rumahku yang ketiga. Rumah bercat hijau phosphor yang bersembunyi di sela gang Penas yang sempit dan penuh polisi tidur di salah satu ruas jalan Penatusan. Rumahku,
ah mungkin hanya anggapanku saja. Rumah kalian tentunya

Rahma, pernah kau lihat teriak memekak dari salah satu mulut kawanmu? Atau tangis yang sesekali di pipi, Yuni? Atau tawa tergelak di langit-langit putih, Ani? Atau
ketakutan yang menghantui di setiap sudut kamar, Eka? Dan cinta yang bersemayam dihatimu, Ayu?

Ah ini rumah kalian, tentunya. Bukan rumahku

Purwokerto, Mei 2009

01 Februari 2010

Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka 28 Januari 2010


ROMANTISME SOKARAJA MBIGAR

* Oleh Ryan Rachman

AKHIR Desember hingga awal Januari lalu, selama sepekan, sebuah event budaya digelar di Sokaraja, wilayah di Kabupaten Banyumas yang terkenal dengan sroto (soto) dan getuk gorengnya. Berbagai pertunjukan kesenian ditampilkan seperti pameran lukisan, instalasi, batik, teater, musik, dan film.

Kegiatan tersebut dibuka dengan orasi budaya oleh budayawan Banyumas Ahmad Tohari dengan tajuk ‘’Sokaraja punya!’’. Dalam orasinya, penulis novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk tersebut menyebutkan bahwa pada awalnya Sokaraja merupakan pusat kesenian di Banyumas terutama seni lukis yang terkenal hingga luar negeri. Selain itu, juga punya batik bercorak berbeda dari batik pada umumnya.

Pameran lukisan, instalasi, dan batik diikuti oleh 15 perupa dari Sokaraja, Purwokerto, Purbalingga, dan Yogyakarta yang juga menampilkan beberapa karya lama maestro perupa Sokaraja. Pertunjukkan teater menampilkan kelompok teater kampus seperti Teksas, Asal ,dan Corak dari Unsoed, teater Perisai dari UMP, UKMS, dari Unwiku, dan teater Parkir Indokom, serta teater Tanam Indonesia dari Pemalang.

Pemutaran film menampilkan karya-karya film indie dari Jaringan Kerja Film Banyumas (JFKB). Sedangkan pertunjukkan musik menampilkan perpaduan musik jalanan dari Song Strugle, underground dari Soul Saver, dan a musik puisi dari Kamu Ajo.

Selain itu juga mengadakan diskusi seni rupa yang menampilkan kurator seni rupa Kus Indarto, perupa Hadi Wijaya dan Drs Kamto, serta Dimas dari France Central Culture Jakarta. Adapun diskusi teater menampilkan Dosen Drama Turgi STAIN Purwokerto Arif Hidayat dan pegiat teater Rengganis.

Awalnya, para perupa Sokaraja membuat lukisan hanya sebagai hadiah kepada para meneer Belanda terutama mereka para pemilik pabrik gula Kalibagor, yang masih berdiri pada waktu itu. Tak heran jika lukisan Sokaraja sudah banyak yang tergantung di museum-museum Eropa, terutama di Belanda.

Setelah pabrik gula Kalibagor ditutup, lukisan Sokaraja terus berkembang pesat. Pada era 70-80an, Sokaraja menjelma menjadi sebuah pasar seni rupa yang terkenal hingga ke mancanegara.

Sepanjang ruas jalan Sokaraja banyak dijumpai lukisan yang berjajar sehingga pada waktu itu Sokaraja dinobatkan sebagai galeri lukisan terpanjang se-Asia Tenggara.

Secara keseluruhan lukisan yang dibuat oleh perupa Sokaraja memiliki kesamaan corak yang khas yaitu berupa pemandangan alam.

Lukisannya selalu menampilkan panorama alam seperti sawah, pegunungan, hutan, serta laut. Lukisan khas Sokaraja lebih dikenal dengan sebutan moii indie yang dalam bahasa Belanda berarti keindahan alam.
Bertahan Dalam kata lain, sejenis lukisan yang enak dipandang lebih pada sisi natural atau realis. Corak lukisan ini kemudian dibawa oleh para perupa di Jalan Braga Bandung dan bertahan hingga sekarang.

Tetapi hampir dua dasawarsa ini, lukisan tersebut seolah lenyap ditelan zaman seiring berkembangnya Sokaraja menjadi daerah perdagangan yang cukup ramai yang merupakan daerah satelit dari Purwokerto selaku ibu kota kabupaten.

Tercatat hanya dua buah galeri kecil di sepanjang jalan Sokaraja yang masih menampilkan lukisan-lukisan moii indie tersebut.

Lantas mengapa mbigar? Dalam bahasa jawa banyumasan mbigar bermakna liar, trengginas, gelisah, berahi, bergairah, dan sejenisnya.

Mengambil dari filosofi itulah para seniman muda Sokaraja mengadakan sebuah kegiatan sebagai wadah yang menampung luapan kegelisahan eksperimentalis dan kegairahan kreativitas mereka yang liar.

Sokaraja mbigar terasa berbeda dari event budaya yang sering diadakan di Banyumas pada umumnya. Dalam event ini menampilkan fusion antara berbagai macam seni kreatif dari berbagai genre.

Seperti misal memadukan antara seni rupa dengan musik underground atau teater modern dengan musik gamelan sehingga menghasilkan aroma yang mbigar.

Sokaraja mbigar merupakan serentetan gerakan kultural untuk berbagi kegembiraan dan kesenangan meski gerakan kultural masyarakat yang saat ini terus melemah dan menipis.

Selain itu, kegiatan tersebut merupakan sebuah tali silaturahmi antarseniman, baik di wilayah Banyumas maupun di luar wilayah Banyumas, dan mereka salng berdialektika bersama dalam ranah diskusi seni.

Selain sebagai menjadi titik balik atas romantisme sejarah Sokaraja sebagai pasar seni seperti era 70-80-an, Sokaraja mbigar juga sebagai bentuk semangat baru serta kegelisahan para seniman muda dalam menghadapi ingar- bingar kehidupan masyarakat.

Ke depannya, seperti Festival Kebudayaan Yogyakarta atau Festival Kesenian Cak Durasim di Jawa Timur, Sokaraja mbigar akan menjadi salah satu cultural development barometer di Banyumas sebagai sebuah eksistensi budaya yang dinamis yang akan mengembalikan kejayaan Sokaraja sebagai pasar seni yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Nantinya daerah ini tidak hanya terkenal dengan sroto dan getuk gorengnya, tetapi juga merupakan salah satu pusat kesenian di Banyumas pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. (10)

Ryan Rachman, penyair, bergiat di Sanggar Sastra Wedang Kendhi Purwokerto

Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka 28 Januari 2010